Menuju Bali: #Surabaya Mulai Berubah Wajah

Sate Psr Turi (2)

Surabaya pernah menjadi kota tinggalku selama kurang lebih enam tahun. Dari sejak menimba ilmu di Institut Teknologi Sepuluh November hingga bekerja di sebuah media besar yang berpusat di Surabaya bagian selatan. Setelah itu saya berpindah kerja ke Jakarta. Terakhir ke sini adalah tahun 2008 dimana saya sempatkan untuk bertemu dengan rekan-rekan di tempat kerja lama. Dan setelah lima tahun, saya merasa takjub dengan perubahan yang ada di Surabaya. Sebuah kota yang sekarang dipimpin oleh rekan sealumni, bu Risma yang dahulu terkenal sebagai ibu taman Surabaya.

Surabaya terletak di Jawa bagian timur. Oleh karena itu matahari muncul lebih cepat dibandingkan kota-kota lainnya di Jawa Tengah dan Jakarta. Pukul 05.00 di sini sudah seperti pukul 06.30 di Jakarta. Saya keluar dari Stasiun Pasar Turi dengan ragu. Perjalanan berikutnya berangkat dari Stasiun Gubeng. Saya harus mencari angkutan umum yang akan membawa saya ke sana. Karena lapar saya pun mencari tempat makan di luar stasiun. Ada penjual sate yang terlihat.

Camera 360

Awalnya saya mengira penjual tersebut menjual sate klopo, tetapi dugaan saya meleset. Pasutri tersebut hanya menjual sate ayam dan teh manis. Ya, tidak apa-apa deh. Sepiring nasi plus sepuluh tusuk sate ayam dan segelas teh manis dihargai Rp 11 ribu. Sate ayamnya lumayan enak dan menggunakan daging ayam betulan, karena saya perhatikan betul cara mereka memotong dagingnya menjadi kecil-kecil sebelum ditaruh di tusukan sate. Setelah kenyang dan perut nyaman, saya menanyakan angkutan menuju Gubeng.

Busyet, rupanya saya harus jalan jauh menuju perempatan. Saya menghitung jarak. Untuk menuju angkot tersebut saya harus berjalan kurang lebih 1 km. Ongkos angkotnya sekitar Rp 4 ribu dan harus berpindah lagi ke Lyn O. Jadi minimal saya mengeluarkan Rp 8 ribu. Jika naik taksi, minimal saya mengeluarkan 25-30 ribu, atau bisa jadi lebih karena taksi yang berada di sekitar stasiun banyak yang tidak jelas. Ada juga tukang becak, tapi saya tidak tahu berapa saya harus menawar. Akhirnya saya putuskan untuk jalan kaki menuju lokasi perhentian angkot.

Dari stasiun pasar turi saya berjalan menuju Jalan Semarang hingga ke perempatan. Jalan Semarang dulu sering saya sambangi untuk mencari buku-buku cerita bekas. Koleksi Tintin saya dulu banyak saya dapatkan di sini dengan harga Rp 20 ribu, begitu juga dengan komik-komik Elex Media dan novel-novel karya Michael Crichton, salah satu penulis favorit saya. Tapi karena saat ini belum menunjukkan pukul 06.00, tidak ada satupun penjual buku yang terjual.

Ketika tiba di perempatan, tidak terlihat angkot yang hendak saya tumpangi. Saya bertanya ke penjaga warung makanan dan ia pun hanya berujar agar saya sabar menunggu karena masih pagi. Tak lama ada penarik becak tua yang melintas. Ia menawarkan diri untuk mengantar dengan harga Rp 10 ribu. Ya, tidak begitu beda dengan ongkos angkot, saya pun mengiyakan.

Ketika naik becak itulah saya melihat kota Surabaya yang banyak berubah. Ada beberapa pusat perbelanjaan yang baru dan nampak megah. Wah-wah-wah semakin banyak nih mal di Surabaya. Jalanan nampak bersih dan semakin banyak taman cantik yang bermunculan. Hemmmm rupanya ibu mantan kepala pertamanan yang naik pangkat menjadi ibu walikota berhasil mengubah kota Surabaya menjadi kota yang lebih bersih, segar, dan semarak. Bahkan, kata teman yang tinggal di Surabaya, selokan-selokan juga mulai bersih sehingga ancaman banjir pun mulai berkurang. Tidak heran ketika di reuni akbar ITS tahun lalu di Jakarta, ia mendapat penghargaan khusus.

Tidak lama becak pun tiba di Stasiun Gubeng bagian belakang. Si penarik becak mulai bertingkah. Melihat tanda-tanda yang tidak mengenakkan, saya kontan memberi tambahan Rp 3 ribu dan mengucapkan terima kasih. Pesan saya hati-hati dengan tawaran tukang becak, terkadang setelah kita naik becak mereka berubah pikiran dalam memberikan harga. Jika masih wajar bisa Anda turuti, tapi jika mulai aneh-aneh segera minta berhenti di tempat keramaian.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 18, 2013.

2 Tanggapan to “Menuju Bali: #Surabaya Mulai Berubah Wajah”

  1. Aih serem bener ya Pus tukang becak yang suka berubah pikiran gitu. Jadi kangen Surabayaaa.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: