Penjual Sekoteng dan Tujuhbelasan

jual keliling

Malam renungan kemarin yang digelar dalam rangkaian tujuhbelasan menarik banyak perhatian warga. Ada banyak warga yang hadir dan duduk lesehan sambil menikmati nasi tumpeng. Di antara kerumunan tersebut nampak penjual sekoteng.

Penjual sekoteng itu hampir saban hari melewati gang demi gang di kompleks perumahan kami. Penjualnya sudah sepuh, usianya berkisar di atas 55 tahun. Namun, ia masih gagah mendorong gerobak sekotengnya.

Tidak mudah mendorong gerobak sekoteng di daerah kami. Pasalnya, jalanannya naik turun. Jika jalanan sedang menanjak maka penjual menggunakan gerobak harus menggunakan tenaga ekstra untuk mendorongnya. Namun, ketika jalanan menurun maka ia juga harus mengerahkan tenaga agar gerobaknya tidak meluncur bebas.

Penjual sekoteng itu bertutur jika dagangannya semakin sepi sejak adanya kebijakan menutup portal. Dulu ia bisa berjualan bebas hingga pukul dua dini hari atau hingga dagangannya habis. Semenjak banyaknya perumahan dan kebijakan portal, ia harus menyingkat waktu berjualannya dan kehilangan sebagian pelanggan.

Saat malam renungan di kampung kami, ia menghentikan gerobaknya dan memandang panggung tujuhbelasan dengan wajah letih. Ia berharap ada warga yang membelinya sembari melepas lelah dan menikmati malam syukuran.

Saya ingin berbincang dan bertanya, apa makna kemerdekaan bagi Bapak? Kapankah kakek penjual sekoteng itu bisa merdeka, menikmati masa tuanya dan tidak sibuk mencari nafkah hingga larut malam?

gambar dari newyorker.com

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 18, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: