Banyuwangi yang Kaya Potensi Wisata dan Strategi Pemasarannya

Camera 360Kunjungan ke Banyuwangi akhir September lalu sebenarnya bukanlah kali pertama. Tapi, dalam persinggahan kali kedua inilah saya bisa melihat sosok sebenarnya Banyuwangi saat ini. Kabupaten yang telah tumbuh menjadi kota modern. Jalanan yang lebar, rapi dan diaspal serta stasiun kereta api yang bersih, juga Alun-alun Kota yang semarak dengan berbagai acara. Daerah yang dulu dikenal sebagai daerah terujung di Pulau Jawa ini juga mulai meng-internasional dengan adanya ajang internasional Banyuwangi Tour de Ijen yang diikuti oleh berbagai negara.

Ya, saya beruntung berkunjung ke Banyuwangi setelah daerah ini didaulat sebagai tuan rumah perlombaan sepeda bergengsi tingkat internasional. Adanya ajang berkelas internasional ini membuat daerah ini dengan sigap membenahi infrastuktur mulai dari jalan, transportasi, dan penginapan. Jika tiga tahun lalu, medan menuju Ijen dikenal sulit karena jalanan yang berbatu-batu dan terjal maka saya takjub karena sebagian besar  jalan telah mulus. Alhasil, perjalanan yang dulu bisa ditempuh antara 4-5 jam, kini bisa ditempuh hanya sekitar dua jam.

Ajang Banyuwangi Tour de Ijen juga menjadi promosi gratis wisata Ijen, gunung yang memiliki panorama indah, tidak kalah dengan Gunung Bromo. Sebelumnya, wisatawan mancanegara hanya Pantai Plengkung. Itupun hanya di kalangan pecinta olah raga selancar air. Konon, ombak di pantai ini merupakan ombak yang terbaik di Indonesia, bahkan menjadi salah satu tempat selancar air terbaik di dunia.

Gunung Ijen inilah yang menjadi pusat ketertarikan saya selama di Banyuwangi. Meski gunungnya tidak terlalu tinggi, medannyacukup menguras energi. Beberapa medan menanjak membuat nafas terengah-engah. Baru dua jam kemudian saya baru berhasil tiba di puncak dan melihat kawah berwarna turquoise. Sayangnya saya hanya dapat singgah di salah satu obyek wisata karena jarak antar tempat wisata yang berjauhan sementara waktu yang saya miliki hanya terbatas.

Potensi Wisata Banyuwangi

Dari informasi yang saya kumpulkan di media online dan dari buku panduan wisata populer, Lonely Planet, saya mengetahui ada begitu banyak tempat wisata yang sangat menarik dan tak kalah memukau dibandingkan Gunung Ijen dan Pantai Plengkung. Obyek-obyek wisata tersebut di antaranya Taman Nasional Baluran, Pulau Merah, Air Terjun, dan Taman Nasional Alas Purwo.  Yuk kita kenali satu-persatu obyek-obyek wisata Banyuwangi:

  • Gunung Ijen

Gunung ini memiliki kawah dengan danau berwarna hijau kebiruan (turquoise) yang indah. Di sini juga dilakukan penambangan belerang. Para wisatawan umumnya datang ke sini saat dini hari untuk melihat nyala api biru di kawah dan melihat pemandangan matahari terbit. Tapi, panorama Ijen saat pagi hari juga tak kalah indah.

  • Taman Nasional Baluran

Baluran sebenarnya sudah menjadi agenda saya setelah kunjungan ke Ijen. Namun tenaga saya rupanya tidak bakal cukup jika menuju dua tempat wisata ini dalam waktu sehari. Apalagi Baluran sangat luas. Baluran yang disebut Afrika van Java ini memang memiliki panorama serasa di Afrika dengan adanya banteng, rusa, dan satwa liar lainnya. Di sini juga terdapat hutan bakau dan pantai yang cantik.

  • Pantai Plengkung

Pantai Plengkung atau G-Land dikenal sebagai pantai yang memiliki ombak terpanjang dan tertinggi setelah Hawai. Banyak peselancar dari Australia, Amerika, dan Selandia Baru menuju pantai ini yang berada di kompleks Taman Wisata Alas Purwo. Tidak jauh dari pantai ini terdapat pantai Trianggulasi yang juga indah.

  • Pantai Watu Dodol

Pantai ini terletak di utara menuju Situbondo. Pantainya berpasir putih dengan patung penari gandrung, tarian khas Banyuwangi.

  • Pulau Merah

Waktu ke sini, teman sebangku di kereta api menyarankan saya untuk ke pulau ini. Di selatan Banyuwangi terdapat pantai dimana di tengah-tengahnya terdapat pulau berwarna kemerahan sehingga disebut Pulau Merah.

  • Teluk Hijau

Teluk ini berada satu kompleks dengan pantai Sukamade dan Rajeg Wesi, dimana di teluk ini kita bisa melihat pemandangan tebing-tebing dari atas bukit.

  • Pantai Sukamade

Pantai ini lebih dikenal sebagai tempat penangkaran penyu. Pantainya bersih dan pantai ini masih masuk dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri.

