Indonesia Siap Rengkuh Kembali Titel Pusat Pendidikan di Asia Tenggara

eLearning-87seconds

Indonesia pernah menjadi kiblat untuk mendalami ilmu agama Buddha pada zaman kemasyuran Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Saat agama Islam hadir, Indonesia dengan Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh juga menjadi pusat pendalaman dan pendidikan agama. Hingga akhir 1990-an Indonesia juga menjadi salah satu pusat studi dan riset pengembangan dunia botani di Asia Tenggara. Namun, dunia pendidikan Indonesia kemudian berjalan stagnan dan tidak merata. Alhasil, kualitas dunia pendidikan di Indonesia terpuruk di dunia, bahkan untuk tingkat Asia Tenggara. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi, kualitas dunia pendidikan di Indonesia mulai merangkak naik. Indonesia dalam beberapa tahun ke depan siap kembali menjadi pusat pendidikan dan riset di tingkat Asia Tenggara.

Masih terbesit di benak kejayaan dunia pendidikan dua dekade silam. Masa itu kehadiran mahasiswa asing, seperti dari Malaysia, Brunei, dan Australia di kampus-kampus negeri sudah hal yang jamak. Mahasiswa dari Malaysia, Brunei, Thailand, dan negara Asia lainnya banyak belajar tentang pertanian dan peternakan, juga ilmu teknik di Indonesia, sementara mahasiswa Australia masih banyak yang tertarik dengan sastra Indonesia, bahkan sastra Jawa. Namun, seiring waktu kondisi tersebut terbalik. Banyak mahasiswa Indonesia yang berburu beasiswa ke negeri tetangga. Bahkan, ke Malaysia. Saya bertanya-tanya ada apakah dengan dunia pendidikan di Indonesia?

Di satu sisi kualitas dunia pendidikan di Indonesia dianggap merosot. Namun di sisi lain, semakin banyak generasi muda yang meraih prestasi di ajang-ajang berkelas internasional. Indonesia termasuk salah satu negara yang langganan juara untuk olimpiade sains dan juga kejuaraan robot dan maritim. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia tak kalah cerdas dan kreatif seperti rekan-rekannya dari mancanegara.

Saya merenung, mungkin permasalahan merosotnya kualitas dunia pendidikan di Indonesia bukan karena kemampuan daya nalarnya, melainkan sarana dan prasarananya yang belum merata.

Indonesia adalah negeri kepulauan dimana rakyatnya tersebar di area perkotaan, di pedesaan, pulau-pulau terpencil dan juga di rimba atau daerah pedalaman. Kemampuan daerah tersebut untuk mengakses ilmu pengetahuan tidak sama. Daerah perkotaan di Jawa termanjakan oleh dekatnya lokasi dengan pusat pemerintahan. Hal ini tidak sama dengan yang dialami oleh anak sekolah yang juga tinggal di perkotaan namun berada di NTT atau di Irian Barat. Sama-sama tinggal di kota saja bisa berbeda sarana dan prasarananya, apalagi jika dibandingkan dengan sekolah yang berada di pulau-pulau terluar atau di daerah pedalaman.

Saya masih ingat dulu masa sekolah buku paket dari Depdikbud (sekarang Diknas) sangat terbatas. Kami harus berebut dengan teman untuk mendapatkannya. Jika tidak dapat maka terpaksa beli di toko buku. Sarana sekolah seperti komputer juga terbatas, sehingga ada shift  untuk belajar menggunakan komputer dimana waktunya sangat dibatasi.

Di tempat-tempat yang jauh dari ibukota provinsi, hingga saat ini masih ada yang kurang beruntung. Ada yang harus menempuh jalan kaki berkilo-kilo untuk menuju sekolah. Bahkan ada yang harus melewati sungai dan jalan yang sulit. Ada juga yang tidak terjangkau listrik, sehingga harus belajar dengan menggunakan pelita dari lilin. Dengan kondisi yang serba terbatas tersebut, mereka tetap percaya pendidikan mampu mengubah kehidupan mereka.

Kiprah Teknologi Komunikasi di Dunia Pendidikan

Teknologi komunikasi di Indonesia mulai menjadi perhatian dengan kehadiran telepon yang seolah mampu mendekatkan jarak. Meskipun demikian, peranannya saat itu belum banyak kecuali untuk menelpon dan menanyakan jawaban PR seperti yang biasa kami lakukan. Kemudian dengan adanya teknologi satelit dan relay serta kemudahan ijin penyiaran, hadirlah stasiun teve swasta. Sekitar awal tahun 1990-an kami sudah bisa menikmati teve swasta yang menyiarkan program-program pendidikan, seperti yang diadakan oleh Televisi Pendidikan Indonesia. TPI masa itu telah menjangkau banyak daerah, sehingga bisa menjadi salah satu sarana alternatif untuk belajar. Ada banyak acara pendidikan yang menarik untuk diikuti meskipun jumlahnya juga masih terbatas dan diulang-ulang.

Baru pada pertengahan 1990-an kami diperkenalkan dengan teknologi komputer lewat MS Dos, WS, Lotus, hingga Windows. Dan kemudian internet mulai menyapa kami. Teknologi internet inilah yang kemudian membawa banyak perubahan di dunia pendidikan Indonesia.

Dengan internet kami tidak terpaku oleh buku teks. Sebelum tahun 2000, jumlah situs tentang informasi dan pendidikan masih belum sampai ratusan ribu. Namun satu dekade kemudian, tak terhitung banyaknya situs yang memberikan informasi yang tak terbatas. Hampir setiap hari ada situs dan blog yang bermunculan. Bahkan, tiap sekolah dan universitas berlomba-lomba untuk memiliki dan menampilkan informasi yang padat. Guru dan dosen pun kemudian berinisiatif untuk memiliki blog dan menyebarkan pengetahuannya yang dimilikinya.

Hingga tahun 2005, kami lebih banyak menggunakan internet di kampus-kampus yang menyediakan fasilitas komputer tersambung internet atau di warung-warung internet. Masih sedikit keluarga atau perorangan yang menggunakan layanan dial up dengan menggunakan telepon rumah sebagai modem. Pada masa-masa itu kecepatan akses dengen menggunakan layanan dial up sangatlah rendah dan koneksinya pun sering putus-nyambung sehingga menyulitkan jika terjadi pengisian formulir ataupun transaksi perbankan. Penetrasi internet pada masa layanan dial up masih rendah, hanya terpusat di daerah perkotaan. Dan kemudian sekitar tahun 2005 era dial up tersebut kemudian mulai digantikan dengan era broadband.

Era broadband mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Broadband atau jalan yang lebar membuat koneksi internet jauh lebih cepat dibandingkan akses internet dengan menggunakan dial up. Kecepatannya bisa 10-20 kali lipat dibandingkan layanan dial up. Keluhan masyarakat tentang layanan yang sering putus dan layanan yang buruk saat musim hujan pun mulai menyusut. Di era ini penggunaan telepon rumah sebagai modem mulai tergantikan dengan modem berukuran mungil sehingga bisa dibawa kemana-mana.

Meskipun awal-awal kehadirannya harga modem cukup mahal, namun dengan adanya modem portable ini masyarakat tidak terlalu bergantung pada layanan warung internet. Informasi bisa mengalir dari rumah ke rumah. Kehadiran mailing list sebagai forum untuk bertukar pikiran pun semakin diperlukan. Tukar-menukar ide pun bisa semakin cepat dan bisa dilakukan di rumah atau di tempat umum.

Teknologi broadband dengan layanan 3G dan 3,5G kemudian disusul oleh teknologi WIFI yang semakin murah. Kampus-kampus mulai menyediakan WIFI, demikian pula perkantoran, tempat nongkrong seperti kafe dan restoran, juga beberapa taman kota dan ruang tunggu penerbangan. Internet pun semakin menjangkau banyak kalangan dan semakin murah. Pada masa ini telekonferensi dan e-Learning pun semakin berkembang luas.

elearningimagewebready-news-elearning-bsn-go-id

Dengan adanya e-Learning maka pendidikan semakin menjangkau semua kalangan. Bahkan, tidak terhalang oleh batas negara. Semua negara bahkan masyarakat di pelosok dapat menikmati pendidikan asal tersambung internet, sehingga kualitas pendidikan antara di daerah pelosok dan di kota di negara yang maju pun bisa setara.

E-learning ini bisa berupa pendidikan jarak jauh yang diadakan oleh universitas dalam negeri dengan menyelenggarakan telekonferensi dan modul-modul atau kursus-kursus yang banyak diadakan oleh kampus ternama di luar negeri. E-learning ini beragam, mulai dari tingkat kanak-kanak hingga kelas perguruan tinggi dengan beragam subyek.

Kursus online yang lebih populer dengan nama Massive Open Online Course (MOOC) ini tumbuh dengan pesat seiring dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pendidikan. Untuk tingkat internasional, MOCC yang populer adalah Coursera, Venture Lab, Khan Academy, TED Talks, Stanford Online, dan Udacity. Untuk tingkat lokal, umumnya baru sebatas untuk kebutuhan pelajar/mahasiswa di tempat tersebut seperti yang dimiliki Universitas Indonesia dengan Scele. Pendidikan jarak jauh untuk masyarakat umum masih berupa inisialisasi seperti yang diadakan oleh Dikti bekerja sama dengan UNESCO berupa UNESCO e-Learning. XL Axiata sebagai salah satu operator dengan pelanggan di Indonesia lebih dari 35 juta juga telah memiliki kursus online yang bisa digunakan oleh seluruh kalangan, bernama XL Future Leaders.

Berbeda dengan kursus online lainnya yang lebih banyak meningkatkan unsur hardskill dan pengetahuan umum, XL Future Leaders dengan program The XL eCurriculum yang beralamat di www.xlfutureleaders.com bermaksud untuk melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan. Modul-modulnya lebih meniktiberatkan pada kemampuan softskill seperti keahlian berkomunikasi, kecerdasan emosional, merencanakan kesuksesan, dan sebagainya. Selain dapat mengakses modul-modul dan belajar mandiri, siswa juga dapat melakukan interaksi dengan menggunakan fasilitas mentoring.

Seiring dengan semakin populernya e-Learning di kalangan masyarakat, Wapres RI Boediono menunjukkan dukungannya terhadap program ini. Alasannya, program e-Learning dapat lebih memeratakan pendidikan hingga ke daerah pelosok. Sedangkan dari segi hukum, e-Learning yang termasuk dalam pendidikan jarak jauh telah diatur dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 31.

Saat ini Indonesia telah menerapkan teknologi 4 G, bandwith in demand, juga teknologi Time Division Duplex. Alhasil kecepatan dalam mengunduh dan mengunggah dokumen dan multimedia (video, suara, gambar, dll) akan semakin tinggi. XL sendiri telah merilis layanan Bolt dengan menggunakan modem yang terjangkau dan kecepatan akses yang memuaskan. Kebutuhan smartphone di kalangan masyarakat juga semakin tinggi. Sehingga, pendidikan tidak lagi terkotak-kotak oleh waktu dan tempat. Pendidikan semakin mudah dijangkau oleh semua kalangan sehingga mimpi Indonesia untuk menghasilkan SDM berkualitas dan merengkuh kembali titel pusat pendidikan di kawasan Asia Tenggara bisa segera tercapai.

 

Gambar diambil dari: http://www.87seconds.com dan new-elearning-bsn.go.id

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 30, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: