Aku dan Wayang Kulit
Ayahku penggemar wayang, baik kisahnya yang dilukis oleh RA Kosasih maupun yang dipertunjukkan seperti wayang orang atau wayang kulit. Ibuku kurang menyukai wayang kulit, namun ia dulu pernah aktif di ekstra kurikuler sebagai sindhen. Dia selalu cerita dengan bangga masa-masanya sebagai sindhen. Sementara aku, cemberut jika ayah memindahkan channel untuk menonton wayang semalam suntuk pada sabtu malam.
Bukannya tidak suka, namun menurutku durasi wayang kulit yang sangat lama membuatku jenuh, apalagi meski tinggal di Malang, aku kurang familiar dengan bahasa krama inggil yang digunakan oleh pedalang. Masih asyik menonton wayang orang karena adegannya biasanya tidak terlalu lama dan visualisasinya menarik. Meski tidak suka wayang, aku suka mengamati pajangan tokoh-tokoh wayang kulit. Aku masih ingat ayahku memiliki banyak karakter wayang, seperti Kresna yang berkulit hitam, Janaka yang langsing dan kemayu, dan semar yang gendut bijaksana. Adapula lukisan timbul mengisahkan salah satu adegan Baratayuda, dimana Kresna sebagai sais Janaka melawan Adipati Karna. Aku juga gemar membaca serial Barata karangan RA Kosasih mulai dari kisah Leluhur Hastina, hingga cucu Pandawa, si udayana (nanti kuceritakan lebih lanjut). Ya, setidaknya aku masih gemar wayang meski tidak suka menonton wayang kulit.
Namun, ada satu masa yang membuatku tertarik pada wayang kulit. Awalnya adalah perintah dari si redaktur budaya untuk mewancarai salah satu mahasiswa jurusan pedalangan di Sekolah Tinggi Seni Wilwatikta yang lokasinya tersembunyi di lingkungan perumahan elit di Surabaya. Ukurannya cukup besar dan nyaman. Tempatnya amat tenang pas untuk melukis, menari, atau aktivitas seni lainnya. Yang membuat sekolah ini unik adalah keberadaan jurusan pedalangan, jurusan yang semakin langka karena keterbatasan mahasiswanya. Saat itu (tahun 2005), jumlah mahasiswanya tinggal 3 orang. Miris.
Dari penuturan mahasiswa tersebut, saya tertegun. Ada banyak cara menunjukkan kecintaan terhadap negara, ia memilih membuktikannya dengan mencintai wayang dan meneruskan budaya luhur ini. Dan ia berharap jurusan ini tidak ditutup meski mahasiswanya mungkin suatu saat tinggal satu.
Saya berjumpa dengan sosok pedalang muda ini lagi saat meliput festival wayang indonesia di Taman Budaya Jawa Timur atau yang lebih dikenal dengan nama Cak Durasim. Kiranya festival ini yang membuat saya menyukai wayang kulit. Di sini pedalang dari seluruh penjuru nusantara berkompetisi untuk meraih gelar juara. Uniknya, durasinya dipersingkat menjadi satu jam untuk setiap pedalang mengingat banyaknya jumlah pedalang yang mengikuti kontes ini.
Ada pedalang wanita yang memiliki karakter tangguh. Meski wanita ia mampu menirukan suara buto (raksasa) dengan lantang. Namun yang berkesan adalah wayang cengbong khas Bali, dimana menggunakan obor dan layar. Yang terlihat oleh penonton adalah siluet dari gerakan wayang. Terus terang baru kali itu saya mampu menikmati wayang. Sepanjang cerita hingga berakhir saya merasa terpesona.
Ketika rekan-rekan lainnya sudah pulang, saya masih setia menunggu pertunjukan Ki Enthus Susmono yang terkenal sebagai pedalang yang eksentrik dan inovatif. Eksentrik karena pertunjukkannya tidak sepenuhnya menggunakan pakem yang umum. Dan benar, karakter wayangnya lebih beragam, tidak hanya karakter lama, namun juga karakter dari tokoh-tokoh dunia. Dan bahasanya mudah dimengerti. Sehingga waktu satu jam terasa cepat.
Rupanya masalahku pada pertunjukan wayang adalah durasi dan gaya penyajian. Dengan gaya wayang Bali dan gaya Ki Enthus aku lebih akrab. Mungkin orang-orang seperti aku juga akan lebih menyukai gaya wayang kulit seperti itu. Namun, ketika ada wacana untuk menyelenggarakan wayang masuk mal untuk mendekati pasar remaja, aku kurang setuju. Bakal terkesan dangkal, karena wayang kulit adalah budaya yang adi luhur.


salam kenal mbak…aku suka artikelnya,..namun aku akan lebih bahagia lagi bila bisa mendapatkan informasi tentang sekolah pedalangan.anakku usianya baru 3 tahun tapi ia sangat menyukai wayang..kalo di tanya besok besar mau jadi apa jawabnya dalang….setiap hari,tiap jam yang di cari cuma wayang….saya sampe heran.usianya masih terlalu kecil tapi ia juga agak bisa menirukan gaya dalang.
Dear Mbak Lia,
Wah senangnya mendengar cerita mbak kalau puteranya suka wayang. Waktu saya masih tinggal di Surabaya ada sekolah pedalangan buat lulusan SMU di Sekolah Tinggi Seni lokasinya di Surabaya Timur. Dulu saya sempat buat artikelnya karena sekolahnya terancam tutup karena peminatnya di bawah 10 tiap tahunnya. Setiap tahun juga diadakan festival wayang Indonesia dimana banyak pedalang top dari semua daerah di Indonesia. Jika Ibu berminat bisa melayangkan informasi ke Taman Budaya Jawa Timur Cak Durasim di Surabaya (Gentengkali) yang peduli dengan dunia pedalangan. Untuk daerah lain mungkin di Dinas Budaya atau taman budaya. Wah semoga nanti anaknya bisa menjadi pedalang top..amiin.
salam,
puspa