Aku Mendengar Lagi Slipknot “All Hope is Gone”

Sejak semalam aku kembali mendengar lagu-lagu Slipknot. Ya, aku tak pernah benar-benar meninggalkan band satu ini, aku terus mengikutinya. Dan, baru-baru ini aku terkejut mendengar rumor kepergian Sid Wilson. Semoga hanya istirahat sejenak.

Aku mendengar semua tembang Slipknot, dari album debut hingga beberapa album yang kurang kusuka dan jarang kudengar. Salah satu album yang relatif jarang kudengar dibanding yang lain adalah “All Hope is Gone”.

Kini aku mendengarnya lagi. Mungkin karena aku suka judulnya. Lagu ini menggambarkan perasaanku akan situasi sekeliling belakangan ini. Apakah kalian juga merasa hal yang sama?!

Lagu-lagu dalam album ini memiliki lirik dan musik yang agresif. Meski aku lebih suka dengan gaya dan nuansa pada album pertama dan kedua yang lebih gelap dan suram, beberapa lagu dalam album ini masih sering kuputar.

Gaya bernyanyi Corey Taylor dalam lagu ini relatif berbeda dengan ketiga album sebelumnya. Lebih mentah dan kurang melodius, kecuali di tembang “Gehenna” yang menurutku romantis dan memiliki sentuhan gotik.

Tembang “Gematria” menyuarakan anti penindasan dan kritik sosial dengan musik yang intens. Lagu “Sulfur” seperti seseorang berkata aku baik-baik saja padahal ia sedang berupaya berjuang hidup dalam situasi yang sulit dan penuh tekanan.

Aku suka video klip “Sulfur” meski tak suka komposisi musiknya yang kurang atmosferik. Pendapatku akan lagu “Psychosocial” juga sama. Aku suka akan video klip lagu ini yang terkesan dramatis. Pesan lagu ini akan martabat manusia dan kemunafikan ini juga penting. Lagu ini juga menjadi ikon album keempat band asal Iowa ini. Hanya lagu ini sulit kudengarkan sendirian tanpa melihat video klipnya.

Tembang “Dead Memories” menurutku salah satu video klip yang layak masuk 10 besar video musik Slipknot terbaik. Tiap personel mendapatkan porsi layar yang cukup untuk mengenalkan sisi kelam mereka yang ingin dikubur. Lagu ini seperti refleksi dan perenungan akan memori yang ingin dipendam.

Lagu “Vendetta” sangat jarang kudengar. Lagu ini tentang penolakan untuk tunduk pada tekanan sosial dan memilih jadi diri sendiri. Lagunya kurang dinamis, agak monoton.

Lagu “Butcher’s Hook” menurutku liriknya begitu agresif dan penuh kemarahan. Corey bernyanyi dengan gaya berlapis. Sama dengan “Vendetta”, aku tak suka lagu ini.

Dua lagu lainnya menyuarakan kemarahan dan rasa frustasi akan kondisi yang korup dan dogma. Kedua lagu tersebut adalah “This Cold Black” dan “Wherein Lies Continue”. Tembang “Wherein Lies Continue” punya kejutan sehingga tidak membosankan didengar.

Tembang “All Hope is Gone” seperti inti pesan dari album ini. Lagunya agresif dari awal hingga akhir. Liriknya brutal menggambarkan rasa putus asa dan frustasi karena kondisi sosial yang memburuk dan sistem yang gagal. Kok aku jadi sedih ya dengar lagu ini.

Ketiga lagu bonus dalam album ini adalah “Child of Burning Time”, “Vermilion Pt. 2”, dan “Til We Die”. Meski dianggap bonus, lagunya tak buruk, bahkan komposisi musik “Child of Burning Time” enak didengar. Liriknya sedih tentang perasaan terisolasi juga pencarian kedamaian.

Lagu “Vermilion Pt. 2” versi melankolis dan lembut dari lagu yang masuk ke dalam soundtrack film “Resident Evil: Apocalypse” dan “Underworld: Evolution”. Baik versi original dan versi melankolis ini sama bagusnya.

Sedangkan “Til We Die” menggambarkan hubungan antarpersonal Slipknot. lagu yang intim dan menyentuh tentang makna persaudaraan. Lagu ini jika didengar sekarang jadi makin sedih, karena ibarat bentuk apresiasi dan kenangan akan anggota Slipknot yang telah meninggal yakni Joey Jordison dan Paul Gray.

Tembang “Snuff” dan “Gehenna” menurutku seperti seseorang yang salah kostum ketika masuk dalam acara yang menerapkan dress code. Kedua lagu ini memiliki nuansa dan gaya yang sangat berlainan dengan belasan lagu dalam album keempat Slipknot ini.

“Snuff” terdengar lembut dan melankolis. Lagu ini tentang patah hati, sedih dan reflektif. Jika tak hafal suara Corey yang khas, mungkin aku tak akan mengira lagu ini milik Slipknot.

Sedangkan “Gehenna” seperti tembang cinta yang gelap. Lagunya seperti dibawakan oleh Dracula atau monster yang terobsesi dengan seseorang. Ia mungkin bernyanyi sambil sesekali tertawa sendiri di makam atau di bawah tanah Seram sekaligus romantis. Aneh. Ada bagian solo gitar yang menurutku jarang ada untuk lagu-lagu Slipknot.

Nomor favoritku dalam album yang dirilis pada 20 Agustus 2008 ini tetap “Gehenna”. Mungkin karena ada perasaan ganjil dan horor ketika mendengarnya. Sementara lagu lainnya juga kuapresiasi karena tema dan isunya masih relevan hingga sekarang.

Ooh semoga harapan kita tidak benar-benar pupus seperti dalam lagu-lagu ini.

Gambar: Spotify

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 13, 2026.

Tinggalkan komentar