Tercekat Baca Dua Bab “Bagaimana Si Miskin Mati”

Minggu siang ini begitu cerah. Langit berwarna biru muda dengan awan-awan putih seperti kapas. Aku memutuskan membaca lima belas menitan. Kupilih buku George Orwell di iPusnas. Bagaimana si Miskin Mati, judulnya.
Judulnya begitu provokatif dan menggugah. Buku ini merupakan kumpulan esai Orwell yang pernah diterbitkan.
Aku pun mulai membaca.
Selesai membaca dua bab buku tersebut, aku merasa tercekat. Isi bab pertama adalah tentang hukum gantung bagi tahanan mati di mana seekor anjing menunda proses hukuman karena tiba-tiba ia berlari ke lapangan, menyalak dan mendekati tahanan.
Sementara Orwell yang menjadi perwira masa itu di Burma merasa tak tahan dengan kondisi ini karena baginya begitu menyakitkan dan menyayangkan bagaimana nyawa seorang manusia yang masih kuat dan sehat kemudian dilenyapkan begitu saja. Dan, si tahanan terus berdoa menyebut Sang Rama hingga nafasnya telah lenyap.
Namun, Orwell mengaku bingung dengan suasana hatinya saat itu. Ia sedih tapi juga merasa lega bersamaan ketika akhirnya si narapidana telah menjalani hukuman gantung. Ia ikut tertawa dengan canggung, melepas perasaan campur aduk dan ketegangan saat itu.
Dalam bab kedua ia bercerita bahwa ia merasa membenci setengah mati kehidupannya sebagai salah satu penjaga imperalis Inggris di Burma. Ia yakin posisinya itulah yang membuat warga Burma membencinya dan itu wajar. Padahal sejatinya ia mendukung apabila rakyat Burma memberontak mempertahankan kemerdekaannya.
Hingga suatu ketika ia mendapat penghormatan dan dukungan ketika ia ditugaskan menjinakkan gajah yang mengamuk karena sedang masa birahinya. Tugas yang berat. Ia tak ingin melakukannya tapi ada sesuatu yang membuat ia akhirnya melakukan perbuatan yang baginya rendah, ibarat membunuh manusia.
Ia mendapat dukungan, sesuatu yang tak diperolehnya selama ini. Ia juga mendapat sejumlah pembenaran karena sang gajah membunuh dan merusak banyak bangunan. Namun dalam hati kecilnya ia tak ingin dan merasa berdosa besar. Sayangnya ia harus melakukannya karena itu adalah perintah dan tugas.
Ketika membaca bab ini aku rasanya tak sanggup melanjutkan. Aku bisa membayangkan bagaimana sang gajah yang terpojok dan tak bisa membela dirinya. Duhh kasihan. Apalagi sang gajah tak serta-merta meninggal. Ia tersiksa oleh penderitaan karena luka tembak. Ooh sedihnya
Aku tercekat dan kemudian menghentikan kegiatan membacaku ini. Aku perlu waktu karena ini bukan kisah fiksi. Ini jauh lebih bikin sedih dan tragis.
Sumber gambar: goodreads
