Jakarta Pagi 05:55

Memasuki musim kemarau, matahari malah terlambat bersinar di Jakarta. Pukul 05.30 langit masih gelap. Kubuka pintu dan jendela agar hawa segar bisa merambah ke dalam rumah. Kucing-kucing langsung minta sarapan. Wah kosongnya kulkas, aku pun berangkat berbelanja.
Pukul 05.55 langit mulai kebiruan.
Aku paling suka keluyuran pagi ketika langit mengalami transisi dari gelap, kebiruan, hingga mulai terang. Dulu saat tinggal di Surabaya momen-momen favoritku ketika berlari pagi di tepian selokan lebar yang mirip sungai kecil, ketika langit masih gelap, hanya diterangi cahaya lampu jalanan.
Rasanya pergantian cahaya itu terasa magis. Padahal, sebenarnya hal yang lumrah sehari-hari.
Aku berbelanja dengan berjalan kaki cepat. Masih dengan kaus tidur dengan bawahan yang kuganti rok panjang. Rambut kusisir rapi dan wajah segar.
Hawa yang segar kuhirup dalam-dalam. Aku melangkah dengan melihat kiri kanan. Kusapa kedua satpam yang bersiap melakukan pergantian tugas.
Mulai banyak yang berangkat bekerja. Beberapa pegawai menunggu angkot di halte dengan wajah gelisah. Aku beruntung mulai mengalami slow living alias kehidupan yang lebih perlahan. Beberapa tahun silam, pada jam segini pasti aku sudah berjibaku dengan kemacetan Jakarta.
Aku berjalan hampir sekiloan. Eh penjual sayurannya hari ini belum buka. Bukankah sudah pukul enam? Tampaknya mereka bakal buka siangan atau malah libur berjualan.
Aku terus melangkah, eh banyak toko yang belum buka. Apa karena langit masih biru gelap, belum terang?
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya aku menemukan kios sayuran. Penjualnya bapak-bapak dengan wajah ramah. Aku membeli beberapa sayuran dan labu kuning seperempat. Pulangnya, aku menemukan penjual potongan ayam segar.
Kali ini area berbelanjaku cukup jauh dari rumah. Meski masih jam enam lewat sudah ada penjual donat dan kue berbahan terigu yang menggoda. Wah negeri ini memang terikat kuat dengan terigu, ada banyak makanan berbahan tepung gandum ini, agak seram juga bila ada ketergantungan.
Menuju gang rumah, para pasukan berseragam oren tampak giat menyapu jalanan. Dalam satu gang ada beberapa petugas. Memang sih gangnya cukup panjang dan lebar. Kusapa beberapa dengan senyumam.
Setiba di rumah kucing-kucing menyambut gembira. Asyik makan lagi, sarapan kali kedua. Kumasak ayam, ekor mereka bergerak-gerak gembira.
Aku kehausan. Rupanya aku jalan lebih dari dua kiloan.
Pagi ini sederhana. Namun, di dalam rutinitas itu ada cerita.
