Adira FOI: Kompleks Candi Gedong Songo: Wisata Budaya di Semarang

Gedong Songo (22)

Tahun lalu setelah menghadiri konferensi TI di Semarang, kami berdua menyempatkan diri ke Candi Gedong Songo, selepas mengunjungi Kampoeng Rawa dan Museum Palagan di Ambarawa. Sampai di sana sudah tengah hari sehingga kami bergegas dan tidak bisa menjelajah seluruh candi. Berikut laporan perjalanan saya di Candi Gedong Songo yang saya tulis di Adira FOI.

Selain wisata kota tua, Semarang menawarkan pengalaman wisata budaya dengan menjelajahi candi-candi di lereng Gunung Ungaran yang bernama Candi Gedong Songo. Candi yang berada di dataran tinggi ini cukup mendapat banyak perhatian dari pemerintah daerah Jawa Tengah sehingga selain bangunan candinya terawat, taman-taman yang menghiasi sepanjang perjalanan menuju candi demi candi membuat mata terasa sejuk dan segar.

Gedong Songo-taman

Dari Ungaran, kendaraan melaju ke jalan-jalan yang tidak terlalu lebar. Cuaca yang mendung dan bergerimis membuat mobil tidak bisa dipacu kencang. Setelah melalui beberapa tanjakan, kami telah tiba di pasar tradisional yang menandakan lokasi candi tidak jauh lagi. Dan memang penanda lokasi candi sudah menyambut kami. Kami pun bergegas memarkirkan kendaraan di depan rumah warga karena lokasi parkir resmi di pelataran kompleks candi telah penuh sesak oleh kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.

 

Saat itu hari Minggu siang. Dan rupanya ada banyak keluarga dan pasangan yang memilih kompleks Candi Gedong Songo untuk melewatkan akhir pekan. Kami pun menuju loket. Pada hari biasa, tiket masuk kompleks Candi Gedong Songo sebesar Rp 6 ribu. Sedangkan pada hari libur dan akhir pekan, harganya naik  25 persen menjadi Rp 7,5 ribu. Harga tiket masuk ini relatif terjangkau apabila dibandingkan dengan tiket masuk Candi Borobudur yang mencapai Rp 30 ribu pada tahun 2013.

Gedong Songo-Gerbang

Setelah kami memasuki gerbang utama kompleks candi, saya melihat hamparan taman dan pepohonan yang nampak asri. Tangga menuju candi juga rapi dan nampak terpelihara. Di sepanjang jalan dekat pintu masuk ada banyak penjual makanan ringan dan kerajinan. Namun mereka tidak terlalu agresif menawarkan dagangan sehingga kami pun berlalu tak terganggu oleh kehadiran mereka.

Gedong Songo-1

 

Pilihan Menapaki Candi: Jalan Kaki atau Naik Kuda
Ada dua pilihan yang bisa dipilih wisatawan untuk menjelajahi seluruh kompleks Candi Gedong Songo. Pilihan pertama tentu saja dengan berjalan kaki. Ada tangga dan jalan setapak yang telah disiapkan bagi mereka yang gemar berjalan kaki. Selain sama sekali tidak mengeluarkan biaya, pilihan ini akan sangat menyehatkan tubuh. Bagi mereka yang kelelahan menapaki sekian ratus tangga, bisa mengistirahatkan badan sejenak di warung-warung yang tersedia di beberapa tempat. Warung-warung makanan ini menyediakan makanan ringan dan berat seperti mie rebus, bakso, hingga sate kelinci. Sebagai teman minumnya, ada pilihan minuman hangat atau minuman dingin seperti es teh atau softdrink. Memang jalan menuju candi tidak terlalu menanjak, namun cukup terjal sehingga cukup menguras energi.

 

Nah, bagi mereka yang  staminanya sedang kurang fit atau waktu menjelajahnya terbatas, bisa memanfaatkan jasa layanan kuda untuk mengantarkan ke candi. Ada lintasan khusus bagi penunggang kuda sehingga mereka tidak akan mengganggu pejalan kaki. Tidak perlu kuatir bagi mereka yang takut naik kuda, karena si pemilik kuda juga akan menemani berjalan di samping untuk mengarahkan kuda-kuda tersebut. Biayanya? Memang perlu biaya lebih untuk menggunakan jasa layanan kuda ini. Jika diantar hanya sampai di Candi Gedong I yang letaknya paling dekat dengan pintu masuk, maka tarifnya hanya Rp 20 ribu. Biaya tersebut termasuk biaya diantar balik ke pos penyewaan kuda. Jika ingin diantar berkeliling ke seluruh kompleks candi biayanya sebesar Rp 50 ribu. Waktu itu kami memilih berjalan kaki untuk menghemat biaya perjalanan jadi belum sempat merasakan bagaimana sensasinya ketika menunggang kuda berkeliling candi. Tetapi, menurut pelancong berkuda, perjalanan di atas kuda cukup seru dan ada sensasi mendebarkan ketika telah berada di dataran yang cukup tinggi dan melihat pemandangan alam sekitar yang terhampar di bawah.

 

Kisah Kompleks Candi Gedong Songo
Candi Gedong Songo ini ditemukan oleh ahli purbakala Belanda bernama Loten pada abad ke-18, persisnya pada tahun 1740. Rupanya tidak hanya satu candi, mereka menemukan lagi candi-candi lainnya dengan posisi yang berpencaran. Di setiap candi umumnya terdiri dari candi utama dan candi pengiring. Diduga dahulunya ada sembilan bangunan candi sehingga disebut Candi Gedong Songo. Namun, penelitian yang dipimpin Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1804 hanya menemukan tujuh buah candi sehingga disebut candi Gedong Pitoe.

Gedong Songo-2b

Seabad kemudian, tepatnya sejak tahun 1916 mulai dilakukan penelitian resmi oleh Dinas Purbakala Belanda dan publikasi yang diterbitkan kemudian menggunakan nama awal candi, yakni Candi Gedong Songo. Kemudian,  sejak tahun 1928 hingga sekarang baru lima candi yang selesai dipugar, dua lainnya masih dalam proses pemugaran. Ada juga beberapa candi pendamping (perwara) yang masih utuh dan banyak di antaranya berupa reruntuhan atau yang disebut menapo. Di sini selain candi, ada juga pemandian air panas belerang dimana ada banyak pengunjung yang berendam setelah lelah mendaki.

 

Waktu itu kami memilih berjalan kaki untuk menghemat biaya perjalanan jadi belum sempat merasakan bagaimana sensasinya ketika menunggang kuda berkeliling candi. Tetapi, menurut pelancong berkuda, perjalanan di atas kuda cukup seru dan ada sensasi mendebarkan ketika telah berada di dataran yang cukup tinggi dan melihat pemandangan alam sekitar yang terhampar di bawah.

Gedong Songo-2

Pada Candi Gedong I yang berada paling dekat dengan pintu masuk, terdapat lingga di dalam bangunan candi. Biasanya pengunjung memilih candi ini sebagai obyek foto dan banyak di antaranya memilih candi ini sebagai tujuan utama karena perjalanan menuju candi II cukup jauh dan menanjak. Di dekat candi ini juga terdapat taman dan hamparan rumput dimana ada banyak pengunjung yang memanfaatkannya sebagai alas tikar untuk duduk-duduk sembari menikmati pemandangan dan bersantap dengan bekal mereka.

Gedong Songo-3

Lokasi Candi Gedong II dan Candi Gedong III hampir berdekatan. Pada Candi Gedong II ini terdapat manapo yang diduga merupakan candi pendamping. Saat ke sini, ada seseorang pengunjung yang melakukan sembahyang di sini. Dan di beberapa sisi nampak sisa bunga dan dupa dimana menunjukkan candi ini masih digunakan sebagai salah satu tempat suci untuk melakukan ritual agama.

Gedong Songo-4

Nah, yang paling cantik di antara candi-candi Gedong Songo adalah Candi Gedong III karena kedua candi pengiringnya masih utuh. Setelah dari Candi Gedong III, pengunjung kembali diuji staminanya untuk menuju Candi Gedong IV. Di candi terakhir, Candi Gedong V pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang menakjubkan karena samar-samar akan terlihat sosok Rawa Pening, Ambarawa dan pemandangan puncak gunung Ungaran. Pada Candi-candi Gedong Songo ini terdapat arca Durga, Ganesha (anak Siwa dan Durga) dan Agastya (resi sakti), serta simbol Lingga Yoni.

 

sumber: https://www.adirafacesofindonesia.com/article.htm/3001/Kompleks-Candi-Gedong-Songo–Wisata-Budaya-di-Semarang

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 29, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: