Pesta Demorasi dari Ajang Silaturahmi Hingga Gelaran Bazaar

election-day-hopes

Malam menjelang pemilihan umum, jalan di sekitar kompleks selepas tarawih tidak nampak lengang. Ada beberapa warga yang mendapat amanah sebagai panitia acara pemilihan umum yang sibuk menata kursi, memasang spanduk, sementara Pak RW 5 kompleks kami sibuk berkeliling bersama satpam di setiap gang untuk memastikan kondisi kompleks kami aman dan bebas dari politik uang.

Usai Subuh, jika biasanya sebagian warga memanfaatkan waktu beberapa saat untuk beristirahat, namun pada 9 Juli ini, jalan di sekitar TPS nampak rame. Di beberapa sudut nampak warga asyik bercengkrama. Dan sebelum pukul 7 pagi, panitia mempersilakan para warga untuk bersiap-siap dan datang ke tempat pemungutan suara.

Karena lokasi TPS ada di seberang mulut gang yang hanya berjarak 10 meter dari rumah, maka hiruk pikuk pemilu ini juga merasuk ke para penghuni rumah kami. Saya dan pasangan bergegas mandi dan kemudian membersihkan rumah. Sekitar pukul 8 kami menuju lokasi TPS.

Wah rupanya animo warga kampung kami sangat tinggi. Meskipun masih pagi, para warga telah berduyun-duyun menuju lokasi TPS. Antrian pun mengular dan tempat duduk yang dipersiapkan oleh panitia tidak mencukupi. Alhasil para warga akhirnya memilih berkerumun di bawah pepohonan rindang sambil bercengkarama. Ya, momen pemilu ini selain merupakan ajang pesta demokrasi juga menjadi ajang silaturahmi warga.  Bahkan lebih meriah dibandingkan acara halal bihalal yang setiap tahun kami adakah per-RT.

Saya dan pasangan setelah menaruh surat undangan ke meja panitian pun kemudian memilih mendekati meja bazaar. Ada banyak makanan kaleng, susu, sirup, dan minuman soda. Juga berbagai sembako. Kehadiran bazaar ini menarik perhatian warga yang menunggu namanya dipanggil panitia untuk masuk bilik suara. Dan rupanya panitia sigap. Sudah ada berlembar-lembar kertas berisi daftar barang termasuk kuantiti barang dan harganya, sehingga calon pembeli tinggal mencontreng barang dan menuliskan angka untuk menunjukkan jumlahnya. Khusus untuk sembako, jumlahnya dibatasi hanya empat barang untuk tiap jenisnya, agar semua warga yang berminat bisa kebagian.

Dan lama-kelamaan arena bazaar ini menjadi sarang kerumunan warga, terutama kaum ibu. Mereka sibuk melihat-lihat barang dan kemudian membandingkannya. Dan agar lebih praktis, calon pembeli hanya perlu menyodorkan kertas yang mereka isi termasuk nama dan alamatnya. Panitia kemudian menghitung total harga dan barang tersebut akan siap diambil hari Minggu, 13 Juli. Acara bazaar murah yang dihelat oleh para Karang Taruna ini rupanya sukses besar.

Setelah sekitar 20 menit menunggu, nama saya pun kemudian dipanggil. Saya diberi kertas suara dan kemudian menuju bilik suara. Dan prosesnya seperti pemilu sebelumnya, setelah kertas suara dimasukkan, jari tengah kami pun dicelup tinta biru.

Meskipun banyak warga yang telah mencoblos, banyak di antara mereka yang memilih untuk nongkrong sambil membanggakan kandidat mereka masing-masing. Hari ini bagi saya nampak berbeda karena biasanya kompleks kami yang terdiri dari 8 RT ini nampak senyap karena warganya sebagian besar pasangan suami istri yang sama-sama bekerja.

Sekitar pukul 12 siang, panitia mengumumkan agar para warga yang tidak mendapat surat undangan untuk mendatangi TPS dengan berbekal KTP. Limabelas menit jelang acara ditutup, panitia kembali memohon warga yang belum mencoblos untuk bergegas. Eh rupanya meskipun warga yang mencoblos nampak banyak, ada juga yang tidak hadir. Dan jumlahnya cukup banyak, yaitu 120 suara.

Sekitar pukul 13.00 setelah mempersiapkan saksi, mulailah proses perhitungan suara. Para warga kembali berkerumun, wajah-wajah nampak tegang. Demikian pula pasangan saya yang bibirnya mengerucut jika nomor kandidat juaranya tak disebut panitia. Semua warga baik yang ada di sekitar TPS maupun yang ada di rumah masing-masing nampak tegang. Meski tegang ada juga gelak tawa.

Ada beberapa anak kecil yang ikut berkerumun. Jika nomor 1 disebut, anak-anak kontan menyebut no 2, jika no 2 disebut panitia dilanjutkan no 3. Ya, mereka bukan menjagokan salah satu calon, cuma suka mengurutkan dan menirukan panitia. Alhasil karena takut mengurangi konsentrasi dan salah hitung, anak-anak kecil itu kemudian dibujuk pergi oleh orang tua dan panitia. Tidak lama, proses perhitungan suara berakhir. Mereka yang mendukung kandidat yang meraih suara terbanyak berjalan pulang dengan gagah. Sedangkan pendukung kandidat lainnya nampak lemas.

gambar dari wondrouspics.com

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 11, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: