Cerita Absurd Perkucingan

Si Momo lompat-lompat kasur yang membal karena memiliki per. Ia melompat boing-boing di kasur pegas sambil berkata berulang “Aku bukan kodok!”
Aku bengong. Apakah ia sedang frustasi atau ada masalah di kehidupan sosial perkucingan.
Aku terlambat menyadari, eh kok Momo bisa ngomong bahasa manusia. Atau aku yang tiba-tiba memahami bahasa kucing?!
Yang membuatku makin bingung, mengapa ia berkata dirinya bukan kodok. Jelas-jelas ia kucing.
Anak Monyet
Anak kucing liar itu masih histeris dan agresif setiap berjumpa denganku. Ia langsung lari dan memanjat tubuhku. Ia tak peduli kadang aku menjerit sakit karena cakarnya cukup tajam. Aku tak berani menyingkirkannya karena cakarnya bakal menancap lebih erat.
Ia bak anak monyet.
Ia mengincar bahuku. Benar-benar seperti primata sahabat Si Buta dari Gua Hantu. Mungkin ia terobsesi menjadi tokoh idolanya itu.
Setiap kali ia berhasil memanjat sampai bahu, ia merasa puas. Ia ikut menonton video sambil duduk santai di bahuku. Kadang jika usil ia memainkan rambutku. Jika kumarahi ia mengancam akan jadi Ratatouille dan mengendalikan tubuhku.
Kok bahuku jadi pegal ya. Kugoncang-goncangkan tubuhku, ia jatuh dan mendarat dengan sigap bak atlet senam. Dasar kucing.
