Uang Kripto, Saham, dan P2PL: Ragam investasi yang Masih Populer

Uang
Apabila memperhatikan percakapan kalangan gen Z, ada sesuatu yang berbeda bila dibandingkan generasi yang lebih tua. Mereka lebih melek soal literasi keuangan. Mereka begitu semangat berinvestasi, dari yang berisiko rendah hingga berisiko tinggi.

Ketika baru bekerja aku juga masih berani melakukan diversifikasi tabungan dan investasi. Waktu itu mungkin portofolio risikoku adalah menengah ke tinggi. Tapi lambat laun, apalagi setelah menikah, akhirnya portofolioku berubah ke risiko menengah ke rendah. Aku was-was apabila uang tabungan yang kukumpulkan nilainya turun naik, mending stabil meski penambahannya tidak besar.

Dulu aku main saham, bahkan suka trading tiap hari. Aku sudah merasakan suka dukanya, bagaimana untung beli saham tertentu dan apes ketika saham tak keburu dilepas ketika harganya nyungsep.

Aku dulu emosian, deg degan setiap harga saham turun. Akhirnya takut senam jantung tiap hari, akhirnya aku jual semua saham dan hanya berkutat di obligasi dan reksadana.

Mau kembali ke saham masih mikir-mikir. Padahal pasangan bekerja sebagai analis saham. Mungkin seandainya aku beli yang bluechip saja dan tak kuapa-apakan.

Oleh karenanya ketika sekarang saham jadi tren, aku merasa hal itu menarik. Wah anak muda sekarang pintar mengelola emosi. Literasi investasi di kalangan muda juga pastinya lebih baik.

Selain saham yang masih ngetren adalah uang kripto, terutama bitcoin. Dulu teman-teman di kantor membelinya dengan harga jutaan dan sekarang nilainya sudah ratusan juta perkoinnya. Gokil. Mereka untung berkali-kali lipat meski sekarang harganya mulai menurun.

Yang kasihan yang sekadar ikut-ikutan dan baru membelinya belakangan ini. Mereka tak menyadari ‘the winter is coming’, harga beberapa uang kriptp terus menurun. Entah bagaimana nasib bitcoin dan uang kripto lainnya pada masa mendatang? Bila terus dibiarkan kuatirnya juga nilainya makin nyungsep, sehingga perlu analisis yang tepat apakah akan dipertahankan atau dilepas.

Satu lagi investasi yang juga masih ngetren adalah P2PL atau singkatan dari Peer to Peer Lending. Ini adalah platform yang mempertemukan antara peminjam dan investor. Wujudnya bisa pinjaman buat modal UMKM, buat modal pertanian dan perikanan, dan lain-lain.

Besarannya bergantung platform-nya. Ada yang bisa menjadi investor mulai Rp25 ribu ada juga yang satuan dan kelipatannya, misal untuk ikut berinvestasi di tanam jagung perinvestor dikenakan Rp 2 juta untuk periode dua tahun dengan yield sebesar 15 persen setahun. Ada yang yield-nya dibayar bulanan juga ada yang pertahun atau juga sekaligus. Aturannya harus dibaca karena bisa berbeda-beda tiap pinjamannya.

Misalkan ia menaruh Rp 2 juta dengan yield 15 persen/tahun maka pertahunnya ia mendapat Rp300 ribu pada tahun pertama dan Rp2,3 juta pada tahun kedua (modal plus yield). Biasanya ada potongan asuransi dan biaya layanannya bergantung dari term-nya.

P2PL ini tak selalu menguntungkan. Bisa jadi peminjam gagal bayar sehingga modal kita juga hilang. Pihak pengelola platform biasanya juga tak bisa apa-apa bila peminjam menghilang dan kabur setelah meminjam. Ada banyak kasus kan penerima pinjol lenyap tak bisa dihubungi dan teman-temannya penerima pinjaman itu yang diteror? Untuk pertanian mungkin masih wajar gagal bayar karena bertani juga bisa rugi misal serangan hama, bencana alam, atau harga jatuh, tapi bakal nyesak bila penerima pinjaman menggunakan dana investor itu untuk keperluan pribadi dan kabur.

Oleh karena P2PL ini risikonya sangat tinggi maka juga berhati-hatilah. Risiko besar meski dapat untungnya juga lumayan. Mending pilih P2PL yang terdaftar di OJK dan pilih proyek yang aman untuk didanai.

Saham, P2PL, dan uang kripto adalah contoh investasi dengan risiko tinggi. Sebaiknya gunakan uang dingin atau yang tak terpakai dalam tanda kutip, bukan uang pinjaman dan juga bukan uang yang digunakan untuk kebutuhan hidup. Mengapa? Karena investasi di produk tersebut riskan akan risikonya.

Investasi lainnya yang tak kalah berisiko adalah investasi langsung ke bisnis, misal menanam saham di usaha kawan atau saudara dengan berbagai keuntungan. Ada lagi investasi valas (forex) dan investasi komoditas yang volatilitasnya tinggi.

Dua jenis investasi terakhir ini aku belum pernah mencoba dan tak banyak mengetahuinya. Tapi jika melihat keuntungannya memang sangat tinggi tapi juga bisa nyungsep dalam waktu singkat.

Kalau aku sendiri sekarang cenderung main ‘aman’. Paling-paling di reksadana dan obligasi. P2PL porsinya kecil saja karena sangat riskan. Entah apakah suatu hari aku kembali main saham, lihat-lihat dulu deh.

Gambar: pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Mei 31, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: