Perjalanan Pulang yang Melelahkan

3677536-gunung_argopuroSatu hal yang saya kurang sukai bila melakukan perjalanan adalah melakukan perjalanan kembalinya. Jika saat berangkat bersemangat, saat pulang membayangkan jauhnya perjalanan dari Banyuwangi ke Jakarta kontan membuat saya lemas. Akhirnya saya berniat beristirahat dulu ke kampung halaman di Malang. Tapi rupanya jarak Banyuwangi ke Malang juga cukup jauh. Ditempuh dengan naik bus melalui pantura ternyata memakan waktu hingga sekitar 10 jam. Awalnya saya berniat naik bus melewati Jember. Tapi kata pemilik penginapan, bus rute Probolinggo via Jember sering nakal. Jika penumpang sepi, maka penumpang sering ditelantarkan di terminal Jember tanpa ada kepastian bus ke Probolinggo atau ke Malang. Ia rupanya pernah mengalaminya, padahal saat itu ia membayar penuh hingga ke tujuan akhir. Sementara bus Banyuwangi ke Malang sudah tidak ada lagi. Adanya kereta, tapi kereta ini hanya tersedia pukul 5 pagi dan tiba di Malang sekitar pukul 13.00.

Saya akhirnya mencari bus melewati pantura dengan tujuan akhir Probolinggo. Bus yang seharusnya berangkat pukl 13.30, ngetem hingga sekitar pukul 14.30 baru berangkat. Dan beberapa kali berhenti untuk memaksimalkan jumlah penumpang. Alhasil pukul lima sore saya baru tiba di terminal Situbondo.

Sebenarnya pemandangan pantai pantura cukup menawan, dengan adanya pantai Pasir Putih. Tapi saya lelah dan duduk tidak nyaman karena penumpang sebelah saya banyak memakan tempat duduk. Kaki saya juga terjepit oleh tas ransel yang ada di bawah. Saya juga tidak berani minum banyak-banyak karena tidak ada toilet di bus.

Jalanan makin gelap dan ketika melewati gunung Argopuro saya merasa takjub. Gunung tinggi yang gelap tersebut nampak agung. Kata penumpang sebelah saya yang telah berganti dengan penduduk asli lembahArgopuro, hawa di lembah saja sudah dingin dan sering terjadi hujan es.

Wah..wah..wah saya jadi penasaran meskipun agak merinding mendengar kesan angker yang sering dinobatkan pada gunung ini seperti pada gunung Arjuno. Konon Argopuro berarti gunung yang memiliki pura. Pasalnya di gunung banyak tersisa pura-pura yang dulu digunakan masyarakat Hindu sisa jaman Majapahit. Di sini, putri Brawijaya bernama Dewi Rengganis dikabarkan tinggal bersama pengikutnya.

Selepas Argopuro jalanan semakin sempit sehingga laju bus semakin tersendat-sendat. Rasanya capek banget. Dan ketika tiba di terminal Bayuangga, Probolinggo, saya merasa lega dan was-was. Was-was karena ini perjalanan pertama saya di Probolinggo, selain ke Bromo. Saya berpura-pura sudah sering ke terminal ini dan langsung naik bus ekonomi ke Malang. Bus ekonomi dipatok Rp 14 ribu. Sedangkan bus dari Banyuwangi-Probolinggo saya lupa besarannya, tapi total keduanya tidak sampai Rp 50 ribu.

Bus yang sangat jelek dan kotor ini cukup cepat juga tiba di Malang, padahal ngetemnya cukup lama. Dari jam 8 lebih saya tiba di Probolinggo, hingga jam 21 lewat baru berangkat. Sekitar 2,5 jam kemudian bus ini tiba di terminal Arjosari. Total 10 jam perjalanan dari Banyuwangi. Setelah kakak saya menjemput, saya langsung pulas di tempat tidur. Zzzzzz…zzzzz.

Gambar dari: kabarsiliwangi.com

 

 

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 13, 2013.

2 Tanggapan to “Perjalanan Pulang yang Melelahkan”

  1. Tapi seru deh kayaknya Pus jalan-jalannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: