Bubur Kacang Ijo dan Kue Pukis Legendaris

burjo cikidong

Kuah bubur kacang hijau itu terasa hangat di kerongkongan. Manis dari gula kelapa berpadu dengan gurihnya santan dan empuknya kacang hijau yang telah dimasak sekian lama. Menyantap satu mangkok pun berasa memuaskan dan sangat mengenyangkan buat anak berusia enam tahun, usia dimana aku merasakan makanan kaki lima untuk pertama kalinya.

Saat itu ayah mengajakku dan kedua kakakku menuju jalan Sarangan yang pada masa itu, akhir tahun 80-an, sarat dengan warung tenda dan makanan kaki lima lainnya. Sabtu malam, seusai matahari terbenam adalah masa penduduk kota Malang untuk menikmati akhir pekan. Dan, salah satu wahana yang murah meriah adalah menikmati makanan kaki lima atau street food. Penjual bubur kacang ijo itu merupakan salah satu dari deretan warung tenda yang berjualan sejak sore hari. Selain bubur kacang ijo, ada juga penjual masakan sari laut alias seafood, bakso, sate ayam dan sate kambing, capcai, dan masih banyak lainnya. Hampir semua warung tenda tersebut sarat pengunjung pada Sabtu malam.

Meskipun ibu sering membuatkan bubur kacang ijo, bubur yang dijual di warung tersebut membuatku terkesan hingga terekam di benakku. Buatan ibu memang sedap, yang membuat beda adalah ibu menggunakan gula putih sedangkan si penjual kaki lima memilih gula merah dengan santan yang kental. Ada dua sajian yang ditawarkan oleh si penjual, bubur kacang hijau hangat atau disajikan dengan es batu. Pada kesempatan berikutnya, saya memilih es bubur kacang ijo, namun rasanya jauh lebih enak apabila disajikan hangat.

Itulah pengalaman saya menikmati sajian masakan kaki lima pada masa kecil yang terus terekam dalam benak. Baik dari rasanya yang gurih legit maupun dari segi suasananya. Pada masa-masa itu hawa kota Malang saat malam hari sangat sejuk. Saat yang pas menikmati sajian hangat di antara sekumpulan pengunjung yang berdesak-desakan di warung tenda yang sempit dengan bangku plastik.

Deretan warung tenda tersebut raib beberapa tahun kemudian. Saya tidak ingat persis kejadiannya, namun setelah masa pembenahan kota tersebut, ayah jarang mengajak saya jajan di luar. Ibu pun sering melarang kami jajan dengan alasan kurang bersihnya makanan yang dijual di jalanan. Namun, beberapa kali dalam sebulan, ayah masih sering membawakan martabak dan kue pukis yang dibelinya dari gerobak langganannya di Jalan Jaksa Agung Suprapto. Kue pukis dan martabak manisnya sangat legendaris dan merupakan oleh-oleh favorit saya masa itu. Kue pukisnya terbuat dari adonan bercampur susu. Isian dan taburannya sangat beragam, ada misis cokelat, keju, kornet, kismis, dan pisang, serta rasa cokelat. Semuanya enak. Namun, yang menjadi favorit saya adalah rasa keju dan kornet. Harum aroma susu bercampur dengan isiannya yang gurih. Saya selalu merasa tidak cukup untuk menikmati satu buah. Martabak manis atau yang lebih dikenal di Malang dengan sebutan terang bulan juga sangat sedap dengan isian misis, kacang tanah, dan susu kental manis yang berlimpah. Sayang, setelah si penjual meninggal, tidak ada lagi yang meneruskan menjual kue pukis dan terang bulan. Rasa kue pukis dan terang bulannya pun bak kenangan.

Satu lagi kue yang legendaris di kota Malang adalah kue putu dan pelengkapnya. Yang paling terkenal adalah pedagang yang berjualan di dekat sekolah katholik. Kelapa dan gula merahnya yang melimpah itulah yang membuat kue putu dan pelengkapnya itu makin sedap. Selain putu, ada cenil, lupis, kelepon, dan ketan hitam. Setiap kali tante saya membelikan jajanan pasar ini, air liur saya langsung terbit. Memang mantap banget rasanya. Tak heran apabila pedagang jajanan pasar ini mampu eksis hingga belasan tahun.

Dulu pada akhir tahun 80-an dan awal tahun 90-an, street food di kota Malang didominasi dengan penjual nasi goreng, capcai, bakso, soto, dan sate. Lokasinya pun tidak banyak atau mungkin karena saya masa itu masih kanak-kanak juga tidak terlalu sering menjelajah. Yang saya ingat, banyak penjual kaki lima di jalan Sarangan, sekitar pasar Tawangmangu, jalan Kaliurang, sekitar alun-alun kota Malang, jalan Jodipan, dan jalan Bengawan Solo. Setelah saya memasuki masa SMU, peta persebaran makanan kaki lima di Malang mulai berubah. Pedagang makanan kaki lima di jalan Sarangan telah raib, hanya ada pedagang es campur saat siang hari, begitu juga dengan penjual di sekitar pasar Tawangmangu, jumlahnya menurun. Yang bertahan di sekitar pasar Tawangmangu adalah penjual gorengan, STMJ, dan jagung bakar. Warga kota Malang lebih memilih menyambangi area street food yang populer masa akhir 90-an yaitu seberang stasiun kota baru dan pulosari. Di seberang stasiun, penjualnya beragam, namun yang paling populer adalah menu aneka jenis es, pangsit, dan bakso. Di kawasan inilah konsep lesehan mulai diperkenalkan. Sementara di Pulosari, warung tendanya telah tertata rapi.

Lokasi Pulosari ini ada di dekat SMA Albertus atau yang lebih populer dengan nama SMA Dempo. Di sini menu populer adalah roti bakar, jagung bakar, dan pisang bakar, meski ada juga penjual makanan fried chicken, aneka jenis es, bakso, aneka penyet, pangsit, dan menu lainnya. Saat Sabtu malam, tempat ini penuh disesaki pengunjung yang umumnya remaja dan mahasiswa. Pangsit sendiri adalah sebutan untuk masakan berjenis mie. Berbeda dengan mie ayam khas Jakarta, masakan ini disajikan langsung dengan kuahnya dengan pelengkap ayam dan sawi, serta kerupuk berwarna kuning renyah yang disebut pangsit. Di sini umumnya masakan yang tidak terlalu berat lebih laris, sehingga penjual roti dan pisang bakar lebih dari satu warung. Roti tersebut memiliki banyak isian atau topping sebagai pemikat. Ada rasa pisang, keju, misis, selai, atau kombinasi. Begitu juga dengan menu pisang bakar.

Seperti halnya fashion, street food juga mengalami tren. Awal tahun 2000-an, makanan kaki lima di kota Malang dipengaruhi oleh tren lesehan. Tak heran apabila sepanjang jalan di dekat kampus Brawijaya dipenuhi dengan penjual mahasiswa dadakan yang menjual suasana makan lesehan dengan lilin dan meja pendek. Karena lilin identik dengan keromantisan, sebagian besar pengunjung adalah mereka yang datang berpasangan. Meski ada juga di antaranya yang datang beramai-ramai. Saya juga pernah mencobainya, datang bersama kakak. Menu yang mereka jual ala kafe, yang menurut saya terkesan seadanya. Sebenarnya suasana di jalan Veteran cukup lumayan, karena jalan di tempat tersebut tertata rapi dan tidak banyak dilalui kendaraan saat malam hari. Namun, serbuan pengamen membuat saya kurang nyaman, dan memilih warung tenda konvensional yang lebih nyaman.

Kini, setelah saya tidak tinggal lagi di kota Malang, ada banyak perubahan di sana-sini, mulai dari tren dan peta wisata kuliner kelas jalanan. Hampir semua jalanan memiliki warung kaki lima. Hal ini juga dipengaruhi dengan semakin berkembangnya kota Malang, hingga ke pinggir-pinggir kota seperti kawasan Sawo Jajar dan Tidar, yang dulunya merupakan daerah pengembangan. Jenis masakannya pun bervariasi, meski masih didominasi oleh makanan seperti nasi goreng, capcai, bakso, gorengan, dan sate. Penjual makanan tradisional, seperti putu, angsle, ronde masih ada, meski jumlahnya semakin minim dan sulit dijumpai. Pedagang kaki lima dengan konsep franchise mulai marak, seperti penjual burger murah, creepe, olahan jamur, ayam goreng, dan sejenisnya. Banyak di antaranya yang sekedar tren sesaat, sehingga nasibnya pun hanya semusim. Namun, banyak juga yang bertahan dan semakin memperluas cabangnya. Konsep lesehan masih eksis meski tidak sebanyak pada masa kejayaannya..

Kembali tentang street food, menurutku street food di Indonesia merupakan salah satu bentuk budaya kota tersebut. Street food Malang berbeda dengan di Jogja, Jakarta, dan kota-kota lain baik dari segi makanan maupun suasananya. Karena itu, setiap berkunjung ke kota, kusempatkan untuk mengunjungi street food-nya untuk lebih mengenal kota tersebut. Dengan maraknya street food di Indonesia siapa tahu Indonesia bisa mengadakan even seperti World Street Food Congress 2013.

foto: diambil dari cikidong.com

~ oleh dewipuspasari pada Mei 6, 2013.

2 Tanggapan to “Bubur Kacang Ijo dan Kue Pukis Legendaris”

  1. Mantabh. Semoga menang Pus. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: