Sabtu dan Pekur

Jakarta

Dear Jakarta,
Duniaku di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan luar yang tak sampai satu kilometer, terasa sungguh berbeda. Di sini senyap. Yang ada hanya suara kucing berkelahi, meongan kucing jantan yang mengejar-ngejar betina, dan sesekali percakapan tetangga. Aku masih terisolasi dan merasakan nuansa karantina. Sementara di luar sana, suasana sudah seperti hari-hari ‘normal’. Ramai seperti biasanya. Dua sisi yang berbeda.

Kata orang-orang yang kukenal yang masih harus ke kantor setiap harinya, mereka ada rasa was-was naik kendaraan umum. Apalagi jika antrian panjang dan di dalam kendaraan penuh sesak. Apa yakin di kereta dan di bus Trans bisa diatur dengan jarak pada saat jam kerja? Padatnya seperti biasa.

Mereka cemas apalagi sumber penularan kini kebanyakan di saat mereka sedang dalam menuju dan kembali dari kantor. Mereka bisa menulari anggota keluarga, rekan satu kosan, dan siapa saja yang sedang tidak mengenakan masker dan tidak dalam kondisi fit.

Aku ingat cerita tentang tetangga kosan yang bernasib naas karena menerima makanan dari rekan satu kosnya. Rupanya rekannya positif Covid dengan tanpa gejala. Tak berselang lama ia pun positif. Sungguh kabar seperti ini bikin was-was.

Tapi banyak yang berkata tak perlu paranoid toh banyak yang sembuh. Tapi bagaimana jika suatu ketika rumah sakit begitu penuh?

Aku ingat ketika masih ngepos di rumah sakit di Surabaya. Waktu itu musim demam berdarah. Obatnya ada. Tapi ketika pasien membludak maka brankar pun tak cukup. Kamar juga penuh. Sehingga pasien akhirnya berada di lorong-lorong dan di area pendaftaran pasien. Ada pula yang kemudian meninggal, entah karena kondisinya sudah parah atau karena terlambat ditangani.

Aku suka nonton bioskop dan memang ingin menyaksikan beberapa film di bioskop. Tapi dengan kondisi seperti ini rasanya aku menunda dulu. Masih banyak buku belum kubaca. Masih banyak film yang belum kutonton. Acara ke bioskop bisa ditunda.

Aku bingung dengan Jakarta. Meski zona merah, tak sedikit kantor yang meminta karyawannya untuk selalu datang. Setiap akhir pekan tempat rekreasi seperti Puncak dan Bandung juga mulai kembali menjadi obyek wisata. Ya warga sudah merasa santai. Meski terjadi peningkatan kasus setiap hari, masyarakat mulai terlena, memakai masker pun seperti formalitas.

Di acara investasi yang kusimak beberapa hari lalu, situasi amburadul seperti ini bisa terus membuat ekonomi terpuruk. Sumber masalah sebaiknya fokus ditangani dulu. Ini tak jelas maunya, mana yang diprioritaskan. Masyarakat juga bingung mana yang dituruti.

Sungguh aku juga ikutan cemas. Apalagi sebentar lagi akan memasuki musim hujan.

Apakah kampung-kampung di Jakarta sudah memiliki sumur resapan dan selokan sudah dibersihkan? Apa kabar sungai-sungai di Jakarta?

Moga-moga tahun ini Jakarta aman dari banjir. Jika banjir terjadi maka masalah akan berlipat, banjir dan Covid.

Aku tidak menakuti-nakuti atau bersikap pesimis. Aku hanya ingin berpendapat tentang keresahanku.

Semoga Tuhan terus menjaga negeri ini. Masalah pandemi segera berlalu dan jangan juga terjadi bencana lainnya.

Gambar: Kompas

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 29, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: