Sayangnya Kali Code Kurang Tereksplorasi di “Jagad X Code”

Jagad X Code

Ketika membaca judul film yang akan diputar TVRI pada Rabu (18/6), “Jagad X Code” aku menerka-nerka apakah maksudnya. Apakah ‘X’ yang dimaksud itu simbol kolaborasi, atau dibaca kali alias sungai? Rupanya yang benar adalah yang terakhir setelah aku membaca sinopsis ringkasnya.

Cerita pada film ini berlatar di Kali Code, sungai yang terkenal di Yogyakarta. Aku merasa antusias, biasanya ada kejutan di film-film yang membahas tentang kaum marjinal. Tapi sayangnya hingga film tamat, menjelang pukul 23.30 WIB, aku tak merasakan semangat dan kekhasan yang umum di kalangan penghuni pinggir sungai, apalagi ini bukan sembarang sungai, ini Kali Code.

Bagian awal cukup menjanjikan. Kamera menyoroti kemeriahan pada suatu hari di Kali Code. Sebagian warga berkumpul di pinggir sungai yang asri. Mereka gembira menyaksikan pertunjukan topeng monyet. Lalu muncullah sebuah kehebohan yang melibatkan tiga pemuda yang rupanya tiga tokoh utama dalam film ini. Mereka adalah Jagad (Ringgo Agus Rahman), Bayu (Mario Irwinsyah), dan Gareng (Opi Bachtiar).

Ketiganya pemuda pengangguran. mereka punya impian sederhana, Jagad ingin membelikan mesin cuci untuk ibunya, Bayu ingin punya toko kecil untuk berjualan buku dan majalah bekas, sedangkan Gareng yang paling polos hanya ingin membantu adiknya membuka salon kecantikan.

Mimpi mereka masih di awang-awang. Lalu ada harapan mimpi itu bisa terwujud lewat iming-iming hadiah besar Rp 30 juta apabila ketiganya mampu mendapatkan flash disk dari seorang wanita yang foto dan identitasnya diberikan ke mereka.

Trip Jagad X Code

Jagad, Bayu, dan Gareng beraksi (sumber: seleb. tempo.id)

Pemberi harapan itu adalah seorang preman separuh baya. Semsar (Tio Pakusadewo), namanya. Awalnya Jagad ragu tapi ketika melihat kedua temannya antusias dan ia sendiri berkeinginan mewujudkan mimpinya, akhirnya ia menyanggupi. Tapi apa itu gerangan flash disk? Mereka tak tahu barangnya.

Cerita Komedi yang Absurd dan Janggal

Ketika adegan mulai mengarah ke iming-iming hadiah untuk menemukan sebuah benda, aku sudah mulai menebak-nebak penutupnya. Sepertinya formula cerita seperti ini banyak digunakan di film-film. Bukan sesuatu yang baru. Meski demikian aku tetap ingin tahu bagaimana solusi dan penyelesaian film ini.

Sayangnya alur cerita dan nuansa komedinya tidak seperti ekspektasi. Ada beberapa adegan yang kurang masuk akal dan terkesan absurd. Seperti strategi meminjam ponsel seorang pemuda yang diperankan Desta, misalnya. Atau ketika tokoh perempuan bernama Regina (Tika Putri) yang dengan santainya menerima ajakan menginap di rumah pemuda yang baru dikenalnya. Hah ini rasanya aneh, apalagi kejadiannya di Yogyakarta. 

Adegan komedinya di beberapa bagian terasa janggal. Adegan Gareng yang tiba-tiba berjoget dengan semangatnya pada saat adegan puncak ini malah terasa mengganggu. Adegan lainnya yang juga janggal yaitu ketika penarik becak enggan dibayar karena menikmati aksi kejar-kejaran. 

Dan jangan ditanya penutupnya. Adegan penutupnya seperti diburu-buru dan coba diselesaikan sebisanya. 

Tika putri dalam jagad x code

Kenapa Regina dengan mudahnya menerima tawaran tiga pemuda yang baru dikenalnya? (Sumber: Nawalakarsa)

Kenapa Tahun Segitu Belum Tahu Flash Disk?

Ketika melihat tahun tayang “Jagad X Code” yaitu 2009, aku heran masak sih istilah flash disk pada saat itu belum umum, padahal di kawasan Kali Code juga ada warnet. 

Kalau misalkan hanya Jagad dkk yang tak tahu istilah tersebut karena kesan lugu melekat kepada mereka mungkin bisa dipahami, tapi kalau sampai pemilik tempat makanan yang diperankan Butet Kartaredjasa juga tak tahu apa itu flash disk rasanya aneh.

Ia malah merujuknya ke tokoh film populer jadul bernama Flash Gordon. Sebuah usaha melucu yang tidak berhasil. Kemudian ada lagi tokoh tak terduga yang rupanya malah tahu apa itu flash disk. 

Bagaimana dengan Karakterisasinya?

Ketiga pemuda itu digambarkan lugu. Jagad nampak yang paling cerdik di antara ketiganya. Bayu terlihat polos dan mengikuti saja yang dilakukan Jagad. Sedangkan Gareng yang paling tak tertebak. Ia nampak yang paling tak punya beban. Ia bisa sekonyong-konyong berbuat konyol, menari-nari dan bergoyang dengan jenaka. Ketiga kekonyolan tiga pemuda inilah yang kemudian dieksploitasi.

Sayangnya ketiga pemuda ini meski lugu, tapi kurang ‘ndeso’ dan ‘njawani’. Yang paling banyak dialognya adalah Jagad dan sebagai wong Yogya, dialek Ringgo kurang njawani dan kurang medhok. Ia masih nampak Sunda, belum terlihat Jawa-nya. 

Katakter tokoh lainnya terasa klise. Tio sebagai preman dan Ray Sahetapy sebagai ayah Regina memang tidak berakting buruk. Mereka juga punya andil menggerakkan cerita. Tapi karakter mereka klise, Tio menjadi preman yang benar-benar jahat dan Ray menjadi ayah yang memanjakan anak dengan kekayaan. Tidak terlihat perkembangan karakter di sini. Kemunculan seniman terkenal Yogya, seperti Djaduk, Butet, Didik Nini Thowok dan Yati Pesek  juga kurang menggigit. 

Kali Code Kurang Tereksplorasi

Ini sebuah misi pencurian oleh tiga pemuda lugu yang sebenarnya setting-nya bisa di mana saja. Penggunaan nama Kali Code di sini menurutku hanya tempelan, nuansa dan kekhasannya kurang tergali.

Padahal perkampungan Kali Code adalah perkampungan yang unik. Ia memiliki sejarah dari kampung kumuh kemudian menjadi perkampungan yang ditata menarik dan lebih nyeni.

Sudut-sudut asri di pinggir kali ini terlihat di awal film. Lalu tangga atau undhak-undhalan yang mengikuti kontur lokasi juga menarik. Demikian pula dengan mural yang nyeni. Tapi suasana dan kekhasan yang hanya ditemui di Kali Code kurang tergali. Bagaimana strata sosial dan konflik yang biasa dialami warga di sini tidak banyak disoroti. Di sini fokusnya hanya Jagad. Kebetulan saja ia tinggal di Kali Code. 

Nilai-nilai Plusnya

Meski ada beberapa kekurangan, film ini tidak buruk. Ia menghibur. Aku suka unsur lokalnya dengan dialog-dialog berbahasa Jawa. 

Gareng menari dengan semangat di jagad x code

Gareng menari dengan semangat di Jagad X Code (sumber: Indonesianfilmcenter)

Visual dalam film ini juga nampak realistis. Tak banyak pewarnaan sana sini untuk membuatnya terkesan lebih dramatis. 

Meski aku tak begitu suka dengan karakter Gareng yang agak berlebihan, tapi aku kagum dengan kelincahan ia menari diiringi musik perkusi. Gerakannya yang penuh semangat, enak dilihat. 

Oh ya satu lagi tatanan musik dalam film ini enak dinikmati. Penata musiknya adalah Djaduk Ferianto, seniman asli Yogya, yang di dalam film ini juga sempat muncul. Seniman berbakat ini meninggal pada November 2019.

“Sebuah komedi berlatar Kali Code yang latarnya kurang teresplorasi. Skor 6.5/10”.

Detail Film:

Judul: Jagad X Code

Sutradara: Herwin Novianto

Pemeran: Ringgo Agus Rahman, Mario Irwinsyah, Opi Bachtiar, Tio Pakusadewo,Ray Sahetapy, Tika Putri

Genre: Drama komedi

Skor: 6.5/10

Gambar cover: IMDb

~ oleh dewipuspasari pada Juni 18, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: