Adira FOI: Benteng Martello Magnet Wisatawan di Pulau Kelor

kelor-perahu

Sudah lama ingin mengunjungi situs sejarah di Pulau Seribu. Ketika ada trip rame-rame yang diadakan salah satu anggota couchsurfing, saya pun daftar. Salah satu tujuannya adalah ke Pulau Kelor yang beken dengan Benteng Martello-nya. Berikut catatan perjalananku di Adira FOI.

Berwisata sekaligus menambah wawasan sejarah sekilas terdengar berat, namun Anda dijamin menyukainya karena lokasi untuk belajar sejarah ini cantik oleh hamparan pasir putihnya dan unik dengan keberadaan benteng bekas peninggalan VOC. Pulau Kelor memang patut menjadi destinasi wisata sejarah yang memanjakan mata.

Sudah lama saya ingin berkunjung ke pulau ini namun kesempatan ini baru datang beberapa waktu lalu. Saya mengikuti wisata rame-rame yang diadakan suatu komunitas. Sebenarnya saya kurang begitu suka berwisata dengan begitu banyak peserta. Namun berhubung sewa perahunya mahal jika hanya segelintir orang, saya kemudian ikut mendaftar. Apalagi pulau ini tidak berpenghuni. Bakal seram juga jika sepi hehehe.

Kami berangkat dari Dermaga Muara Kamal. Tidak sampai 30 menit, telah terlihat sebuah pulau mungil  dengan bentuk melebar. Benteng Martello yang berwarna kemerahan nampak samar-samar seolah-olah menyambut kedatangan kami.

kelor-pantai4

Para rombongan bergegas menjejak dermaga, tidak sabar untuk berfoto-foto di benteng Martello. Saya juga tak kalah bersemangat untuk menjelajahi pulau mungil ini.

kelor-foto

Pulau ini meski dinamai Pulau Kelor namun tidak ada satupun pohon kelor. Dari referensi yang saya baca di berbagai situs, pulau ini awalnya bernama Kherkof. Lantas karena pelafalannya sulit diucapkan oleh lidah Melayu dan karena pulau ini berukuran mungil maka mereka lebih suka menyebutnya dengan nama Pulau Kelor.

kelor-pantai

Meskipun tidak berpenghuni, pulau ini cukup bersih dan rapi. Ada cukup banyak tong sampah yang memisahkan antara sampah organik dan sampah yang tak dapat terurai. Sayangnya masih ada sampah plastik yang bertebaran di pantai baik yang terbawa oleh arus laut maupun yang disebabkan oleh pengunjung yang tidak mempedulikan keasrian lingkungan. Di beberapa tempat juga disediakan gazebo sebagai tempat untuk melepas lelah atau berpiknik.

kelor-bersih

Warna air laut di sini nampak jernih kebiruan. Banyak pengunjung yang tak segan-segan bermain air, berendam, ataupun memancing. Ya, memancing menjadi salah satu aktivitas favorit di sini. Kebanyakan mereka adalah penggemar olahraga memancing yang sengaja datang sejak pukul enam pagi. Menurut salah satu bapak paruh baya yang gemar memancing, di sini ia bisa mendapatkan ikan kakap atau ikan kuwe berukuran cukup besar. Ia membawa box pendingin untuk mengawetkan ikan yang telah ia tangkap. Ikan-ikan itu sebagian ia konsumsi bersama keluarganya, selebihnya ia jual dengan hasil lumayan.

kelor-mancing

Wah matahari semakin terik membakar wajah. Padahal jarum jam belum menunjukkan pukul 09.00 tapi hawa di Pulau Kelor cukup panas. Untunglah saya telah mengenakan sunblock dan topi lebar sehingga sinar matahari cukup terhalang. Saya lalu bergegas menuju bagian paling menarik di pulau ini, apalagi kalau bukan Benteng Martello.

kelor-benteng2

Benteng Martello memang menjadi magnet para wisatawan. Para pengunjung asyik mengabadikan momen di sini. Tidak puas hanya berfoto dengan latar belakang benteng, mereka juga berfoto di dalam benteng, bahkan banyak pula yang berfoto di bagian jendela yang nampak rapuh. Satu jendela digunakan untuk berfoto belasan orang sekaligus. Saya merasa prihatin melihatnya karena benteng tersebut merupakan salah satu cagar budaya yang seharusnya dilindungi.

kelor-foto2

Benteng ini telah berusia lebih dari tiga abad. VOC yang masuk ke Sunda Kelapa pada abad 17 tidak rela jika Indonesia kembali dikuasai bangsa Portugis yang tiba lebih dulu pada awal abad 16. Oleh karena itu mereka membangun benteng pertahanan di pulau luar Sunda Kelapa. Pulau Kelor, Cipir, dan Onrust pun menjadi pulau pertahanan pasukan VOC. Konon, dulu ada jembatan yang menghubungkan tiga pulau tersebut.

Di dalam benteng kosong, tidak ada apa-apa. Tetapi, saat saya masuk ada seberkas cahaya yang membuat suasana dalam benteng ini nampak dramatis. Saya bisa membayangkan alangkah cantiknya benteng ini saat petang hari ketika cahaya lembut menyapa dinding benteng ini.

Tulisan ini dimuat di http://www.adirafacesofindonesia.com/article.htm/2732/Benteng-Martello-Magnet-Wisatawan-di-Pulau-Kelor–ubeknegeri–copadeflores

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 4, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: