Masih Enggan Lanjut “Semua Ikan di Langit”

Aku masih belum berhasil menuntaskan membaca buku “Semua Ikan di Langit” karya Ziggy Z. yang paling membuatku penasaran ini. Sebelumnya aku pernah membaca bukunya yang berjudul “Di Tanah Lada” dan “Jakarta Sebelum Pagi”.
Mungkin karena aku punya ekspektasi besar karena novel ini meraih juara pertama Sayembara Novel DKJ 2016. Juga, disebutkan novel ini ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata peserta lainnya. Aku langsung membayangkan detail yang indah ala Ahmad Tohari.
Namun, ternyata tidak deskriptif ala Ahmad Tohari ataupun Andrea Hirata. Ataupun seimajinatif “Kereta Semar Lembu”.
Bukan berarti novelnya buruk. Ada sesuatu yang membuatku enggan meneruskan, tapi harus karena mungkin aku tak akan membacanya lagi.
Buku ini masih khas Ziggy. Suara Ziggy di sini kental dan khas seperti dalam “Di Tanah Lada” dan buku-buku karya dia lainnya. Buku ini masih setia mempertahankan gaya melantur dan memasukkan banyak trivia yang lama-kelamaan membuat lelah.
Seketika memulai membaca buku ini aku merasakan nuansa “Little Prince” yang kental, juga kisah “Semalam di Kereta Bima Sakti”. Memang tidak sama persis, hanya nuansa dan referensinya. Gaya bercerita dan lainnya masih khas Ziggy.
Hanya aku belum tertarik untuk meneruskan membaca buku ini.
