Dua Bayi Kucing Itu Tak Bertahan

Si mungil dan si coki

Hujan deras turun semalam. Bunyinya terdengar dari dalam rumah, menentramkan dan membuatku ingin segera bergelung di kamar. Tunggu hari ini rasanya ada yang berbeda. Aku tak mendengar suara meongan. Aku mencarinya, induknya lagi-lagi memindahkan anaknya. Ketika kutemukan, keduanya sudah tak bernyawa.

Kalian mungkin ada yang pernah baca ceritaku tentang induk kucing yang mengalami blue syndrome. Ya, ia si Coki alias si Kecil.

Ia kucing yang nakal dan tak menyenangkan. Aku mencoba bersikap sabar kepadanya, tapi wajahnya seperti menantang. Sudah beberapa kali aku dibuat kesal olehnya dan kadang-kadang terpikir untuk membuangnya.

Coki kucing liar yang waktu kecil hadir di halaman bersama kakak dan induknya. Ia kubiarkan datang dan pergi bersama keluarganya. Hingga kemudian aku lupa bagaimananya, si Coki pun tinggal sendirian. Ia makan bersama Nero dan kadang-kadang masuk ke rumah.

Coki pun kemudian dewasa dan punya anak. Pada kelahiran pertamanya ini ia hanya mengeong-ngeong. Anaknya sama sekali dibiarkannya. Aku bingung dengan sikapnya. Kumasukkan anak-anaknya dalam dus yang hangat. Tapi tetap tak menggubrisnya. Kucoba kurawat semampuku, tapi mereka tak bertahan.

Saat itu kupikir ia blue syndrome. Tapi tidak. Ia mungkin induk yang egois.

Kelahiran keduanya di boks kucing. Ia tak berupaya menggigit tali kedua anaknya sehingga anak-anaknya sulit bergerak. Ia tetap berdiam di boks, mengeong-ngeong, sementara anak-anaknya didiamkannya. Ia galak ke semua kucing yang lewat di dekatnya.

Anak-anaknya tak bertahan hidup. Ketika kubersihkan boks terkejut, aku terkejut. Rupanya ada satu lagi bayi kucing di sana. Selama ini Coki menindihnya hingga ia tak bernyawa. Kukuburkan semuanya dan aku kemudian merasa ada yang janggal pada kucing itu.

Coki bukan induk yang baik. Ia juga kucing yang nakal. Kadang-kadang aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi padanya hingga ia sekejam itu. Waktu kecil ia dirawat induknya. Memang ia tak benar-benar kupelihara seperti Nero dan lainnya. Tapi ia cukup makan dan sesekali juga kuelus-elus hingga ia berbuat nakal.

Ia suka iri ke Mungil Jr alias Ponoc hingga aku sering kesal kepadanya. Ia menyerang Mungil dan kadang-kadang mengejarnya hingga Mungil ketakutan.

Ketika ia kembali melahirkan, anak-anaknya berjatuhan dari atap dan tewas. Ada satu yang selamat dan ia tak pedulikan. Akhirnya kutitipkan ke Mungil. Mungil yang saat itu juga beranak, dengan sukarela menyusuinya.

Malapetaka terjadi ketika ia menginginkan anaknya. Kupikir jiwa kasih sayang induk akhirnya hadir pada dirinya. Terlihat ia mau berdekatan dengan anaknya, bahkan mau tidur bersamanya. Si kecil itu kemudian sakit dan ia tak mau menjilatinya atau menyusuinya hingga si anak kucing itu pun kemudian tewas.

Lagu lama itu berulang kembali
Ini kelahiran keempat. Aku sudah was-was. Aku membuat perjanjian dengan si Coki. Jika ia merawat anaknya dan jadi ibu yang baik, maka aku juga akan menjaganya. Kusediakan susu, vitamin, dan makanan kucing basah untuknya. Ia juga boleh tidur dalam rumah dalam boks yang hangat.

Lagi-lagi anaknya ditelantarkan. Kupotong talinya, kubersihkan, dan kucoba memberinya minuman dan campuran susu, telur dan mentega. Induknya terus kudekatkan ke si anak. Lalu kulihat si Coki mau bersama mereka, kedua bayinya. Hingga tiga hari berikutnya kulihat si Coki sesekali bersama bayi-bayinya. Hingga kebiasaan jahatnya kumat. Ia pindah-pindahkan si anak, lalu ditelantarkannya. Setiap kali dipindahkan, kucari mereka dan kukembalikan lagi ke boksnya. Hingga aku lalai.

Baru ketika tak kudengar lagi meongan mereka baru ku bertindak mencarinya. Dan ketika kutemukan mereka di laci kamar tengah, aku menyesal. Satu anak kucing mulutnya menganga, sepertinya kehausan. Satunya agak bergelung, mungkin kedinginan.

Aku merasa kesal bukan kepalang ke induk kucing tersebut. Dia induk yang egois.

Kedua bayi kucing itu tadi dimakamkan bersama saudara-saudaranya dulu yang juga ditelantarkan induknya. Semoga mereka bahagia di alam sana.

~ oleh dewipuspasari pada September 15, 2020.

2 Tanggapan to “Dua Bayi Kucing Itu Tak Bertahan”

  1. Ya ampun, aku juga pernah punya pengalaman kayak gini. Pernah kucing di rumah melahirkan, tapi kayaknya dia belum siap punya anak. Jadi pas anaknya lahir dan ngeong2, dia biarin aja. Nggak dijilat atau disusuin. Mereka mati tak lama setelah lahir, ada satu yg bertahan cuma tiga hari. Kelahiran kedua, lumayan mau ngurus, tapi dipindah-pindau terus. Sepertinya induk kucing yg sering mindah-mindahin anaknya, anaknya rentan mati ya. Aku sampai stres ngurus mereka, kasian liat anaknya, matanya aja belun kebuka. 😔😔

    • Dulu aku merasa wajar lihat induk kucing merawat anak-anaknya. Kini jadi salut, rupanya nggak semua induk kucing punya jiwa kekucingan (eh bahasa apa ya), rasa kasih sayang ke anak-anaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: