Dari Ibukota Menuju Bali dengan 200 Ribu Perak

Camera 360

Ketika ada acara konferensi TI di Bali dan saya menjadi salah satu peserta, saya kelimpungan mencari tiket pesawat. Rupanya pada akhir September Bali sangat sibuk, akibatnya harga tiket pesawat pun melambung. Harga termurah dengan jadwal yang tidak enak dikenakan Rp 750 ribu. Saya mulai berpikir keras, naik pesawat memang enak dan cepat, tapi harganya harus saya kalikan dua kali lipat untuk perjalanan baliknya. Belum lagi urusan makan, transportasi menuju tempat seminar, dan tempat menginap. Wah bikin makin sesak nafas saja. Akhirnya terlintas di benak untuk melakukan perjalanan via darat. Dengan bekal di bawah Rp 1 juta dapatkah saya melakukan perjalanan pulang pergi ke Bali? Ternyata bisa. Bahkan dengan Rp 200 ribu saya sudah bisa tiba di tempat konferensi dengan segar bugar.

Perjalanan solo terakhir saya jalani ketika menuju kota Mataram. Bukan menuju kota Mataramnya yang mendebarkan, melainkan perjalanan untuk mengobati rasa penasaran saya akan Pulau Sumbawa. Sebenarnya jika ada pertanyaan, lebih asyik mana perjalanan solo atau berdua dengan pasangan saya akan menjawab yang kedua. Perjalanan solo biasa saya lakukan jika bujet terbatas atau waktu yang sedang tidak berkompromi. Di perjalanan berdua, saya lebih banyak mengandalkan pasangan. Namun, saat perjalanan solo saya mengandalkan diri sendiri. Di sinilah keberanian dan karakter saya diuji. Dan saya bersyukur sejauh ini orang-orang yang saya jumpai di perjalanan adalah mereka yang berwatak terpuji, bahkan ada beberapa di antaranya yang menginspirasi saya.

Perjalanan ke Bali ini menurut saya adalah kompromi antara tekat yang kuat dan bantuan dari alam. Ada buku bertajuk Semesta Mendukung yang menceritakan tentang bantuan tak terduga dan ini saya alami sebelum dan selama di perjalanan.

Bantuan pertama adalah tiket promo kereta api. Hore KAI merayakan ulang tahun dengan bagi-bagi tiket murah. Senangnya, saya mendapatkan tiket Gumarang bisnis Jakarta-Surabaya dengan harga Rp 75 ribu dan tiket Mutiara Selatan eksekutif Surabaya-Banyuwangi dengan Rp 50 ribu saja. Padahal tiket normal masing-masing kereta tersebut berkisar Rp 250 ribu dan Rp 130 ribu. Untunglah, akomodasi saya dua pertiga perjalanan telah berada di tangan. Sedangkan bis menuju Bali saya beli di tempat setelah tiba di Banyuwangi. Waktu itu saya ceroboh tanpa menawar terlebih dahulu bus menuju Bali. Padahal bis menuju Bali umumnya hanya Rp 30 ribu dan Rp 6500,- untuk tiket ferinya. Namun karena kru bus mengiming-imingi bahwa bis akan langsung menuju terminal Ubung, bukan terminal Mengwi, maka saya pun setuju. Dasar sial, bus tersebut ingkar janji kepada seluruh penumpang. Bus tetap turun di terminal Mengwi, dan sopir angkot dengan semena-mena memberikan tarif Rp 10 ribu menuju terminal Ubung. Cerita detail tentang perjalanan akan saya sampaikan per bagian.

Detail Transportasi:
Jakarta-Surabaya (Gumarang) : Rp 75 ribu//promo
Surabaya-Banyuwangi (Mutiara Selatan) : Rp 50 ribu//promo
Bus Banyuwangi-Terminal Mengwi Bali : Rp 60 ribu (sudah termasuk tiket feri Rp 6500,-)
Angkot ke Terminal Ubung : Rp 10 ribu
Total 195 ribu

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 20, 2013.

2 Tanggapan to “Dari Ibukota Menuju Bali dengan 200 Ribu Perak”

  1. mestakung ceritanya ya Pus.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: