Jalan Kaki, Mampir Ngopi

Aku menghirup nafas dengan serakah. Jalanan di sini masih hijau, penuh dengan pepohonan tinggi sehingga hawa terasa sejuk dan segar. Aku menatap trotoar yang agak berkelok di depan. Dua kilometer lagi menuju Kartika Bakery, aku bisa.
Melihat trotoar yang rindang membuatku ingin berlari. Karena kakiku agak pegal setelah trekking, akhirnya kuputuskan hanya berjalan kaki.
Jalan yang bernama RA Fadhilah ini menjadi favorit mereka yang berolah raga. Ada yang berlatih lari, belajar berseluncur dengan sepatu roda, bersepeda, hingga mereka yang berjalan santai sepertiku, yang penting masih masuk olah raga.
Sambil berjalan, aku mengamati sekitar. Di sisi kiri jalan bila dari pintu masuk Cijantung, posisi rumah-rumah nampak lebih rendah. Ada jalan menurun, juga terlihat sungai samar-samar, membuatku penasaran, tapi sekaligus ragu karena di depannya ada rumah-rumah bercat hijau yang berjajar.
Tak nampak penjual selendang mayang. Mungkin aku kesorean. Penjualnya sudah berkeliling ke tempat lainnya atau malah sudah pulang.
Penjual jagung rebus mulai menata dagangan. Eh ada penjual es kelapa muda juga. Biasanya juga ada penjual kopi keliling, tapi kali ini belum tampak.
Aku terus melangkah. Di sisi kanan tak banyak perubahan.
Akhirnya langkahku membawaku ke wilayah sekolah. Sudah dekat. Karena sudah sore, maka tak banyak keramaian di depan gerbang sekolah. Biasanya jalanan padat hingga macet dengan urusan jemputan. Hal ini dikarenakan sekolah tersebut lokasinya berjajar, dari tingkat SD hingga SMA.
Sebelum kakiku melangkah masuk Kartika Bakery, aku melihat banyak anak sekolah dan warga umum yang berolah raga di seberang. Stadion Atang Sutresna rupanya sudah lama terbuka untuk umum. Ada pintu tengah yang bisa diakses sehingga tak perlu melewati pintu dengan penjagaan. Wah lain waktu aku coba lari di sana. Ada trek lari tiga kiloan. Menarik dicoba.

Ngopi Dulu Di Kartika Bakery
Sejak Kartika Bakery berubah wajah menjadi tampil kekinian, aku ingin sekali singgah. Ada apa di kedai tersebut, apa saja menunya?
Sore itu kafe tampak sepi. Aku memerhatikan sekeliling. Dulu tempat ini seperti toko roti sederhana pada umumnya, tapi mereka berbenah dan ingin menarik hati pembeli yang menyukai tempat nongkrong sambil ngopi.

Kursi-kursi taman dengan meja bundar dan payung diletakkan di halaman. Cocok untuk bersantap sambil menikmati sore menjelang petang, atau sekalian malam dengan lampu-lampu kecil sebagai pelita. Kursi juga tersedia di deretan samping dan di dalam kafe.
Aku ingin mengobati rasa penasaranku dengan berjalan kaki lumayan jauh. Rupanya aku tak perlu kecewa, sungguh. Pilihan jajanan, makanan berat, dan minumannya cukup banyak dari Rp4 ribu hingga hampir seratus ribu.

Apa nih yang empat ribuan? Rupanya harga Rp4 ribu untuk jajan pasar. Pilihannya dari gemblong, arem-arem, dadar gulung, hingga pastel ayam. Sementara roti buatan sendiri harganya serba sepuluh ribu rupiah dari roti misis, roti sosis, roti sisir, dan lainnya. Juga dijual brownies dan kue lainnya
Sedangkan menu beratnya di antaranya mie nyemek, nasi goreng, dan steak. Sementara untuk minuman bisa pilih kopi atau minuman lainnya seperti aneka teh, lychee yakult, dan matcha.
Aku bingung memilih roti dan jajan. Akhirnya pilih gemblong, roti krim misis, dan kopi karamel. Totalnya jadi Rp38 ribu.

Aku menikmati suasana sore di kafe seorang diri. Mataku jadi puas menjelajah ke sana ke sini, sambil menyesal kenapa tadi tidak lihat menu kie nyemek dan nasi goreng. Selain kenyang, harga tak jauh beda dengan roti plus gemblong.
Rasa gemblongnya seperti kue gemblong yang biasanya ada di kawasan Bogor, cuma bentuknya tidak lonjong. Rasanya legit dan kenyal, tapi tak porsinya mungil.
Rotinya empuk banget dengan krim dan misis yang berlimpah. Aku suka gemblongnya, tidak keras, mudah digigit, dan manisnya pas. Es susu kopinya enak standar.
Sementara itu jarum jam terus bergulir. Makin banyak yang berlatih lari. Aku pun pamit diri.

