After The Dark: Menjual Pesona Alam Bromo-Belitung-Prambanan

       scene-prambanan

Rupanya keindahan alam Indonesia tidak hanya menarik wisatawan mancanegara melainkan juga sineas asing, sehingga mereka tertarik menjadikan obyek alam Indonesia sebagai setting film layar lebar. Setelah film Julia Robert (Eat, Pray and Love) yang syuting di Bali, kini giliran pesona Bromo, Belitung, dan Candi Prambanan yang dijual. Namun, apakah isi film After The Dark secantik pesona alam yang ditawarkan?!

bromo

Dalam durasinya yang cukup panjang, sekitar 1:45, saya sudah merasa bosan sejak 30 menit pertama. Pemandangan cantik Prambanan, Bromo, dan Belitung-lah yang menyelamatkan film ini dari kebosanan yang berkepanjangan. Ya, film yang disutradarai John Huddles yang bekerja sama dengan Surya Citra Televisi ini memang cerdas dalam menampilkan sudut-sudut cantik dari ketiga obyek wisata tersebut, termasuk juga Monas dan sudut-sudut kota Jakarta lainnya. Bahkan, ruang kelas yang menggunakan gedung berarsitektur Jawa ini nampak anggun.

ruang kelas after the dark

Film After The Dark ini dibuka dengan adegan mesra antara dua tokoh utama, Petra (Sophie Lowe) dan James (Rhys Wakefield), yang juga merupakan murid sekolah internasional di Jakarta. Lantas cerita bergeser ke ruang kelas sekolah internasional yang saat itu membahas tentang filsafat. Ada 20 siswa yang terdiri dari multiras, meskipun kebanyakan adalah ras kaukasoid, hanya ada satu pribumi yaitu Utami yang diperankan Cinta Laura.

belitung2

Topik yang dibahas kali ini adalah tentang strategi menyelamatkan diri dari bencana. Bagaimana mereka menyeleksi teman-teman mereka agar cukup dengan fasilitas bunker yang hanya dapat digunakan 10 orang dan dapat digunakan hanya setahun. Si guru memberikan kertas berisi mata pencaharian yang dipilih secara acak oleh tiap siswa. Dari mata pencaharian dan karakteristik pekerjaan itulah mereka memilih rekan-rekannya yang dianggap unggul untuk ditempatkan di bungker. Sisanya, mereka harus rela berada di luar bungker dan menghadapi bencana.

scene-prambanan4

Sebenarnya topiknya cukup menarik seandainya jalan ceritanya difokuskan pada upaya konflik pemilihan teman dan strategi menghadapi bencana, bukannya simulasi strategi di beberapa tempat yang seolah merupakan repetisi dari simulasi pertama dengan sedikit perbedaan. Ada 20 siswa dan hanya beberapa siswa yang dibiarkan menonjol, sisanya hanya sebagai pelengkap dan mudah dilupakan. Dan meskipun mereka menggunakan multiras, saya malah merasa ada diskriminasi di sini, dimana ras tertentu seolah-olah diunggulkan, dan ras minoritas hanyalah pelengkap penderita.

bromo2

Akting Sophie Lowe yang di sini berperan sebagai gadis tercerdas dan penentu pembagian kelompok seharusnya menjadi sosok yang memiliki beban moral terbesar. Tapi akting si Sophia tidak memberikan simpati melainkan menjadi sosok yang mengganggu, demikian juga akting si Bonnie Wright yang pernah berperan sebagai Ginny Weasley di Harry Potter. Perannya tanggung dan sosoknya juga annoying. Sayangnya Cinta Laura hanya mendapat peran kecil di sini sebagai Utami. Dialognya bisa dihitung dengan jari. Tapi meski muncul hanya beberapa scene, ia menunjukkan kebolehannya sebagai penyanyi. Dan harus saya akui kemampuannya bernyanyi sopran lumayan. Tapi kenapa bukan lagu tradisional ya? Lebih cocok dengan atmosfer pada film ini. Dari segi musik, saya hanya menyukai lagu yang menggunakan gamelan. Adem mendengarnya. Musik pengiring lainnya yang berkesan tekno menurut saya kurang cocok dengan film ini karena bukan jenis film aksi. Satu lagi, kenapa judul filmnya diubah ya?! Padahal judul film Philosopher nampak lebih berkelas dibandingkan judul After The Dark.

cintalaura

Ya meskipun film ini memiliki jalan cerita yang cenderung membosankan, saya akui takjub dengan pemandangan Prambanan dan Bromo yang nampak sangat indah dan berkarakter. Pulau Belitung yang khas dengan batu granitnya juga nampak mempesona. Pemandangan alam Indonesia bak surga dunia.

belitung3

~ oleh dewipuspasari pada Februari 15, 2014.

4 Tanggapan to “After The Dark: Menjual Pesona Alam Bromo-Belitung-Prambanan”

  1. Òke. Ga akan masuk ke daftar film yang pengen ditonton berarti Pus. Hahaha. Makasih.

  2. wah.. jadi penasaran… 🙂 (meski sudah dikasih tau ceritanya membosankan. hehe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: