Perjalanan Jakarta Menuju Semarang: Hujan Hujan dan Hujan

perjalanan (5) Bepergian saat musim hujan cenderung merepotkan. Apalagi jika perjalanan tersebut di atas angka limaratusan kilometer. Namun karena kereta api sudah penuh, akhirnya kami pun memutuskan mengendarai si putih bolak balik Jakarta ke Semarang. Dan kepergian kami ini diringi oleh hujan yang demikian derasnya.

Perjalanan ini start pukul 13.30 dari Tol Rawamangun diiringi hujan gerimis. Perjalanan lancar, jalanan tidak terlalu macet. Namun, memasuki Bekasi Timur hujan turun semakin deras hingga jalanan sulit dilihat. Saya yang duduk di bangku penumpang sebelah suami yang bertindak sebagai sopir sampai memelototkan mata ke depan dan ke samping, takut jika suami melewati pagar pembatas. Hujan mulai sedikit reda di Cikarang Pusat. Kami lantas berhenti di rest area setelah tol Cikarang untuk sholat dan melemaskan tubuh.

Setelah melewati tol Cikampek, kami menuju Indramayu dan Cirebon. Saat memasuki tol Kanci-Palimanan kami kembali disambut hujan. Hujan sangat deras membuat kami berdua was-was apalagi tol baru setelah Kanci menuju Brebes ini sangat sepi dan gelap. Jika dihitung dari awal kami masuk hingga keluar tol, hanya ada sekitar 15 kendaraan roda empat. Tol ini juga mahal, yaitu Rp 21.500 padahal jalurnya tidak terlalu panjang.

perjalanan (9)

Kami pun tiba di Brebes Di sini cuaca mulai bersahabat. Sebenarnya kami berdua lapar. Jarum jam juga sudah menunjukkan pukul 19.00. Tapi karena jalanan enak kami baru beristirahat selepas Tegal menuju Pekalongan. Kami menyantap satekambing muda yang terkenal di Tegal. Satenya enak, empuk dan cukup pedas. Per porsinya dikenakan Rp 25 ribu. Kami memesan 15 tusuk sate kambing dan teh manis hangat. Sekitar pukul 20.30 kami kembali melanjutkan perjalanan.

Mobil melewati Pekalongan, Kendal, Batang, dan Pemalang. Saat di telepon, kakak mengingatkan agar berhati-hati saat melewati Alas Roban. Tapi karena kami tidak tahu persisnya dimana Alas Roban itu kami pun berdoa setiap kali melewati jalanan gelap dan bertemu dengan hutan. Sekitar pukul 23.00 lewat kami tiba di Semarang.

Jalan Alternatif ke Ungaran
Karena suami sudah lupa jalan ke kampusnya di Universitas Diponegoro, kami ketinggalan memasuki tol. Dan ketika ada plang menunjukkan jalan alternatif menuju Ungaran, saya mengusulkan untuk melewati jalan tersebut. awalnya kami melewati perumahan elit..lambat laun kami melewati jalan yang sepi dan gelap. Kami takut tersesat apalagi tidak ada kendaraan selain kami saat itu. Mau kembali ke jalan awal sebelum plang alternatif bakal lebih jauh. Akhirnya suami nekat memasuki jalanan yang gelap dan kanan kiri hutan tersebut. Saat itu sudah hampir pukul 24.00 dan jalanan sangat gelap. Jujur saya agak takut jika ada hantu nyelonong atau kawanan begal. Baru sekitar 10 menit kemudian ada toko retail. Suami pun turun dan menanyakan jalan ke Ungaran Bawah.

Untunglah kami bisa kembali ke jalan yang cukup terang. Akhirnya kami tiba juga di jalan Setiabudi yang tak jauh dari Kampus Undip Tembalang. Saya kapok lewat jalan alternatif tadi. Hiih serem banget, gelap dan berhutan.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 18, 2013.

 
%d blogger menyukai ini: