Gua

Semua orang seperti berseru kepadaku hingga kupingku pekak. Pergilah, aku menutup mulut guaku rapat-rapat. Biarkan aku bak beruang, berhibernasi hingga waktu bangkitku tiba.
Sayangnya waktuku di gua tak berhasil mengubahku. Padahal aku membayangkan diriku yang bermalasan di gua itu bak ulat, yang bertransformasi menjadi kupu-kupu yang indah.
Tapi nyatanya aku tetap jadi ulat. Hanya makin gendut dan berantakan.
Aku tak berhasil melakukan balas dendam dengan menunjukkan versi yang lebih baik. Aku malah terpuruk makin dalam.
Apakah sebaiknya aku tetap di dalam gua, merayakan hari-hari sepi dan berharap hari akhir segera tiba? Atau, aku membuka pintuku dan memberanikan pandanganku bertumbukan dengan sinar matahari yang menyilaukan?
Aku malah kemudian asyik bermain dengan kodok. Aku menemukan kodok merah ketika akhirnya kubuka mulut gua dan kubersembunyi di kebun paling rapat. Di bagian tanah yang lembab, ada seekor kodok merah.
Aku merasa kodok tersebut memahamiku. Akhirnya aku sering bercerita ini itu kepada si kodok karena aku tahu ia tak akan mencelaku. Rasanya nyaman punya teman, meski hanya sebagai pendengar.
Berawal dari pertemanan sepihak ini aku jadi ingin memastikan si kodok merah tetap hidup. Kujaga kebun agar tanahnya tetap subur karena si kodok merah adalah ahlinya menjaga kualitas air. Itu yang pernah kubaca entah di mana.
Lama-kelamaan aku jadi petani amatiran. Dari kebun aku bisa memanen cabai, wortel, tomat, dan kentang. Kodok tak mau kubagi hasil panenku. Ia hanya lompat-lompat sambil berkata kuk krong kuk krong dan menyantap nyamuk.
Kadang-kadang aku berimajinasi liar bagaimana jika si kodok itu adalah pangeran. Siapa tahu jika aku menciumnya ia akan berubah menjadi seorang pangeran?
Tapi siapa yang mau mencium kodok? Dongeng itu terlalu random. Bagaimana si putri tahu mana kodok yang jelmaan pangeran dan yang bukan?!
Ah aku terus melantur.
Hingga suatu ketika tanamanku diserbu bekicot dan aku hanya bisa melongo. Sejak itu aku kehilangan kontak dengan si kodok.
Aku merasa sendirian lagi. Aku tak ingin berteman dengan bekicot. Aku kembali menutup guaku dan bernyanyi. Kesepian ini akan membunuhku, dengan nada seperti yang dinyanyikan Britney Spears. Lalu aku tersenyum lebar.
