“Tanah Cita-Cita”, Pembelajaran Nonkonvensional di Sebuah Negeri yang Indah

tanah cita-cita

Bima, wilayah di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, adalah salah satu daerah yang memiliki bentang alam yang menawan. Alih-alih mengeksploitasi keindahan panoramanya secara visual, film berjudul “Tanah Cita-Cita” mencoba menyuguhkan film bermuatan edukasi yang nonkonvensional.

Mahapatih Anton sebagai sutradara film memasukkan unsur sekolah alam dan kearifan lokal lewat tokoh utama seorang kepala sekolah bernama Rayhan (Dwi Surya). Dikisahkan dalam film berdurasi 84 menit ini, Rayhan memiliki sistem pembelajaran yang berbeda dengan umumnya. Belajar tak harus di kelas. Ia mengajak siswa-siswinya menuju hutan, ladang, dan tempat lainnya untuk belajar banyak hal.

Metode pembelajarannya ini ditentang guru muda dari Jakarta bernama Cita (Chintya Tengenas). Namun si guru muda tersebut terdiam ketika anak-anak lebih muda memelajari klorofil dan fotosintensis lewat belajar langsung dari mengumpulkan dan mengamati dedaunan di hutan.

Cara belajar yang non-mainstream ini juga mendapat perlawanan dari kepala desa dan beberapa warga. Namun, Rayhan bertahan dan berani untuk menunjukkan hasil dari pembelajarannya lewat pemahaman para siswa yang dirasanya lebih baik daripada mereka yang hanya belajar di bangku sekolah.

Kisah Bermuatan Edukasi dengan Unsur Komikal

“Tanah Cita-Cita” ibarat “Sokola Rimba” yang sama-sama memiliki sosok guru yang ulet dan sistem belajar yang berbeda, menyesuaikan dengan kearifan lokal. Hanya bedanya, “Tanah Cita-Cita” tak memiliki keterbatasan akan sarana-prasarana dan para murid seperti yang dialami sosok Butet di “Sokola Rimba”. Dalam “Tanah Cita-Cita” gagasan utamanya adalah bagaimana agar para murid lebih paham terhadap materi sekolah lewat belajar dan praktik langsung di alam.

Ada beberapa adegan dari sekolah alam yang menggelitik. Ketika mereka belajar tentang zat warna dalam daun, misalnya. Bima, salah satu siswa, menjelaskan tentang warna daun yang dikumpulkannya. Murid lainnya juga menyebutkan warna daun yang di genggamannya. Lalu Rayhan menjelaskan makna dari warna-warna tersebut lewat bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak.

Bagian ketika Rayhan mengajarkan bela diri khas masyarakat setempat dan memadukannya dengan belajar berhitung juga menarik disimak. Atau ketika ia mengizinkan si Bima untuk berlatih berkuda untuk mengikuti lomba pacuan yang membuat Cita mendebatnya. Hal-hal ini mungkin tak lazim di sekolah pada umumnya. Inilah menurutku kekuatan sebuah film. Film dapat menjadi media untuk menyampaikan sesuatu gagasan, termasuk ide berkaitan dengan metode edukasi. Sekolah alam memang bukan sesuatu yang baru, namun jenis sekolah yang memadukan pembelajaran di kelas dan alam tidak banyak. Film ini mencoba menunjukkan hal-hal yang belum banyak diketahui oleh masyarakat.

tanah cita-cita

Memang film ini masih memiliki keterbatasan. Sisi minusnya ini terutama dari sosok kepala desa yang coba ditampilkan sebagai sosok antagonis. Sosok kepala desa dan dua bawahannya ini malah terasa komikal dan terasa dibuat-buat. Mungkin niatnya untuk memberikan unsur komedi, tapi malah jadi bumerang dan terasa berlebihan.  Minus yang minor adalah dari kualitas suara. Suara Rayhan dan tokoh lainnya kadang-kadang kurang jelas didengar, berbanding terbalik dengan suara riuh-riuh.

“Tanah Cita-Cita” memiliki potensi dengan gagasannya tentang metode edukasi yang non onvensional. Visual panorama alam Bima dengan lomba pacuan kudanya memperkuat cerita yang juga mencoba menonjolkan kearifan lokal.

gambar dari: YouTube/Mind8TV

 

 

~ oleh dewipuspasari pada September 4, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: