Ada Apa dengan Kucing-kucing?
Kucingku Nero Manis belum juga pulang. Ia sudah dua hari menghilang sejak berkelahi dengan seekor kucing dini hari. Aku mencemaskannya dan mengirimkan pengumuman ke grup tetangga. Tapi kemudian ada kejadian lainnya yang membuatku panik.
Aku menyesal saat itu tak beranjak dari tempat tidur dan memeriksa halaman. Seingatku perkelahian kucing itu terjadi sekitar pukul dua pagi. Ketika aku keluar kamar, memeriksa ruang depan, si kucing monster yang menyerang kucingku sedang asyik makan. Aku kesal sekali dan mengusirnya. Kucing itu beberapa kali menyerangku. Pernah lenganku sampai berdarah digigitnya.
Mengapa kucing itu sungguh buas? Ia sepertinya berniat membunuh kucingku, bukan seperti kucing biasanya yang hanya mengajak berkelahi dan mudah dilerai. Kucing monster itu sulit sekali dilerai. Kusiram air pun dan kutakut-takutin dengan sapu lidi pun, ia diam saja dan malah bersikap menantang.
Kupikir ia kucing liar. Tapi ternyata ia kucing tetangga di gang sebelah. Selama ini ia memang tak pernah main ke gang rumahku. Kok bisa kucing seganas itu?
Si Nero Manis tak kunjung pulang. Aku mencemaskannya.
Baru tadi sore aku berkeliling mencari Nero Manis, ada kejadian seram di rumah. Seekor kucing belang hitam masuk tangga loteng dan menyerang anak-anak si Kemoceng.
Saat mendengar suara ribut-ribut di belakang, aku langsung memeriksa. Pemandangan kacau terbentang di depanku. Si Kemoceng sibuk mengejar si kucing penyusup.
Seekor anak kucing berwarna hitam jatuh terguling-guling dari tangga atas hingga ke bawah. Dua anak kucing lari berhamburan ketakutan. Tapi yang mengagetkanku dan bikin panik, ada darah deras mengucur. Satu anak kucing digigit dan berdarah. Aku segera mengangkatnya dan mengambil kain. Darah terus mengucur, membuatku panik dan bingung.
Aku segera menghubungi klinik dan ngebut naik ojek ke klinik. Si anak kucing mulai lemas. Aku terus berdoa agar si anak kucing bertahan.
Kini si anak kucing masih dirawat. Ia diopname, diinfus. Darahnya mulai berhenti mengucur. Masa kritisnya masih 1-2 hari mendatang. Aku cemas sekali. Moga-moga ia bisa bertahan. Kasihan sekali.
Sesampai di rumah, aku memeriksa kondisi ketiga anak kucing lainnya. Mereka nampak syok. Si anak kucing yang jatuh untungnya tidak apa-apa, namun ia nampak terguncang.
Setelahnya kubersihkan darah yang berceceran di tangga dan lantai. Ketika menuju loteng, aku melihat kucing buas itu di genteng rumah, tak jauh dari jendela. Kucing itu punya kalung. Ia juga bukan kucing liar.
Aku bertanya-tanya ada apa dengan kucing-kucing itu? Bukankah mereka kucing rumahan? Mereka begitu buas dan punya naluri membunuh. Sungguh berbahaya.
Saat ini aku dilema. Sepertinya aku harus mengabarkan berita kucing buas itu ke grup tetangga. Kucing itu pernah menggigitku sampai berdarah. Bisa saja mereka menyerang hewan lain yang lemah atau bahkan anak kecil.

Semoga Nero Manis cepat pulang ke rumah Mbak Puspa dan kucing buas itu bisa dirawat di rumah saja deh ya oleh pemiliknya, Aamiin YRA 🤲🐱 ❤Semangat, Mbak Puspa 👍🏻😊💪
Aamiin. Besok mau kucari lagi si Nero, sama minta tolong ke pak satpam. Iya nih kucingnya buas, kayak punya aura membunuh. Serem.
Semangat juga Nisa🥰