Rumus Drama dan Komedi Tipikal Bikin CTS 2 Gagal Tembus Sejuta Penonton?

Cek Toko Sebelah 2Bagaimana jika film Cek Toko Sebelah dibuat sekuelnya, padahal tokonya sudah tak lagi eksis. Apakah sekuel ini masih menarik untuk disimak?

Awal Januari silam aku menyaksikan film ini di bioskop. Dengan nama besar Ernest Prakasa yang beberapa filmnya sukses masuk box office, film ini masih menarik minat penonton. Meski sebenarnya wajar jika jumlah penontonnya untuk sekuelnya ini tidak mampu menyamai kesuksesan film pertamanya yang menembus dua juta penonton. Bahkan masih termasuk luar biasa filmnya masih mencetak 845.042 penonton.

Ada beberapa hal yang kiranya membuat film ini kurang cemerlang di perolehan jumlah penonton. Ini analisaku sebagai penonton awam sih.

Cek Toko Sebelah 2 memiliki timeline kejadian setelah akhir film pertamanya. Sementara serial CTS waktunya ketika Erwin (Ernest Prakasa) bekerja di toko ayahnya, Koh Afuk (Chew Kinwah) .

Dalam film sekuel ini fokusnya adalah hubungan percintaan antara Erwin dan Natalie. Di sini peran Gisella Anastasia sebagai Natalie digantikan oleh Laura Basuki.

Cek Toko Sebelah 2
Ada flashback pertemuan pertama keduanya. Lalu bagaimana ibu Natalie (Maya Hasan) merasa berat menjadikan Erwin sebagai calon menantunya. Ia memberikan pilihan dilematis bagi Erwin, tetap bekerja di Jakarta dan menikah dengan Natalie, atau menerima tawaran berkarier di Singapura tapi putus dengan kekasihnya.

Sementara Yohan (Dion Wiyoko) dan Ayu (Adinia Wirasti) masih menapaki karier. Usaha jualan kue kering Ayu makin meningkat. Keduanya kemudian ditodong untuk segera punya anak oleh si ayah.

Di dalam film ini sudah tak ada lagi cerita tentang toko. Jadi karyawan toko yang tak ikut bekerja sebagai kru toko kue dan kru studio Yohan pun juga tak tampil lagi di sini. Tak ada toko Koh Afuk sehingga judulnya terasa kurang relevan, meski para karakter utamanya tetap muncul

Ceritanya agak dipaksakan. Drama tentang susahnya mendapat restu calon mertua agak mengada-ada. Meski salut dengan penampilan Maya Hasan yang di sini pas berperan sebagai ibu konglomerat yang protektif kepada putrinya.

Demikian juga dengan drama yang dialami oleh pasangan Yohan dan Ayu. Drama mereka yang dibumbui kehadiran anak kenalan ayahnya, Amanda (Widuri Putri) untuk menginap di rumah mereka agar mereka tumbuh rasa keibuan dan kebapakan juga terasa janggal. Kurang alamiah.

Begitu juga dengan dialog Amanda dan desain karakter Amanda yang terlalu dewasa untuk anak seusianya. Rasanya aneh melihat seorang anak kayak ngotot bertanya alasan tidak punya anak.

Cek Toko Sebelah
Alur ceritanya kurang enak dinikmati, karena terasa artifisial. Sepertinya Ernest dan istrinya sebagai penulis naskah ingin memasukkan isu yang lagi hits di dunia maya, seperti child free dan membuat surat perjanjian pranikah.

Humor di studio foto dan tempat membuat kue juga susah untuk membuat tertawa, malah bikin berkomentar, apaan sih. Kurang natural, mengada-ada. 

Yang agak mendingan malah gaya dan celetukan Naryo dkk yang suka bermain kartu bareng Yohan. Entahlah. Sepertinya formula Ernest mengkombinasikan drama dan komedi yang tipikal ini mulai terasa membosankan. Gaya komedinya bisa dicari lagi yang segar dan lebih natural.

Perubahan pemeran Natalie juga terasa berdampak. Natalie yang awalnya ceria berubah menjadi lebih serius namun juga manis. Seperti beda karakter.

Memang, film Cek Toko Sebelah 2 ini tidak buruk. Meski, dari cerita terasa menurun apabila dibandingkan film pertamanya. Yang menyelamatkan film ini tetap enak dinikmati adalah performa jajaran pemainnya. Laura Basuki memberikan poin lebih ke sosok Natalie. Ia manis, manja, dan juga lebih dewasa. Demikian juga dengan performa Dion Wiyoko dan Adinia di sini juga tetap memegang peranan penting menjaga kualitas film.

Cek Toko Sebelah 2

Kehadiran Pritt Timothy sebagai pendeta di sini juga cukup memberikan penyegaran dengan komentar-komentarnya yang tak terduga. Meski, ada formula lawak yang mengingatkan pada dialog Tarzan di Warkop DKI.

Ya, alur cerita Cek Toko Sebelah 2 terasa artificial dan komedinya tipikal. Namun berkat performa beberapa pemainnya maka film ini masih cukup menarik untuk disimak. Skor: 7/10.

Gambar milik Starvision

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 20, 2023.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: