Bubur Ayam dan Jalan Malam

Bubur ayam
Sabtu malam, jalanan Jakarta mulai padat. Untungnya tak seramai jalanan menuju Bogor, yang sejak siang sudah sesak. Aku juga ikut menikmati malam, jalan kaki di jalur pedestrian. Lalu singgah menikmati semangkok bubur ayam.

Kontras dengan jalan yang sarat kendaraan, area pejalan kaki begitu lengang. Sementara kiri kanan banyak bangunan tua yang terasa senyap karena sudah malam.

Area makan di kawasan Cikini tetap semarak. Wah aku sudah lama tak ke kawasan ini, mungkin sejak Agustus 2019 ketika dibenahi jalur pedestrian. Trotoarnya jadi lebar, enak buat jalan. Sayangnya masih ada saja kendaraan roda dua yang melaju di trotoar, membahayakan keselamatan dan mengganggu kenyaman pejalan.

Cikini termasuk area yang sarat dengan makanan. Ketika malam tiba, semakin banyak pedagang makanan.

Akhirnya aku singgah di bubur ayam. Bukan yang bubur ayam terkenal, aku pilih yang di seberangnya, cari yang pengunjungnya agak jarang.

Hadirlah semangkuk bubur ayam. Dengan isian daun bawang, bawang goreng, keripik melinjo, dan keripik melinjo. Kutambahkan sate telur puyuh dan ati ayam. Minumnya teh botolan.

Bubur ayamnya enak. Gurih dan porsinya juga pas, tak kebanyakan. Pengamennya juga nggak banyak. Semangkuk bubur ayam rupanya mengenyangkan untuk makan malam. Aku merasa puas.

Semangkuk bubur ayam dengan harga enam belas ribuan. Dengan perut kenyang aku kembali menekuri trotoar.

~ oleh dewipuspasari pada Mei 22, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: