Mengenalkan Banyuwangi Melalui Blog

Camera 360

Ketika membaca adanya lomba tulis bertemakan Banyuwangi saya bersemangat karena beberapa bulan sebelumnya saya mengunjungi daerah ini menuju ke Bali. Ada empat tema yang diperlombakan, dan saya tertarik dengan tema “Kontribusiku dalam Memajukan Banyuwangi”. Lantas apa yang telah saya lakukan dalam memajukan Banyuwangi?

Wah, pertanyaan ini bagi saya tidak mudah. Pertama, karena saya bukan warga Kabupaten Banyuwangi? Saya hanyalah salah satu wisatawan yang singgah ke wilayah tertimur Pulau Jawa ini untuk melanjutkan perjalanan menuju pulau Dewata. Kedua, seumur-umur, saya hanya dua kali singgah ke Kabupaten Banyuwangi, sekitar tahun 1997 dan akhir bulan September lalu. Meskipun perkenalannya tidak dalam dan lama, dalam persinggahan kali kedua saya merasa jatuh cinta pada Banyuwangi.

Kabupaten Banyuwangi 16 tahun silam telah tumbuh menjadi kota modern meskipun wilayah ini belum memiliki universitas yang menasional seperti kota tetangganya, Jember. Namun, saya masih ingat, saat duduk di bangku SMU, Banyuwangi dengan SMU Genteng-nya merupakan rival lomba dan memiliki prestasi akademis yang tidak bisa dipandang enteng. Mahasiswa dari kampus-kampus ternama di Jawa di antaranya juga berasal dari wilayah paling timur Jawa.

Satu hal yang membuat saya kagum kali pertama menginjakkan kaki di dataran Banyuwangi adalah stasiun kereta apinya yang bersih dan rapi. Stasiun Karangasem memang tidak megah, tapi ruang duduk dan toilet pengunjungnya sangat bersih. Jalan-jalan utama hingga ke Pelabuhan Ketapang lebar dan semuanya telah beraspal. Penduduknya juga memiliki budaya cinta bersih, sehingga jalanan nampak bersih dan tidak ada sampah-sampah yang berserakan di sembarang tempat.

Kembali ke pertanyaan tentang kontribusi saya dalam memajukan Banyuwangi, saya hanya melakukan tindakan sederhana sebagai seorang wisatawan, seorang blogger, dan sebagai anggota forum-forum komunitas pecinta wisata. Sumbangsih dari saya ini kiranya hanyalah seberat atom di antara alam semesta yang luar biasa ini. Akan tetapi, lebih baik bertindak daripada sekedar berpangku tangan.

Kontribusi sebagai Wisatawan

Saya salah satu pelaku wisatawan lokal. Selain saya, masih banyak wisatawan lokal juga wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Banyuwangi untuk menikmati keindahan alamnya yang tak kalah disandingkan dengan Bromo atau keindahan pantai-pantai di Bali. Sebagai seorang wisatawan, saya berupaya menghargai budaya-budaya setempat dengan berlaku sopan dan tetap rendah hati. Dari hasil bercakap-cakap ringan dengan masyarakat setempat, yang terdiri dari tuan rumah, para penambang, dan tukang bangunan di Bali, saya bisa mengetahui sedikit tentang sejarah dan kebiasaan mereka. Rupanya hal-hal mistis, seperti yang saya tulis di blog  “Kisah-kisah Mistis di Banyuwangi” (https://dewipuspasari.wordpress.com/2013/12/12/rumor-mistik-di-banyuwangi/) masih kental mewarnai masyarakat-masyarakat pedesaan di Banyuwangi. Meskipun penduduknya sudah berpendidikan dan internet sudah bukan hal asing di desa, hal-hal mistis sulit dilepaskan dari keseharian masyarakat. Oleh karena itu saya ditekankan untuk selalu berlaku sopan dan tidak menyakiti perasaan masyarakat setempat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Saat menuju Ijen, tempat wisata paling populer di Banyuwangi, saya dinasihatkan teman sekaligus tuan rumah untuk menggunakan jasa para penambang untuk membantu perekonomian mereka. Toh para penambang sudah setiap hari ke Gunung Ijen sehingga mereka bisa menjadi guide yang sangat mengenal medan. Saya sangat apresiatif dengan usaha teman saya untuk mengenalkan teman-teman penambangnya kepada mereka yang menginap di tempatnya dan hendak menuju Ijen. Ia juga dengan telaten mengajarkan percakapan sederhana dengan bahasa Inggris sehingga para penambang bisa menemani turis-turis mancanegara.

Di Gunung Ijen ini saya berusaha mematuhi aturan setempat seperti mendahulukan para penambang yang lewat serta tidak membuang sampah dan buang air sembarangan. Para penambang membawa beban belerang yang sangat berat dengan medan yang terjal sehingga mereka pasti kesulitan jika harus mengalah memberikan jalan kepada para turis.

Terakhir yang bisa saya lakukan sebagai wisatawan adalah mendokumentasikan keindahan alam Gunung Ijen dan kondisi Banyuwangi untuk berbagi cerita kepada keluarga dan rekan-rekan. Saya juga sempatkan membeli oleh-oleh berupa kue bagiak khas Banyuwangi dan rambak cumi yang lezat untuk saya bagikan ke keluarga.

 Kontribusi sebagai Blogger dan Penulis

Saya aktif menjadi penulis di blog pribadi (dewipuspasariwordpress.com) sejak lima tahun yang lalu.Blog ini saya gunakan sebagai jurnal pribadi seperti kesan-kesan yang saya alami ketika saya berkunjung di suatu tempat atau tentang opini-opini pribadi tentang suatu peristiwa. Di dalamnya terdapat content tentang wisata dan budaya nasional.

nyaaa

Setelah kembali ke Jakarta, saya menuliskan semua pengalaman saya tentang Banyuwangi baik ke blog pribadi maupun ke media online lainnya seperti media khusus pewarta (kompasiana.com) dan media info kuliner (id.openrice.com). Saya menuliskan berbagai pengalaman dan kesan-kesan, mulai tentang melakukan perjalanan dari Bali melalui Banyuwangi yang rupanya menyenangkan meskipun agak ribet dan memerlukan waktu (http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/11/19/pengalaman-menuju-bali-dengan-ferry-609253.htm). Saya juga menuliskan tentang suatu kejadian mistik di Banyuwangi yang terjadi pada waktu saya di sana, yakni kejadian terengutnya nyawa puluhan kambing milik masyarakat desa (https://dewipuspasari.wordpress.com/2013/12/12/rumor-mistik-di-banyuwangi/), juga kebersihan Stasiun Karangasem yang patut diacungi jempol (https://dewipuspasari.wordpress.com/2013/12/10/menuju-bali-stasiun-karangasem-yang-bersih-dan-rapi/), serta kue-kue oleh-oleh dari Banyuwangi (http://id.openrice.com/other/restaurant/toko-oleh-oleh-pelangi-sari/353758/).

Masih ada dua tulisan yang belum saya publikasikan, yaitu tentang keindahan Ijen. Tulisan ini rencananya akan saya kirimkan di media nasional agar bisa dibaca oleh lebih banyak khayalak. Tulisan-tulisan yang telah saya muat di blog pribadi maupun media online lainnya, telah dibaca lebih dari ratusan pembaca, dan ada juga yang tertarik untuk berkunjung ke Banyuwangi setelah membaca tulisan saya.

Kontribusi sebagai Anggota Forum Wisata

Saya suka bergabung dengan berbagai forum wisata meskipun banyak di antaranya hanya sebagai anggota pasif. Saya bergabung di milis indobackpacker, flashpacker, jalansutra, dan couchsurfing. Sistem mereka mirip yaitu membagikan pengalaman dan membantu anggota dengan informasi seputar transportasi, rencana perjalanan, dan penginapan, serta tips-tips saat berkunjung ke suatu daerah. Couchsurfing selain memberikan informasi juga mampu memberikan penginapan gratis. Dari forum inilah saya mendapatkan informasi terbaru tentang Banyuwangi, juga mendapatkan penginapan cuma-cuma dari salah satu anggota yang rupanya adik kelas saya waktu kuliah.

Dari forum-forum wisata inilah saya terbantu dan dapat membantu anggota lainnya tentang informasi Banyuwangi yang telah saya peroleh. Kami percaya bahwa pengalaman seseorang lebih berharga dibandingkan buku pemandu wisata yang hanya bercerita tentang keindahan panorama belaka. Begitu pula dengan promosi melalui mulut ke mulut, bakal jauh lebih mengena. Saya menyebutnya dengan jaringan yang tak nampak karena anggota-anggota dari forum tersebut sebagian besar tidak kita kenal sebelumnya. Mereka tertarik dengan informasi dari kita dan kemudian menyebarkannya lagi ke jaringan mereka sendiri, sehingga jaringan kasat mata itu semakin luas.

Waktu saya bercerita dengan sebagian anggota tentang keindahan Banyuwangi di acara temu darat komunitas, mereka nampak antusias untuk mengunjungi Ijen, Baluran, dan tempat wisata Banyuwangi lainnya. Bahkan beberapa di antaranya nampak serius menanyakan bujet dan rute menuju Banyuwangi secara detil.

Itulah sekelumit kontribusi saya terhadap Banyuwangi sesuai kapasitas saya sebagai wisatawan, blogger dan penulis lepas, serta anggota forum-forum wisata. Semoga masyarakat Banyuwangi makin sejahtera! Selamat ulang tahun Banyuwangi! (dewipuspasari)

~ oleh dewipuspasari pada Desember 19, 2013.

2 Tanggapan to “Mengenalkan Banyuwangi Melalui Blog”

  1. Saya suka tulisan mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: