Java Rockin’Land 2013: Fokus di Aksi Musisi Lokal

Camera 360

Jika pada dua penyelenggaraan Java Rockin’Land (JRL) sebelumnya, saya datang khusus untuk menonton musisi idola mancanegara, yaitu Mr Big dan The Cranberries, maka kunjungan saya pada JRL ketiga ini ingin berfokus pada band-band lokal, meski sempat juga menonton aksi Gossip Girl, band asal Amrik dan Utopia, band asal Taiwan. Band lokal yang tampil pada hari kedua yang sempat saya tonton, yakni Pas Band, Gigi, /Rif, Roxx, dan Deadsquad. Seperti apa penampilan mereka?

Camera 360Pas Band

Saya datang terlalu sore sehingga hanya bisa memperdengarkan beberapa lagu dari Pas. Personel mereka masih kompak berempak, Yukie di bagian vokal, Bambang Sutejo alias Beng-beng di gitar, Trisno dan Sandy masing-masing sebagai bassist dan drummer. Saya agak kecewa karena pada beberapa lagu terakhir tidak ada lagu kesukaan saya seperti Bocah dan Impresi. Dua lagu tersebut yang menurut saya melambungkan nama Pas Band sebagai band indie yang mampu menembus label mayor. Musisi asal Bandung ini tergolong produktif, sejak 1993, mereka berhasil meluncurkan 9 album dan 1 album kompilasi. Mereka juga suka berkolaborasi dengan penyanyi perempuan seperti Reza Artamevia, Bunga Citra Lestari, dan Tere. Dengan nama terakhir yang paling sukses untuk kolaborasi, yaitu dengan lagu bertajuk Kesepian Kita.  Untuk aksi panggungnya kok menurut saya biasa-biasa, kurang serasi dengan nama besar mereka. Suara Yukie kurang semantap dulu, begitu pula dengan permainan gitar Beng-beng. Apa gara-gara masih sore sehingga mereka belum panas? Atau atmosfer penonton yang masih belum terlalu ramai?

Gigi

Meski band ini masih sering wora-wiri di televisi, namun aksi panggung mereka selalu menarik untuk dilihat. Saya sendiri mungkin sudah hampir tujuh tahun tidak melihat penampilan mereka selalu live. Di antara band lokal yang saya tonton di JRL, Armand Maulana atau vokalis Gigi yang paling komunikatif. Ia juga terus membujuk penonton agar lebih ekspresif dalam menonton aksi panggungnya, tidak sekedar ikut bernyanyi.

Untuk stamina, saya akui Armand masih hebat di usianya yang memasuki kepala empat. Beberapa lagu ia nyanyikan tanpa jeda. Dan, ia tak basa-basi kontan menampilkan lagu-lagu terbaik Gigi. Hemm kalau disinggung lagu terbaik Gigi, maka yang saya ingat adalah tahun 90-an. Dan memang, Armand menyebut konser kali ini adalah reuni tahun 90-an. Lagu yang terbaru hanya segelintir yang ia bawakan, seperti Facebook dan 11 Januari. Lagu tahun 90-an cukup banyak dinyanyikan yang membuat sebagian besar penonton yang rata-rata di atas usia 20-an ikut bernyanyi. Mulai dari lagu Janji, Terbang, Bumi Menangis, dan Jomblo. Armand juga menyanyikan lagu Bengawan Solo yang diubah aransemennya menjadi bernuansa rock. Konser yang menarik, sehingga saya tak beranjak dan pindah ke panggung lainnya.

Camera 360

Roxx

Usai Gigi, ada rehat sejenak untuk mempersilahkan penonton untuk melaksanakan sholat Maghrib. Kemudian, dari sisi panggung Tebs terdengar musik hard rock. Saya asing dengan penampilnya dan bertanya ke panitia. Rupanya band ini telah beberapa kali tampil di JRL dan cukup punya nama di blantika musik rock. Wah saya ketinggalan berita nih.

Mereka band yang bermain di jalur hard rock, seperti Metallica dan Megadeth. Aksi panggungnya lumayan bagus meski si vokalis sudah nampak tidak muda. Atmosfer rock benar-benar terasa, dibandingkan penampilan Pas dan Gigi. Dan setelah empat lagu, saya berniat pindah ke main stage untuk menonton band asal Bandung lainnya, rombongan pasukan Joker alias /Rif. Ketika berbalik, baru sadar kenapa penonton lebih ramai dibandingkan sebelumnya, oh rupanya Gubernur DKI Jakarta sedang ikut menonton aksi Roxx.

Camera 360/Rif

Band yang suka berdandan ala pasukan Joker ini selalu menarik ditonton sejak mereka tampil pertama dengan lagunya, Radja. Penampilan live mereka bahkan jauh lebih seru dibandingkan versi TV atau rekaman. Ya, bukan hanya penampilan vokalisnya, Andi, saja yang menarik, namun juga aksi Jikun dan Ovy, serta si Maggi. Hanya pemain bas tambahan, Teddy, yang kemudian menjadi bassist resmi mereka, yang nampak kalem.

Saya meski menyukai /Rif, hanya tahu sedikit dengan lagunya, hanya Radja, Bunga, Loe to Ye, dan sebuah lagu tentang Korupsi. Tapi tidak apa-apa kok karena aksi panggung mereka tidak membosankan, apalagi saat Andi mendendangkan lagu Bob Marley, No Woman No Cry, dan menyanyikan lagu yang dipopulerkan Ikang Fawzy, Preman. Seru. Dan saya lagi-lagi malas beranjak meski ada J-Rock di panggung lainnya.

Deadsquad

Ketika Aris, sepupu saya, menyarankan saya mendengarkan lagu Pasukan Mati, saya merasa lemas, energi saya tersedot. Busyet ini lagu kok tidak jelas liriknya, dan bernuansa underground kelas berat, yaitu death metal. Dibandingkan Burger Kill, energi mereka lebih ganas, begitu juga dengan band asal Amrik Suicidal Tendencies. Bahkan, kata Aris, Lamb of God juga masih kalah gahar.

Dan ternyata, aksi panggung mereka lebih ganas lagi. Saya baru tahu JRL telah menampilkan beberapa kali sehingga saya memberikan jempol untuk musik yang lebih variaCamera 360tif. Karena setahu saya band underground ditampilkan di festival yang biasanya kurang populer dan menarik massa tertentu saja. Di sini, banyak penggemar rock yang penasaran dengan mereka.

Bukan hanya Pasukan Mati yang membuat nafas seakan megap-megap. Setelah empat lagu, saya benar-benar merasa kehabisan nafas dan pindah ke panggung sebelah. Padahal, jika dilihat dari penampilan fisik, para pemain mereka cenderung biasa. Bahkan, vokalisnya, Daniel, cukup cakep dan kalem untuk ukuran musik metal.  Saya baru tahu, jika Steve Item, gitaris Andra & TheBackbone juga menjadi gitaris dalam Deadsquad. Cuma yang membuat saya kurang suka, vokalis mereka tak pernah berhenti dari asap rokok. Apa-apaan nih tampil di panggung dengan rokok di tangan. Di setiap jeda pun Daniel terus asyik merokok, ckckck.

Band Mancanegara: Gossip, Utopa, dan Last Dinosaurs

Di sela-sela penampilan band lokal, terselip beberapa nama band mancanegara, seperti Gossip, Utopia, dan Last Dinosaurs. Dari tiga nama tersebut, saya paling suka Utopia karena musiknya yang unik. Mereka menggunakan musik elektronika dan menyebut musik mereka ambient electro pop. Vokalis band ini adalah gadis cantik bernama Olivia Yan, suaranya jenis soprano, dengan tiga personel lainnya, Steven, Tower, dan Duza. Meski saya asing sama sekali dengan lagu-lagu mereka, namun musik mereka asyik dinikmati dan easy listening. Sayang mereka kebagian panggung yang kecil dan penonton hanya sedikit.    Camera 360Sedangkan Gossip dan Last Dinosaurs masing-masing dari Amrik dan Australia. Vokalis Gossip juga cewek yang bernama Beth. Suaranya bening dan tinggi, dan staminanya luar biasa meski berbadan subur. Sementara Last Dinosaurs digawangi empat anak muda dengan genre rock alternatif. Tapi jujur, saya merasa penampilan mereka biasa-biasa saja, tidak istimewa. Dan akhirnya saya lebih memilih untuk pulang.

~ oleh dewipuspasari pada Juli 1, 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: