Panggung Tujuhbelasan

stage-clipartofDulu waktu masih kanak-kanak, setiap tahun kami memiliki agenda warga. Panggung tujuhbelasan. Acara ini selalu kami nanti-nanti. Selain ajang bagi-bagi hadiah, kami bisa menonton aksi teman-teman dan kalangan dewasa berjoget ataupun menyanyi. Sangat meriah.

Sebelum acara puncak berupa panggung tujuhbelasan,diselenggarakan berbagai lomba. Mulai dari lomba makan kerupuk, balap karung, memasukkan pensil dalam botol, membawa kelereng, karaoke, hingga mencari koin. Ada juga sih lomba-lomba yang lain tapi saya lupa.

Saya termasuk anak yang kurang beruntung dalam lomba. Saat lomba karaoke, saya lupa lirik hehehe. Begitu juga lomba-lomba yang lain saya kurang gesit. Bahkan, pernah di sekolah kelas satu SD saya dan teman akrab malah sembunyi karena enggan ikut lomba memakai seragam.

Suatu ketika kakak kedua saya pernah memenangkan lomba mencari koin. Ia pulang dengan kaus dan wajah hitam legam, cemong-cemong. Ya, mencari koin itu sungguh susah. Tingkat kesulitannya tertinggi. Dimana koin ditaruh dalam buah yang telah diberi minyak hingga legam.

Kakak nampak sangat gembira dan bangga. Sayangnya respon Ibu tidak terduga. Bukannya bangga malah memarahi kakakku karena nampak sangat kotor dan berantakan. Sambil menangis, kakak dimandikan Ibu hingga wajahnya bersih dari minyak. Kasihan kakak.

Untunglah hadiahnya lumayan bagus. Dan ia nampak sangat bangga menerima hadiah lomba tersebut di panggung tujuhbelasan.

Tidak ada anggota keluarga kami yang pernah ikut menyanyi atau menari di panggung tujuhbelasan. Terlalu pemalu. Kakak pertama hanya pernah menjadi pembawa acara. Kami berdua hanya asyik menonton dan menyemangati teman-teman dan para tetangga untuk menyanyi, menari, dan melawak.

Waktu itu ada tetangga yang membuka salon dimana beberapa pekerjanya adalah waria. Aksi mereka berjoget merupakan aksi yang membuat gelak tawa berkumandang juga tepuk tangan yang riuh rendah.

Setelah saya SMU, acara-acara demikian lama kelamaan pudar. Semakin sepi. Biasanya hanya ada malam renungan dengan sambutan-sambutan yang cenderung membosankan.

Saya kangen dengan aneka hiburan sederhana dimana gelak tawa membuat ikatan tetangga kami makin erat.

gambar diambil dari clipartof.com

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 14, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: