Resensi Buku : Sang Puteri Sunda Dyah Pitaloka

dyah pitaloka

Kisah perang bubat menjadi sejarah gelap Kerajaan Majapahit dan juga sejarah kesedihan Kerajaan Sunda. Rencana pernikahan agung antara Puteri Dyah Pitaloka dan Raja Hayam Wuruk buyar seketika oleh nafsu Gajah Mada untuk melengkapi sumpah palapanya, menundukkan Kerajaan Sunda. Jika kisah sejarah banyak berfokus pada peristiwa pertempuran, di karya fiksi bertajuk Dyah Pitaloka, terungkap pribadi sang puteri yang tak hanya cantik namun juga berbudi pekerti baik dan cerdas.

Dikisahkan dalam buku ini, puteri Dyah Pitaloka Ratna Citraresmi adalah puteri sulung Sang Prabu Maharaja Linggabuana dan permasuri Dewi Lara Lisning . Ia memiliki adik bungsu laki-laki bernama Anggalarang yang usianya terpaut jauh. Si puteri kecil sering iri kepada adiknya karena kasih sayang orang tuanya lebih banyak tercurah kepadanya. Oleh karenanya ia lebih dekat kepada pamannya, Mangkubumi Bunisora Suradipati, yang mengajarkannya membaca kitab-kitab sastra dengan bahasa sansekerta. Ia juga pernah belajar ilmu kanuragan selama dua tahun sebelum sebuah peristiwa membuat ayahnya marah dan melarangnya melanjutkan ilmu tersebut.

Ketika puteri beranjak dewasa, datanglah utusan dari Majapahit. Seorang juru lukis. Ia mendapat perintah dari Raja Majapahit, untuk melukis para puteri cantik dari segala penjuru negeri. Salah satu puteri tersebut akan dipilihnya menjadi permaisuri.

Kecantikan Puteri Dyah Pitaloka memikat Hayam Wuruk. Ia pun mengirim utusan untuk memberikan hadiah berupa kitab Smaradhahana bagi puteri dan emas perhiasan untuk raja serta menyampaikan lamarannya ke sang puteri. Namun, ada yang janggal pada rencana upacara pernikahan tersebut.

Bunisora terlambat menyampaikan kegelisahannya pada kakaknya. Raja terlanjur menerima pinangan. Si puteri sendiri juga merasa gelisah menyalahi purbatisti-purbajati negeri Sunda bahkan melanggar tradisi pernikahan yang berlaku di seluruh dwipantara, dimana pernikahan dilakukan di kediaman atau negeri sang puteri dan pengantin prialah yang berkunjung ke pengantin wanita. Namun ayahnya menentramkannya. Ia berdalih Sunda dan Majapahit berasal dari satu nenek moyang, tidak mungkin saling memusuhi.

Dengan dikawal puluhan prajurit pilihan, para pejabat negeri dan tiga dayang, berangkatlah sang puteri ditemani ayahandanya. Tampuk pemerintahan sementara dipegang oleh adiknya, Bunisora, karena putranya masih kanak-kanak. Selama berhari-hari mereka berjalan kaki, naik kapal, dan tibalah mereka di daerah bernama Bubat yang tak jauh dari Kerajaan Majapahit. Akan tetapi, Raja Majapahit tak kunjung tiba  menjemput. Lalu datanglah pesan dari Gajah Mada yang membuat seluruh rombongan merah padam.

Kisah berang bubat ini salah satu perang yang tercatat di sejarah Majapahit, selain  perang paregreg dan juga peperangan memberantas pemberontakan Sadeng dan Kuti yang terkenal. Ini adalah perang yang memilukan dan tidak seimbang karena rombongan puteri tidak dipersiapkan untuk berperang, melainkan mengawal untuk mengantarkan puteri sebagai permaisuri.

Meski kisah fiksi, saya yakin pengarangnya, Hermawan Aksan, menuliskannya berdasarkan fakta-fakta sejarah, meski ada beberapa catatan sejarah yang biasanya bias. Seperti kisah Ken Arok yang memiliki banyak versi. Ya, cerita fiksi Dyah Pitaloka ini adalah salah satu versi yang condong ke tokoh sang puteri.

Saya menyukai ide pengarang untuk fokus ke pribadi sang puteri. Si puteri bukan tipe gadis keraton yang rajin berhias dan pandai menenun, ia adalah gadis yang haus ilmu pengetahuan dan ingin perempuan di sekelilingnya lebih dihargai bukan sekedar teman pendamping hidup.

Di kisah ini Dyah Pitaloka sangat menyukai kitab Smaradhahana pemberian Hayam Wuruk yang mengisahkan percintaan Candrakirana dan Inu Kertapati. Ia juga menyukai Kitab Arjunawiwaha, bahkan ia bisa lupa makan juga ia sudah larut membacanya.

Mata batin puteri juga terasah. Ia merasa gelisah menjelang keberangkatannya ke Majapahit. Dan ia sangat sedih menyaksikan satu-persatu pengawalnya tewas di tangan prajurit Majapahit. Bahkan sosok ayahnya memilih mati daripada membiarkan kerajaannya dihina dengan membiarkan puterinya menjadi upeti.

Kisah pertempuran ini membuat mata saya berkaca-kaca, terharu. Betapa gagah beraninya prajurit Sunda yang tidak lebih dari 90 orang itu berhasil mengalahkan lebih dari seribu prajurit Majapahit. Suatu epik sejarah yang mengharukan dan mencoreng kebesaran nama Majapahit.

Detail Buku:
Judul Buku : Dyah Pitaloka: Korban Ambisi Politik Gajah Mada
Penulis : Hermawan Aksan
Penerbit : Bentang pustaka
Rating : 8/10

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 5, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: