Alam pun Mulai Berontak

Bung Pentas menggeleng-gelengkan kepala membaca sebuah artikel di sebuah majalah wanita yang tergeletak di meja rekan kerjanya. Isi artikel tersebut membuatnya miris, tentang bencana alam yang berkepanjangan di negeri beruang merah, Rusia.Bencana alam berupa gelombang panas ini telah menyerang Rusia sejak pertengahan Juni. Namun, hingga bulan Agustus gelombang panas ini belum menyingkir. Akibatnya, terjadi kebakaran hutan seluas 174 ribu hektar. Pemerintah pun segera mewajibkan warganya mengenakan masker. Yang terburuk, kondisi alam ini tidak hanya mengusik panen, namun juga mengancam nyawa manusia. Angka mortalitas telah mencapai 5.000 jiwa dan mungkin terus bertambah jika kondisi alam ini tidak kunjung berubah.

Ternyata, alam tengah berontak dari rutinitasnya, pikir Bung Pentas. Mereka mungkin ingin menunjukkan dominasinya terhadap kehidupan manusia. Seperti hewan liar di sirkus, mereka tidak sepenuhnya jinak dan bisa dikendalikan manusia. Mereka bisa berontak setiap saat. Tugas manusia-lah bersahabat dengan mereka.

Lamunan Bung Pentas dikagetkan Rukmini, si pemilik majalah wanita.                                 ’’Wah puasa-puasa kok melamun?’’

Bung Pentas tersentak dan tersenyum malu ke rekan kerjanya yang telah berusia separuh baya itu.               ’’Bukan melamun sedang berpikir tentang cuaca yang semakin tidak menentu ini,’’ kilahnya.

‘’Benar, cuaca akhir-akhir ini benar-benar misterius. Sulit sekali diramalkan,’’ Rukmini mengiyakan. ‘’Acara perkiraan cuaca di televisi jadi tidak dapat diandalkan,’’ tambahnya.

Meski dampaknya tidak sebesar di negara Lenin pernah berkuasa, cuaca yang berubah-ubah ini cukup merepotkan. Untuk wilayah Jabotabek saja, kemacetan semakin parah akibat hujan deras yang tiba-tiba mengguyur. Hujan ini bisa mendera berjam-jam hingga menyebabkan banjir di berbagai tempat.’

’Hawa sangat panas pada pagi hingga siang hari. Namun, mendadak hujan deras hingga malam. Kadang sebaliknya,’’ keluh Rukmini.

Bung Pentas merenung.  Hujan bulan Agustus selama dua dasawarsa terakhir tidak pernah terjadi. Bulan ini seharusnya masih termasuk dalam bulan-bulan musim kemarau. Memang terkadang hujan sekali-dua kali turun pada musim kemarau, seperti yang dilukiskan pada puisi Sapardi Djoko Damono yang bertajuk Hujan Bulan Juni, namun kejadiannya tidak sesering tahun ini. Lalu bagaimana jika musim berbalik 180 derajat, kemarau baru terjadi pada bulan September?

Perubahan cuaca ini tentu tidak hanya mengganggu aktivitas fisik, ia dapat menstimulasi ancaman banjir dan kegagalan panen, business loss opportunity karena akan ada bisnis-bisnis yang berubah seperti sektor pariwisata dan hotel, dan dampak psikologis berupa paranoia.

‘’Ehm aku setuju dengan analisismu Tas. Tapi mengapa efeknya bisa ke berujung ke paranoia?’’ ujar Rukmini ragu.

Jika cuaca terus-menerus labil, sering terjadi hujan petir atau gelombang laut yang tinggi, maka bisa jadi orang-orang akan takut bepergian, kata Bung Pentas berapi-api menguraikan analisisnya. Orang-orang akan takut berinvestasi di industri pertanian atau travelling karena industri ini yang paling rawan bergejolak terhadap cuaca. Para industri asuransi juga akan terus was-was dengan kemungkinan kelonjakan klaim.

‘’Yang lebih parah jika pasokan pangan kita menyusut. Bisa-bisa harga sembako naik gila-gilaan atau banyak penduduk kelaparan,’’ terang Bung Pentas. Ia teringat kejadian itu pernah menimpa Republik Rakyat Tiongkok beberapa waktu lalu. Sehingga pemerintah RRT berancang-ancang mengimpor beras untuk cadangan makanan.

Namun, kata Bung Pentas, tidak ada gunanya terus-menerus menyalahkan keanehan alam ini. ‘’Mereka jauh lebih superior daripada kita’’.

‘’Lantas apa saja yang perlu dipersiapkan saat ini?’’ desak Rukmini ingin tahu. ‘

’Apa perlu menimbun beras dan barang sembako lainnya untuk cadangan makanan,’’ tambahnya.

Bung Pentas tergelak. Ia ingat pada zaman krisis moneter 1997 sebagian warga menimbun makanan Akibatnya, harga kebutuhan pokok melonjak tidak terkontrol.

‘’Menyimpan makanan jangan berlebihan, sewajarnya saja. Ikut asuransi jiwa lebih penting’’.

Sejak banjir besar awal tahun 2007 Bung Pentas was-was akan masa depan keluarganya. Ia lalu meredakan kekuatirannya dengan memperbesar nilai premi asuransi jiwa.

Namun, seharusnya pemerintah mulai memikirkan usulan Direktur United Nations Development Program tentang keberadaan asuransi bencana alam. Asuransi bencana ini seperti bisa digrap seperti asuransi gempa bumi yang diterapkan pemerintah Turki. Asuransi jenis ini dimiliki setiap warga dan pengelolanya adalah pemerintah bukan swasta.

‘‘Sepertinya sulit diterapkan dalam 2-3 tahun ke depan, Tas. Penerapan SJSN saja masih belum jelas.’’

‘‘Ya kita berdoa saja agar implementasi SJSN sesuai amanah rakyat. Kita juga perlu banyak berdoa agar anomali cuaca ini tidak terus berkepanjangan. n

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 23, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: