Tunggu, Mengapa Film Horor Kini Makin Sadis?

Satu hari dalam minggu kemarin aku menyaksikan dua film horor berturut-turut. Satunya film Hollywood yang merupakan reboot dari sebuah tokoh cerita yang populer. Satunya lagi adalah horor Indonesia. Ada satu kesamaan di antara keduanya. Menarik tapi sayangnya unsur di dalamnya begitu sadis. Membuatku bertanya-tanya, apakah level kesadisan dalam film horor belakangan ini naik level?
Aku memang bukan penikmat gore alias horor yang berdarah-darah. Aku lebih penggemar horor klasik yang lebih kental unsur supranatural dan atmosferik.
Mungkin karena aku berkaca dengan pengalamanku sendiri. Gangguan supranatural bisa begitu mencekam dan ini bisa dibangun dari berbagai unsur. Ketika unsur ini dibangun perlahan, atmosfernya sudah bikin tak nyaman. Bahkan sebuah rumah yang indah pun bikin tak nyaman meski hari masih siang.
Dalam film Weapons, misalnya. Unsur misterinya sudah tertata dengan baik. Namun, penonton kemudian dikejutkan dengan adegan yang membuat mual karena begitu brutal. Apalagi adegan brutal itu melibatkan tokoh anak-anak. Aku suka unsur misterinya, tapi aku tak tahan dengan kehadirannya. Tubuh manusia jadi seperti boneka saja.
Dulu ketika masih jadi kuli tinta pernah ada kasus mutilasi. Waktu itu aku mutasi ke divisi kesehatan dan rumah sakit yang sering bersinggungan dengan pos kriminal.
Rekan yang ada di pos kriminal menunjukkan foto penemuan korban di TKP. Kondisinya begitu mengenaskan. Pelaku sudah tak seperti manusia, melainkan hewan buas.
Aku langsung mual dan tercekat. Nyawa manusia seolah-olah begitu mudah dipermainkan. Karena alasan dendam bisa mendorong seseorang bisa seperti itu, mengerikan.
Aku lupa persisnya. Yang pasti saat itu aku tak ingin terlihat dengan kasus itu. Untunglah pihak redaksi di tempatku bekerja punya kebijakan tak merilis gambar-gambar seperti itu ke khalayak umum.
Mungkin sejak itu aku menghindari film gore. Aku sudah pernah menyaksikan korbannya secara nyata.
Kembali ke dua film yang kemarin kutonton maraton, film horor misteri ini sudah menarik secara atmosferik. Sejak awal penonton sudah dibuat tak nyaman.
Sayangnya kemudian adegan brutal mendominasi di pertengahan. Aku sampai memejamkan mata. Hingga ada satu adegan yang membuatku begitu mualnya. Astaga. Adegan sadisnya terasa berlebihan.
Apakah setan dan ruh jahat bjsa berbuat brutal hingga melenyapkan manusia? Dalam kejadian nyata hal ini bisa jadi mengundang perdebatan. Namun, aku pernah mengalami kejadian tak masuk akal yang bisa membuatku terluka. Juga ada cerita nyata dari orang-orang sekitar seperti didorong dari tangga yang bisa menyebabkan luka serius. Ada juga cerita di mana ruh jahat bisa menciptakan ilusi atau suara-suara yang bisa menyebabkan kematian. Entahlah mungkin mereka bisa mencelakai manusia secara tidak langsung.
Setelah menyaksikan film tersebut, tak lama aku melanjutkan menonton film Indonesia. Genrenya horor juga. Adegan pembunuhan oleh sosok ruh juga tak kalah brutalnya.
Namun karena aku sudah menyaksikan adegan-adegan brutal pada film sebelumnya, aku merasa agak mati rasa. Reaksiku tak separah pada film pertama.
Seharusnya ada peringatan ya di film bahwa film ini memiliki rating 17+ dengan unsur kekerasan dan kebrutalan level tinggi. Oleh karena tak semua orang dewasa tahan dengan film yang mengandung kekerasan.
Menurutku film horor atmosferik lebih terasa menarik dan mencekam karena meninggalkan kesan yang kuat hingga kredit berakhir. Oleh karena apabila kekerasan ditampilkan secara berlebihan maka hanya seperti tontonan sensasional dan kehilangan unsur ketakutan yang tumbuh perlahan.