  • Pantai Rajeg Wesi

Pantai ini berada di kompleks Taman Nasional Meru Betiri dengan pasirnya yang putih dan lautnya bisa digunakan untuk renang.

  • Desa Wisata Osing

Desa wisata ini berada di  daerah Kemiren, sekitar 5 km dari pusat kota Banyuwangi. Di Desa Wisata Osing ada 32 acara budaya, seperti Ider Bumi, Tari Gandrung, Angkung Pgalak dan sebagainya.

  • Agrowisata Kali Bendo

Agrowisata ini mulai rajin dipromosikan oleh Pemda Banyuwangi. Di sini pengunjung bisa bersepeda sambil menikmati hawa sejuk dan panorama yang indah. Di sini ada perkebunan kopi dan sungai yang jernih.

  • Taman Suruh

Pemandian alami ini terletak di sebelah barat Banyuwangi, di Kecamatan Glagah. Airnya jernih dan berasal dari mata air setempat.

  • Air Terjun Lider

Air terjun ini berada di Kecamatan Songgon dan medannya cukup berat. Namun, hal itu akan terbayang oleh pemandangan cantik air terjun yang memanjakan mata.

Minimalisasi Kesan Negatif Wisatawan

Di kalangan wisatawan lokal, Banyuwangi memang kurang populer dibandingkan Bali dan Bromo. Di forum wisata seperti Indobackpacker, banyak yang mengeluhkan tentang sulitnya transportasi menuju Ijen dan Baluran sehingga anggaran yang dikeluarkan menuju ke sana cukup besar. Hingga saat ini, meskipun jalanan telah bagus, menuju Ijen harus menggunakan jasa ojek atau menyewa kendaraan pribadi karena dari perhentian kendaraan umum terakhir, yaitu Jambu, harus berjalan kaki sangat jauh menuju Pos Paltuding.

Padahal di kalangan wisatawan lokal yang tergabung dalam forum-forum wisata, pengalaman seseorang adalah informasi dan media promosi yang sangat berharga. Jika beberapa anggota forum menyatakan bahwa daerah A memiliki transportasi dan reputasi pengelolaan wisata yang sangat buruk, maka pendapat ini diyakini sebagai fakta oleh sebagian besar anggota. Sebaliknya, jika ada anggota yang memberikan kesan baik dilengkapi dengan foto-foto yang menarik, maka anggota forum tersebut akan tertarik untuk mengunjungi daerah tersebut.

Kesan negatif yang masih ada di wisata Banyuwangi adalah transportasi yang tidak bersahabat terhadap para backpacker, informasi wisata yang terbatas pada Ijen dan Baluran, serta kurangnya informasi menuju tempat wisata. Teman saya pernah bercerita bahwa seorang penambang pernah menemukan dua wisatawan lokal asal Jakarta yang tersesat menuju Ijen. Mereka mengaku telah berjalan berjam-jam dari pos perhentian terakhir angkutan yang mereka sewa dengan tarif ratusan ribu. Si sopir berkata bahwa Ijen sudah dekat, tapi rupanya hingga sekian jam berjalan, penginapan Ijen belum terlihat juga. Oleh si penambang, kedua wisatawan malang itu kemudian ditampung di rumahnya. Ulah oknum ini rupanya juga dialami beberapa wisatawan ketika menyewa kendaraan menuju Ijen misalnya dengan tarif yang di atas standar atau menurunkan penumpang seenaknya. Untuk itu, perlu kiranya dinas perhubungan Banyuwangi memberikan perhatian yang cukup akan keberadaan oknum-oknum yang merugikan wisatawan tersebut. Akan sia-sia jika pemerintah daerah Banyuwangi telah menggunakan dana yang besar untuk mempromosikan wisata, apabila kejadian-kejadian buruk dan kesan-kesan negatif tersebut masih berkembang di kalangan wisatawan. Karena, sekali lagi saya garis bawahi pengalaman seseorang yag tersebar di media online atau di buku panduan populer seperti Lonely Planet, bakal lebih dipercaya dibandingkan promosi berupa buklet-buklet.

Strategi Pemasaran Potensi Wisata Banyuwangi

Strategi pemerintah daerah Banyuwangi mengenalkan potensi daerahnya dengan menghelat acara bertaraf  nasional dan internasional menurut saya cukup jitu. Saya perhatikan ada banyak pengunjung Gunung Ijen dari wisatawan mancanegara. Teman saya yang berbinis di bidang wisata juga mengaku setiap bulannya menerima hingga belasan turis yang ingin menuju Gunung Ijen. Mereka umumnya wisatawan yang telah berlibur ke Bali dan ingin singgah ke Gunung Ijen sebelum menuju Gunung Bromo.

foto campur

Media nasional akhir-akhir ini juga memajang berita-berita tentang festival-festival yang diadakan dalam rangka menyambut ulang tahun Banyuwangi. Kehadiran festival dan budaya tersebut juga merupakan media promosi yang tepat, apalagi jumlah pecinta seni dan budaya baik kalangan wisatawan lokal dan mancanegara cukup banyak. Definisi obyek wisata kini juga meluas, bukan hanya obyek wisata alam, melainkan juga wisata budaya dan juga wisata kuliner.

Namun seperti saya sebutkan di atas, hal-hal tersebut tidak cukup, Pemerintah Daerah Banyuwangi perlu bergegas membenahi sarana dan prasarana infrastruktur sebelum menggapai mimpi untuk menjadikan Banyuwangi sebagai kota wisata tertimur pulau Jawa. Niat Pemda Banyuwangi untuk menyediakan bus Damri menuju Gunung Ijen saya acungi jempol karena itu jelas membantu para wisatawan. Tapi hal-hal seperti kualitas penginapan di kaki Ijen juga perlu dibenahi termasuk persediaan air dan fasilitas toilet di sekitar Gunung Ijen. Saya juga memberikan selamat kepada Pemda Banyuwangi atas usahanya untuk mempercepat terselesaikannya bandara berkelas internasional yang menggunakan konsep eco-green building yang tentunya menghemat energi. Saat ini rute penerbangan dari/menuju Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, sangat terbatas, sehingga wisatawan hanya mengandalkan mode transportasi kereta api di daratan Jawa dan kapal laut dari Bali. Jika bandara ini telah terealisasi maka wisatawan akan berduyun-duyun ke Banyuwangi. Sekali lagi, Pemda juga harus sigap dengan memberikan akomodasi berupa penginapan, tempat makan, dan transportasi menuju tempat wisata yang baik. Ada baiknya jika mulai saat ini, Pemda mulai menyiapkan oleh-oleh khas Banyuwangi selain kue bagiak. Produk laut Banyuwangi yang melimpah ruah bisa lebih dioptimalkan, selain sebagai kerupuk dan rambak. Masakan tradisiona seperti sego gepuk remuk, jangan lompong, dan bakso osing juga kembali dihidupkan karena wisatawan suka mencicipi masakan lokal. Begitu juga dengan suvenir, saya lihat suvenir seperti gantungan kunci, kartu pos, dan kerajinan belerang masih terbatas dari segi kuantitas dan kualitasnya. Begitu juga keberadaan batik khas Banyuwangi yang belum sepopuler batik dari daerah lainnya. Kerja sama dengan masyarakat setempat seperti pengadaan wisata agro wisata di Kalibendo dengan menyewa sepeda milik warga juga patut diacungi jempol karena memberikan nilai tambah bagi perekonomian warga setempat.

Dari segi media promosi, Pemda sebaiknya aktif mengikuti pameran wisata dan budaya berkelas nasional dan internasional yang setiap tahun dihelat di Jakarta, juga mengikuti pekan raya Jakarta dimana beberapa daerah mengirimkan wakilnya untuk berpromosi tentang wisata daerah tersebut. Pemda Banyuwangi juga bisa menitipkan berbagai buklet lengkap tentang informasi wisata Banyuwangi di pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk, bandara Juanda, Abdurahman Saleh, dan bandara Blimbingsari, serta bandara di kota besar lainnya, juga di stasiun kereta api sehingga wisatawan mudah mengakses informasi tentang Banyuwangi

Saya lihat Pemda Banyuwangi telah memiliki situs pemerintah dan twitter yang sangat aktif. Hal ini memberikan nilai tambah sebagai media komunikasi antara pemerintah, masyarakat, dan media pengenalan penduduk di luar Banyuwangi akan potensi Banyuwangi. Lomba tulis seperti ini juga merupakan salah satu strategi unggul dalam mempromosikan Banyuwangi. Semoga pariwisata      Banyuwangi makin hidup. Selamat ulang tahun Banyuwangi!

Referensi:

  1. Asdhiana, I Made. 30 November 2013. Banyuwangi Genjot Pengembangan Desa Wisata.http://travel.kompas.com/read/2013/11/30/1919021/Banyuwangi.Genjot.Pengembangan.Desa.Wisata
  2. Hamdani, Irul. 17 Desember 2013. Pemerintah Banyuwangi Dorong Swasta Kembangkan Potensi Pariwisata. http://news.detik.com/surabaya/read/2013/12/17/134124/2444322/475/pemerintah-banyuwangi-dorong-swasta-kembangkan-potensi-pariwisata. Diakses pada 18 Desember 2013. Diakses pada 18 Desember 2013.
  3. Rachmawati, Ira. 18 Desember 2013. Damri Banyuwangi Operasikan Bus ke Ijen. http://travel.kompas.com/read/2013/12/18/1623051/Damri.Banyuwangi.Operasikan.Bus.ke.Ijen. Diakses pada 18 Desember 2013.
  4. Tim Redaksi Sunrise of Java. 11 Tempat Wisata Alam Di Banyuwangi. http://www.bintangtenggarafm.com/11-tempat-wisata-alam-di-banyuwangi/.  Diakses pada 18 Desember 2013.
  5. Vaisutis, Justine dkk. 2008. Lonely Planet Indonesia hal 261-265. Lonely Planet Publication Pty Ltd.
Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 19, 2013.

 
%d blogger menyukai ini: