Kisah Mini: Bunga dari Seseorang

bunga-kisah mini<Catatan Dira>

Jam delapan pagi, ruangan telah terisi dan kami telah kembali sibuk dengan rutinitas. Dari ruangan Mitha, nampak terdengar ia sedang berdebat dengan lawan bicaranya di telepon. Kami mendapatkan perlawanan dari Direktur perusahaan klien kami yang hendak memutuskan kontrak dengan kami. Ia tidak menyetujui denda, dan hendak mengulur-ulur waktu pembayaran kami.

Biasanya, jika si pimpro gagal melakukan usahanya ini, Mithalah yang akan turun tangan. Di balik wajahnya yang lembut itulah tersimpan kekerasan watak Mitha yang sesungguhnya dan keahliannya berargumentasi yang sering tidak diantisipasi oleh lawan berbicaranya jika sekedar melihat penampilannya.

Dan memang benar, jagoan kami akan turun kandang dan bertempur. Ia keluar dari ruangannya dan memintaku menelpon supir kantor kami untuk membawanya ke perusahaan klien tersebut. Andi dan Nita dimintanya bersiap-siap dan menunggunya di bawah. Ia juga mengajak Henri, pakar hukum di perusahaan kami. Tim yang hebat, decakku. Ia tidak mengajakku, jadi rupanya kasus ini cukup serius.

Dari sekedar mencuri dengar, aku tahu proyek ini sebenarnya penting bagi perusahaan kami, bukan dari nilainya, namun malah karena ini merupakan sistem baru. Penting bagi perusahaan kami untuk selalu update dengan teknologi terbaru dan perusahaan mana yang akan menjadi kelinci percobaannya secara riil. Sistem ini telah melalui uji coba yang teliti dan berulang kali hingga diputuskan sistem ini telah layak jual dan cukup andal dalam hal keamanan.

Sampai makan siang Mitha belum kembali. Namun, ada sesuatu yang hebat terjadi di sini. Ada petugas pengiriman bunga yang menuju ruang sekretaris dan menanyakan nama Paramitha Rossa Aditya, itu Mitha atasanku. Kartika, si sekretaris menerima kiriman bunga dan menyuruh Anto, office boy kami, untuk menaruhnya di meja Mitha. Kami berempat, anak buahnya yang suka menggosip pun mengerubungi Anto dan menghentikan langkahnya, yang disertai aksi geleng-geleng kepala oleh Tika. Laura dan Kareen sibuk mengagumi bunganya.

What a romantic gift, Laura. Di Afrika Selatan cara ini digunakan pria-pria yang akan melamar kekasihnya”. Busyet nggak cuma di Afrika Selatan, di sini pun aksi mengirim bunga ke perempuan pun tetap dipandang klasik dan romantis.

I think we must sure about the sender, Kareen. Menurut saya romantis tidaknya tergantung pada pengirimnya, apakah pria atau wanita,” ujar Laura bersungut-sungut. Wah-wah-wah mengapa tidak dari tadi kami melihat kartu ucapannya ya.

Sementara kami mencari kartu nama, si Anto nampak kesal dan bingung. Ia tidak begitu mencerna dialog kami dan heran mengapa kami mengganggu pekerjannya yang nampak mudah ini. Melihat aksi kami, si Anto berpikir jika ada apa-apa dengan kiriman bunga ini. Jangan-jangan ada senjata serbuk yang membuat mengantuk tiba-tiba, atau bom dalam bunga, pikirnya

Aku menemukan kartunya yang berwarna pink. Wah-wah-wah rupanya si pengirimnya sedang jatuh cinta, teori Hendra yang diamini oleh Laura dan Kareen. Kartika yang awalnya gondok dengan ulah kami pun kemudian turut bergabung.

Setelah melihat namanya, Hendra berpikir-pikir akan sosok Deni, apakah ada karyawan kami yang bernama Deni. Tika yang menjadi sekretaris ikutan sibuk dan kemudian mengaku pernah mendapatkan telepon dari luar dengan nama Deni mencari Mitha dan meminta nomor langsung ke ruangannya. Hanya sekali itu saja, dan kami langsung setuju dengan teori Kartika.

“Orang Perancis juga suka memberikan bunga dan cokelat kekasihnya dan sayang selama aku di Vietnam aku jarang memperolehnya. Mitha sungguh beruntung,” tutur Laura.

“Beib, di Afrika Selatan, gadis yang menerima bunga adalah gadis yang special, very-very special,” kata Kareen tak mau kalah.

Duh hentikan dialog antarbangsa yang lama-kelamaan menjengkelkan ini. Hendra kesenengan banget, dia meski satu-satunya kaum adam di kompartemen ini, sangat menyukai dialog-dialog khas perempuan. Untung dia tidak sampai ketularan dan menjadi gay. Dia sempat naksir satu persatu dari kami, dan syukurlah tidak ada yang mau menerimanya, kami memperlakukannya jauh lebih baik, sebagai saudara dan teman kami.

Si Anto sempat melihat ada celah yang terbuka dan kontan melangkah dengan langkah cepat menjauh dari kami dan menuju ruangan Mitha. Misi mengantar bunga pun akhirnya selesai, tapi Anto sempat ragu, dan mencoba-coba mendeteksi apakah ada sesuatu yang berbahaya di kiriman bunga tersebut, tapi nampaknya aman-aman saja. Hemmm kapan ya aku bisa mengirim bunga seperti ini ke Dora, pujaan hatiku, desahnya.

Aku masih memikirkan kartu itu meski ada laporan yang harus kukerjakan. Deni, tiba-tiba hatiku berdesir tidak jelas, aneh. Aku tidak pernah mendengar atau mendengar Mitha pernah menyebutkan nama itu. Mitha tidak pernah menceritakan kisah asmaranya meski kami bisa disebut teman.

 To:Paramitha Rossa Aditya

Carpediem, Baby!

From Deni

Carpediem, aku men-goggling dan artinya adalah raihlah hari ini atau do the best. Sepertinya si Deni pria yang tidak biasa.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 27, 2013.

4 Tanggapan to “Kisah Mini: Bunga dari Seseorang”

  1. Jadi siapa Pus si Deni?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: