Mengenang Kopi Kekeluargaan: Dari Kopi Giling Hingga Kopi Racik

Aku menghirup kopi hitamku yang mulai dingin. Suamiku baru saja beranjak, menuju kantornya yang berlokasi di bilangan Cempaka Putih. Ia mengendarai bajai pulsar kesayangannya menembus kemacetan di Kramat Jati yang semakin hari semakin menggila. Ketika menikmati kopi encer ini, aku teringat masa-masa di Malang. Dimana sekian ribu hari, aku menyesap kopi. Bukan sembarang kopi, melainkan kopi kekeluargaan.

Mama setiap pagi hampir selalu menyeduh dua cangkir kopi. Satu untuk papa dan satu cangkir buat kami berempat, aku, mbak Yanti, mas Ari, serta mama. Bukan kopi berkrim atau kopi bercampur cokelat, melainkan kopi hitam. Kopi ala kakek nenek, kata orang.

Kebiasaan keluargaku ini menarik. Jika biasanya orang-orang sarapan dengan nasi atau roti, keluargaku terbiasa dengan kopi. Tak ada kopi untuk sarapan, maka hari terasa aneh dan berasa kurang. Pernah beberapa saat digantikan teh tubruk, namun ritual meminum kopi barang seteguk dua teguk sulit tergantikan.

Hobi menyesap kopi rupanya diwariskan oleh nenekku. Ada dua cangkir besar kuno (yang umumnya berwarna hijau) di meja makannya. Dua cangkir besar kopi itu sudah ada sejak pagi. Siapa saja yang menyesapnya? Hemm jumlah jari tanganku sepertinya tidak cukup. Nenek, tentu saja. Ada paman dan tanteku yang waktu itu masih tinggal bersama nenek. Total ada lima orang. Belum lagi ada kami berempat, yang biasanya juga menyesapnya saat siang dan sore hari. Juga, sepupuku yang sering bertandang ke kami. Jadi, di pinggir mug itu telah menempel bekas bibir kami. Dan, kami tidak merasa jijik hehehe. Mungkin gara-gara semuanya adalah saudara kami. Sehingga, saya menyebutnya kopi persaudaraan atau kopi kekeluargaan. Gara-gara kebiasaan kami menyesap kopi, nenek bisa menyeduh kopi hingga 3-4 kali sehari.

Kopi hitam itu enak dinikmati kapan saja. Paling enak memang saat uapnya masih mengepul. Wangi pahit bercampur sedikit asam. Nenek dan mama biasa membeli kopi yang digiling langsung di tempatnya. Kopinya hanya dalam kemasan plastik saja, namun aromanya sedap. Lebih mantap dibandingkan kopi-kopi dalam kemasan yang dijual di supermarket. Jika nenek lebih konservatif, mamaku lebih kreatif. Dia mulai bereksperimen membeli kopi kemasan di supermarket. Serunya, rata-rata kopi itu menawarkan hadiah berupa piring dan mangkok yang cantik. Sehingga, aku mendukung hobi baru ibuku. Sayangnya, ayahku dan nenekku tidak sepakat. Mereka tetap ngotot kopi giling. Baru akhir-akhir ini ayahku mau mereguk kopi kemasan. Ya…setelah sekarang tidak ada lagi yang menunggui kopi itu digiling.

Pernah suatu masa ayahku membawa oleh-oleh sebuah kopi dalam kemasan kayu dengan tutup jaring-jaring. Kopi racik, katanya. Saat pertama kali diseduh…tidak ada yang doyan. Aneh dan semrawut rasanya. Kayak jamu. Namun, mamaku yang tidak ingin membuang-buang makanan, pun sesekali menyeduhnya. Aku kadang-kadang menyicipinya barang seteguk. Dan aha..aku mulai suka, bahkan kemudian menyukainya. Rasanya dari aneh menjadi asyik. Bayangkan dalam kopi, ada campuran kayu manis, jahe, serai, dan rempah-rempah lainnya. Selain bikin mata melek, kerongkongan terasa hangat. Heemmm kopi yang ngangeni. Malangnya, hanya tiga kali papa membawa kopi tersebut. Setelahnya, kopi itu tidak pernah ada dalam menu sarapan kami.

Setelah bekerja aku masih memasukkan kopi sebagai menu harian. Namun, semakin lama semakin tergantikan teh tubruk dan susu. kebiasaan ini mulai muncul lagi sejak menikah dan tinggal di rumah sendiri. Kawasan rumah yang sejuk dan kecapekan bekerja sambil berkuliah serta mengerjakan pekerjaan rumah tangga kerap menuntut asupan kafein. Sayang suamiku tidak begitu doyan kopi, terutama kopi hasil eksperimen. Aku mencoba-coba membuat kopi racik, dari campuran kayu manis, serai, dan jahe. Bahkan pernah nekat menambahkan merica. Sayang, ramuan kopi racik masa kanak-kanakku belum kutemukan. Hemmmm cuaca mendung begini, jadi pengin meneguk kopi hangat…sedaaap.

Foto: Dari warung kopi ake
http://id.openrice.com/other/restaurant/reviews.htm?shopid=23355

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 11, 2012.

2 Tanggapan to “Mengenang Kopi Kekeluargaan: Dari Kopi Giling Hingga Kopi Racik”

  1. Sayangnya saya dan kopi tak bersahabat. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: