Becak

Becak
Baru kuperhatikan di sekitar rumah di kampung halamanku sudah tak ada lagi becak yang mangkal. Biasanya ada dua becak di sana dengan wajah-wajah yang akrab denganku. Kini entah ke mana mereka mengadu nasib.

Dulu becak adalah salah satu mode transportasi andalan. Belum banyak angkutan umum masa aku kecil. Ada colt tapi rutenya terbatas dan jarang ada. Maka kami pun mengandalkan becak.

Kami naik becak ke tempat wisata dan ke pusat perbelanjaan. Kami naik becak nonton karnaval.

Jika hujan maka kami juga terlindungi oleh becak. Penarik becak akan menutupkan semacam plastik tebal menyelubungi bagian depan.

Ada kalanya penarik becak kesulitan bila jalannya menanjak. Maka bila naik becak dengan ayah, maka ia pun turun dan membiarkanku yang masih kecil tetap naik di dalamnya. Ia tak tega membiarkan penarik becak kehabisan nafas mengayuh di jalan yang cukup menanjak.

Seingatku sepuluh tahun ke belakang masih ada penarik becak di dekat rumah. Lima tahun lalu juga seingatku masih mangkal, apakah aku tak memperhatikan mereka sehingga aku tak sadar mereka telah lama meninggalkan daerah ini.

Mereka rata-rata dari kampung yang jauh. Mengadu nasib jadi penarik becak, beberapa bulan sekali baru pulang. Mereka tak punya tempat tinggal. Biasanya mereka tidur di dalam becak mereka. Untuk mandi, biasanya mereka menumpang di masjid.

Ayahku masih suka menggunakan jasa mereka. Ia kasihan kepada mereka. Ia minta diantarkan ke kantor pos atau ke stasiun. Ia tak pernah menawar dan malah memberikan tambahan kepada mereka.

Kapan aku terakhir kali naik becak? Seingatku tahun 2016. Waktu itu aku naik becak motor yang ada di stasiun. Ia mengantarku ke mana saja, ke Museum Bentoel dan ke Museum Musik, lalu kembali ke rumah.

Jaman telah berubah. Becak mungkin sudah jadi mode transportasi yang layak dimuseumkan.

Aku jadi masa-masa di Surabaya dulu. Jika aku pulang kemalaman, rute angkot pun terbatas. Tinggal aku penumpang terakhir dan mereka biasanya menurunkanku sebelum rute finish mereka. Alhasil kosanku masih jauh dan aku melanjutkan perjalanan dengan naik becak.

Aku suka melamun di dalam becak, mengarungi jalanan yang sepi di mana sebagian besar penghuninya sudah terlelap. Aku memikirkan akan ke mana aku besok mencari berita.

Aku merasa sangat tertolong oleh becak pada masa itu yang mau mengantar ke mana saja dan jam berapa saja. Pernah suatu ketika aku sungguh kemalaman. Tempat mangkal becak nampak sepi dan remang-remang.

Kulihat ada yang sedang tertidur di dalam becaknya. Ia kaget ketika kubangunkan. Ia tergagap melihatku, seperti melihat setan. Tapi ia kemudian mengenali wajahku, sebagai penumpang yang telah beberapa kali menggunakan jasanyam

Untungnya waktu itu aku masih pemberani. Naik becak hampir tengah malam seorang diri.

Kuucapkan terima kasih kepada para pengayuh becah. Semoga kehidupan mantan pengayuh becak kini semakin membaik.

Gambar dari Good News from Indonesia

~ oleh dewipuspasari pada April 11, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: