“The Ghost Cat”, Cerita Hantu Kucing Penjelajah Ruang Waktu

Selamat hari buku buat semuanya.

Kali ini saya mengulas “The Ghost Cat” yang saya pinjam melalui Perpustakaan Berjalan. Buku ini setebal 297 halaman dan diterbitkan oleh Penerbit Baca.

Buku ini menurutku patut dibaca pecinta kucing dan mereka yang suka novel dengan unsur sejarah. Oleh karena novel ini kental dengan peristiwa-peristiwa bersejarah.

Aku suka pembukaan novelnya. Kita pasti sering mendengar kucing punya sembilan nyawa. Nah, menurut buku ini sembilan nyawa kucing ini terdiri dari
đŸ˜ș 3 nyawa dipakai menetap
đŸ˜» 3 nyawa untuk berkelana
🙀 3 nyawa dipakai bersukaria

Tokoh utama novel ini adalah seekor kucing tua bernama Grimalkin. Ia kehilangan nyawanya karena keracunan timbal dan memang usianya sudah begitu tua.

Karena masih ingin melihat dunia, ia memilih memanfaatkan delapan nyawa sisanya dalam bentuk kucing gentayangan. Jadilah si kucing hantu ini hidup dari satu masa ke masa.

Ceritanya ringan dan hangat tentang bagaimana seekor kucing dipenuhi rasa ingin tahu. Wujud gentayangannya memberinya sisi plus dan minus. Sisi plus ia tak bakal lapar dan tak bakal dilukai manusia. Sisi minusnya ia tak bisa menyentuh orang-orang yang dikasihinya.

Di sini pembaca akan melihat dari sudut pandang si kucing. Bagaimana perasaannya terhadap manusia, makanan manusia, juga kemajuan teknologi. Kucing juga takut perang lho. Juga bingung dengan era generasi bunga yang baginya terlalu bebas.

Nah, sisi plus buku ini selain tokoh utamanya kucing yang penuh rasa ingin tahu, pembaca akan diingatkan tentang berbagai peristiwa penting di Inggris dan di dunia. Si kucing hidup dari jaman Victoria dan telah melalui masa perang dunia dan perubahan lainnya.

Sisi minusnya kita kurang tahu seperti apa kehidupan dulu Grimalkin dan keluarga kecil perkucingannya. Ia hanya dekat dengan sosok Eilidh, pekerja di mansion yang menemukan dan merawatnya. Dan hubungan mereka sebenarnya masih bisa dieksplorasi. Cerita Grimalkin dan pertemanan kucing, juga unsur fantasinya juga sebenarnya berpotensi untuk dieksplorasi.

Ada juga bagian-bagian yang terasa datar dan kurang menyentuh. Pada bagian yang seperti itu aku membacanya dengan cepat.

Tapi di luar keterbatasan itu, buku ini menyenangkan. Setelah membaca epilog dan ucapan terima kasih aku jadi merasa bahwa Alex Howard begitu tekun meneliti untuk keperluan buku ini. Pengalaman dia sebagai ayah dan sebagai suami juga terasa dalam gaya ia bercerita di sini. Alhasil buku ini juga menyimpan memori dan kepribadiannya.

Setelah membaca buku ini aku jadi merindukan kucing-kucingku yang telah pergi. Apakah kini mereka telah jadi hantu dan tetap tinggal bersamaku?




~ oleh dewipuspasari pada Mei 17, 2026.

Tinggalkan komentar