“Humba Dreams”, Sumba, Sinema, dan Wasiat Ayah

Humba Dreams
Bentang alam Sumba memang menawan. Daerah ini juga memiliki kultur dan tradisi yang kental dan khas. Dua hal ini potensial untuk diangkat ke layar lebar. Tak heran bila Miles Films kembali membuat film berlatar Sumba. Setelah “Pendekat Tongkat Bambu” dan “Kulari ke Pantai”, kemudian giliran “Humba Dreams”.

Ini adalah sebuah film keluarga yang kukuh memegang adat dan tradisi. Keluarga dan tradisilah yang akhirnya membuat Martin (JS Khairen) kemudian bersedia untuk pulang ke kampung halamannya di Sumba, padahal tugas kampusnya yang ada di Jakarta sedang mendekati tenggat waktu.

Ayahnya telah meninggal tiga tahun lalu. Namun, almarhum belum bisa dimakamkan. Perlu uang dalam jumlah besar untuk prosesi upacara pemakaman. Namun, menurut tetua adat setempat, ini waktu yang tepat bagi Martin menerima warisan ayahnya. Mendiang ayahnya hadir di mimpi memberitahukannya ada pesan yang penting bagi warga di antara barang-barang warisannya.

Meskipun Martin berkuliah di bidang film, ia kebingungan mendapati warisan ayahnya yang di antaranya berupa cartridge film. Ia harus diolah atau dicuci dulu sebelum gambarnya bisa tampil. Ia ingin membawanya ke Jakarta, namun ibunya bersikeras ia menyelesaikannya di Sumba sesegera mungkin.

Humba Dreams
Mulailah petualangan Martin mencari tempat yang bisa membantunya mengolah film mentah tersebut. Ia juga mencari lewat internet, bahan-bahan yang bisa digunakannya untuk mengolah cartridge film tersebut.

Petualangannya membawanya ke teman masa sekolahnya yang kemudian bekerja menjadi penyiar di radio, Jean Luc (Ephy Pae). Ia bercerita peran radio sangat penting di daerah, membantu memberikan informasi dan menyebarkan informasi seperti orang hilang dan sebagainya. Ia juga menemukan sebuah penginapan yang pengelolanya sangat ramah. Di sana ia bertemu dengan Ana (Ully Triani), yang suaminya hilang.

Film ini tergolong berdurasi medium, hanya berkisar 75an menit. Ia banyak menggunakan teknik pengambilan gambar dari jauh ketika menceritakan perjalanan Martin, sehingga panorama Sumba nampak membentang luas, juga menonjolkan suasana yang sepi, jauh dari keramaian.

Humba Dreams
Film ini banyak menggunakan pemain lokal, meskipun juga ada pemain ibukota. Ully di sini tampil memikat sebagai Ana yang pendiam dan nelangsa karena suaminya hilang tanpa kabar. Sedangkan dialog antara Martin dan Jean enak diikuti seperti obrolan kawan lama yang kembali bertemu.

Kultur Sumba kental di sini dari rumah-rumah khas Sumba, pemain musiknya, tari-tarian, dan prosesi adat. Seperti halnya dalam adegan di Marlina, jenazah harus menunggu dana besar untuk dilakukan upacara pemakaman.

Dialog tak banyak berseliweran dalam film yang naskahnya ditulis dan disutradarai oleh Riri Riza ini. Secukupnya saja. Gambar-gambar bentang alam Sumba yang luas menghadirkan keindahan dan kesunyian. Sesuatu yang kontras ketika dibenturkan dengan kota dan desa tempat Martin tinggal.

Film ini berhasil meraih enam nominasi piala Citra pada FFI 2020, termasuk kategori sutradara dan film terbaik. Namun ia hanya berhasil membawa pulang satu piala untuk Aksan Sjuman sebagai penata musik terbaik. Film ini juga berhasil meraih CJ Entertainment Award di Asian Project Market,  Festival Film Internasional Busan 2017 dan juga Piala Maya 2019. Film ini mulai tayang di Netflix 9 Juli 2020.

Humba Dreams
Ini adalah sebuah cerita anak yang kemudian menemukan jati dirinya dan mengalami pendewasaan lewat pesan dalam benda warisan ayahnya dan petualangannya untuk menyelesaikan masalahnya. Sebuah cerita yang tak biasa dengan kultur tradisi Sumba yang kental.

Gambar dari Netflix dan IMDb

~ oleh dewipuspasari pada Juni 18, 2021.

2 Tanggapan to ““Humba Dreams”, Sumba, Sinema, dan Wasiat Ayah”

  1. Saya berdomisili dan bekerja di Sumba khususnya Sumba Timur. Ada rencana nonton bareng film ini kalau pandemi berlalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: