Aksara A-Z Lunas dan Demi Kucing

Demi kucingAkhirnya upaya membuat artikel afirmasi dari A sampai Z tuntas juga. Aku kesulitan setelah memasuki angka Q. Ah ternyata perbendaharaan kataku masih terbatas. Aku kemudian mencari-cari dari berbagai bahasa, dari bahasa daerah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris bahasa latin, hingga bahasa sansekerta. Ternyata proses pencarian kata itu menyenangkan, aku menemukan berbagai kata indah yang baru kuketahui, demikian juga dengan maknanya.


Ada orang yang jatuh cinta dengan bahasa. Ia rela menghabiskan waktu mencari tahu tentang akar dan asal muasal kata tersebut, juga maknanya. Ketika mencicipi proses tersebut aku jadi paham memang bahasa itu indah dan menakjubkan. Bagaimana ya kakek nenek moyang kita jaman dulu menemukan kata dan bersepakat akan maknanya?!

Ya proses menggali-gali kata untuk afirmasi sudah berhasil kulakukan. Hanya kata-kata itu tak akan bermakna jika aku tak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tentang kehidupan, ada begitu banyak warna ya yang terjadi di kehidupan setiap manusia. Ada suka dan duka yang keduanya juga bisa muncul sekaligus.

Ada rasa senang karena film Ngidam yang kami buat masih melanjutkan proses melalang buana, dari Amsterdam di Festival MyCinemAsia, tadi siang Ngidam diputar di acara Pameran Sampul Manusia yang diadakan Gramedia Pustaka Utama. Tapi kabar baik muncul seiring kabar buruk. Kucing-kucingku mulai sakit.

Cindil yang sakit parah lebih dahulu. Ia kena sariawan akut sehingga susah membuka mulut dan makan. Matanya juga belekan. Lalu menyusul Clara yang pilek batuk. Matanya juga mulai tertular. Pang juga sama, mulai pilek dan satu sisi matanya juga memerah.

Duh ada saja ya masalah. Rasanya sulit sekali membiarkan aku menghirup nafas lega. Ya, ada kalanya aku berpikir seperti itu.

Karena tak tahan melihat Cindil yang kesakitan, semalam aku menerobos hujan dengan berjalan kaki menuju klinik. Selama hujan deras sampai terang, tak ada ojol yang menerima pesananku. Sementara aku sudah berjanji ke petugas klinik untuk datang.

Singkat kata, Cindil pun terpaksa dirawat inap karena aku kesulitan memberinya obat ke mulutnya. Tadi sore aku kembali berjalan kaki menuju ke sana untuk membesuknya. Ah dia masih lelah. Dia juga ketakutan dengan tempat barunya. Dia meringkuk melulu dan baru menggeliat ketika aku datang. Kasihan kamu, kucingku.

Sementara Cindil diopname, Clara jadi begitu manja denganku. Ia tidur di dadaku dan minta dielus-elus terus membuat lenganku pegal. Ia pilek batuk dan aku baru bisa memberinya obat herbal dan vitamin. Besok akan kubuatkan susu hangat dan kuberi madu. Sementara Pang masih asyik berbuat nakal. Dia tidak peduli sedang sakit atau sehat tetap saja nakal. Bahkan kulihat beberapa kali ia adu nyali dengan berjalan-jalan di atas kanopi bening lalu melihat ke bawah.

Kenapa Pang itu sungguh iseng dan nakal ya? Sudah kusteril tapi tetap saja tak bisa menghilangkan keusilannya. Pang Pam Poko benar-benar seperti punya darah rubah.

~ oleh dewipuspasari pada April 4, 2024.

Tinggalkan komentar