“Book of Love” Romcom yang Kurang Asyik

Book of love
Genre rom-com alias komedi romantis masih suka kutonton karena biasanya ringan dan bisa bikin senyum-senyum. Semalam aku menonton film anyar yang dibintangi Sam Claflin dengan genre tersebut berjudul “Book of Love”. Namun alih-alih mendapat tontonan yang menarik, aku cuma bisa tertawa menyaksikan kekonyolan yang ada dalam film ini.

Memang aku memutuskan berlangganan sebulan KlikFilm karena  penasaran dengan film Sam Claflin ini. Sejak ia tampil di film “Love, Rosie” (2014) dan “Me Before You”, aku suka bila ia muncul di film komedi romantis.

Cerita “Book of Love” berfokus pada sosok penulis Inggris bernama Henry Copper (Sam Claflin). Ia sosok pengarang yang idealis. Ia menulis buku berjudul “The Sensible Heart” selama lima tahun. Namun sayangnya buku tersebut tidak laku. Hanya terjual tiga buku. Isinya tentang cinta yang tidak melulu hubungan intens dua insan, tapi lebih ke perasaan.

Namun penerbitnya kemudian memberinya kejutan. Bukunya sukses besar di Meksiko. Ia terjual hingga lebih dari 1 juta kopi. Ia pun meminta Henry untuk melakukan tur mempromosikan bukunya dan menjumpai para pembaca setianya.


Book of love
Di sana ia disambut Maria Rodriguez (Veronica Echegui) si penerjemahnya yang bermobil bersama anaknya, Diego, dan kakeknya. Ketika datang di acara jumpa pembaca pertama ia kebingungan. Ada poster dua insan yang begitu intim, lalu semuanya pengunjung perempuan melihatnya dengan tatapan menggoda. Ia juga dikirimi gambar-gambar dan video vulgar.

Rupanya tanpa diketahuinya, Maria mengubah banyak ceritanya. Ia membuat novel Henry menjadi seperti “50 Shades of Grey”. Hal ini membuat Henry kebingungan setengah mati dengan informasi tersebut.

Cerita yang Potensial Tapi Tidak Berkesan
Ada banyak rom-com yang berkesan. Misalnya “Serendipity”, “The Lake House”, trilogi “To All the Boys I’ve Loved Before”, “500 Days of Summer”, dan masih banyak lagi. Biasanya rumus rom-com termasuk sederhana, premis yang menarik, proses menuju keduanya saling menyukai, dan karakter yang menarik. Si tokoh tidak harus wah, tapi memiliki sisi yang memikat penonton.

Nah dalam film “Book of Love” ini premisnya sudah bagus. Penonton langsung diperkenalkan dua sosok yang akan ‘dijodohkan’ dalam film ini. Yang satu, penulis novel tidak laku dan lainnya single mom yang juga penerjemah.

Kedua tokoh, Henry dan Maria sangat bertolak belakang. Henry idealis dan Maria nampaknya frustasi dengan kehidupannya yang seolah-olah jalan di tempat. Keduanya kurang memberikan sisi charming di diri mereka. Henry memang nampak membosankan, namun Maria juga terlalu ‘ngotot’ seolah-olah semua idenya adalah jaminan novel bakal laris.

Book of love
Aku tak paham kenapa novel yang laris di cerita ini diidentikkan dengan bakal banyak unsur hubungan intimnya, dimeriahkan dengan adanya LGBT, dan bahasa yang vulgar. Bukannya malah membosankan ya kalau temanya itu-itu saja.

Ya jalan cerita paruh kedua tidak menarik. Pengembangan karakternya seolah-olah dipaksa agar keduanya segera jatuh cinta dan film selesai. Sosok pihak ketiga yang merupakan eks suami Maria juga ditampilkan secara konyol. Penutup kisahnya juga konyol dan tipikal.

Bagian plus film yang dibesut Analeine Cal y Mayor ini adalah panorama Meksiko yang epik. Panorama sepanjang jalan dari kawasan yang seperti hutan, kawasan sepi yang seperti padang rumput, dan lainnya menarik disimak. Para pengunjung acara Henry yang itu-itu saja dan komentarnya kocak itu juga berhasil bikin tertawa.

Cerita yang potensial tapi eksekusinya tak menawan dengan dua karakter utama yang tak memikat. Skor: 6/10.

Gambar: IMDb

~ oleh dewipuspasari pada Februari 6, 2022.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: