Masa Puasa: Dari Es Podeng Hingga Bakti Sosial

clipart-sharing

Masa puasa Ramadhan adalah masa-masa menyenangkan. Ibubiasa memanjakan kami dengan menu takjil yang enak-enak. Ada kolak pisang atau kolak singkong, es dawet, es cincau, es campur, bubur sagu, hingga menu favorit kami es podeng yang kami kerjakan gotong-royong.

Es podeng ini kami hidangkan saat-saat istimewa. Selain saat berpuasa, kadang kami juga menghidangkannya saat hari raya Idul Fitri.

Es podeng terdiri dari setup nenas, manisan kolang-kaling, puding cokelat dan puding kaca. Kadang kami tambahkan nata de coco. Aneka isian itu kemudian diberi potongan es batu, kuah setup nenas, dan kucuran susu kental manis. Rasanya manis, sedikit asam, dan tentunya sangat segar.

Membuat es podeng sebenarnya mudah cuma agak lama mempersiapkannya. Nenas perlu dipotongn kecil-kecil, diberi gula dan dijerang hingga mendidih dan sarinya keluar. Kolang-kaling juga dipotong lalu dijerang dibuat manisan. Puding juga perlu didinginkan. Alhasil biasanya kami bertiga bantu-membantu untuk mempersiapkan es podeng.

Pada bulan puasa kami biasa sahur pukul 03.00 karena subuh di tempat kami sekitar pukul 04.00 lebih. Di masjid ada panitia yang rajin memberitahukan waktu Imsak. “Waktu Imsak kurang 10 menit lagi” dst. Sehingga bagi yang terlambat bangun bisa mengukur jam berapa Imsak dan Subuh. Dulu kami salut dengan panitia tersebut hingga suatu saat kakak laki-laki melihat jika iturupanya rekaman. Ya, tetap hebat pula panitianya bisa menyesuaikan waktunya tiap hari.

Di Surabaya Timur dulu tiap akhir pekan ada sahur keliling. Mereka berkeliling sejak pukul 02.00 sehingga saya sahur cukup awal pada akhir pekan. Alhasil selepas subuh mata saya terasa berat.

Di Malang, bedug merupakan waktu penentu buka. Setelah bedug ditabuh baru suara adzan bergema. Sekitar pukul 7 kurang adzan Isya pun mengajak warga bertarawih.

Masjid dekat rumah menggunakan tarawih 20 rakaat. Saya menandai rakaatnya dengan mengamati salam untuk tiap-tiap sahabat nabi sebelum sholat tarawih dimulai. Salam untuk Utsman bin Affan, untuk Ali bin Abi Thalib dan sebagainya. Jika sudah sampai salam untuk Ali maka saya bersorak, tarawih sebentar lagi telah tuntas.

Meski tarawih 20 rokaat cukup lama, saya setia tarawih di masjid dekat rumah. Bacaan sholat tarawihnya pendek-pendek sehingga tidak terasa tarawih pun berakhir.

Ada juga masjid tak jauh dari rumah yang menggunakan 8 rakaat untuk tarawihnya, namun ada ceramah yang panjang sehingga membuat kakak saya mengantuk. Dan bukan hanya kakak yang mengantuk, ada juga jamaah yang memilih pulang untuk melanjutkan witir di rumah.

Dulu di Surabaya, saya dan penghuni kos sering ‘curang’. Kami mencari masjid yang menggelar tarawih cepat dan hanya 8 rakaat. Jika ada ceramah kami pulang hehehe. Pernah kami terjebak di shaf depan dan kesulitan untuk keluar. Alhasil kami pun tidak bisa pulang hingga ceramah berakhir dilanjutkan witir. Keringat mengucur deras karena hawa di Surabaya sangat panas dan kipas angin hanya bisa dinikmati segelintir jamaah.

Setelah remaja, ada banyak acara buka bersama yang digelar di rumah teman secara bergiliran. Saya pernah didapuk menjadi tuan rumah dua kali. Meski melelahkan jika jadi tuan rumah, saya menikmati acara buka bersama ini. Pernah suatu kali hujan sangat lebat. Saya merasa sangat kasihan kepada teman yang menjadi tuan rumah karena sangat sedikit yang bisa hadir.

Selain tarawih, buka bersama, dulu remaja masjid tempat kami juga rajin mengadakan bakti sosial mengumpulkan baju layak pakai, mengadakan bazaar untuk menjual kartu lebaran, juga mengadakan donor darah.

Sayang setelah dewasa, kegiatan selama bulan Ramadhan semakin berkurang, mungkin karena saya telah jauh dari kampung halaman. Saya kurang menyukai tren buka bersama di pusat perbelanjaan atau tempat makan.Sholat Maghribnya biasanya antri panjang demikian pula mendapatkan meja untuk makan. Lebih asyik makan bersama keluarga di rumah dengan lauk sederhana, namun nyaman dilakukan dan tidak mau untuk nambah.

Gambar dari http://www.clipartguide.com

~ oleh dewipuspasari pada Juli 27, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: