Listrik Bagi Seluruh Masyarakat

mikrohidro

Listrik sudah masuk Indonesia sejak akhir abad ke-19. Setelah Indonesia merdeka, pembangkit listrik direbut dari kekuasaan Jepang dan tiang-tiang listrik pun kemudian mulai dipasang di jalan-jalan utama. Rumah yang dulunya hanya diterangi lampu minyak setelah matahari terbenam, kini nampak lebih benderang. Namun malangnya, hingga tahun 2014 belum semua masyarakat Indonesia menikmati listrik. Dari 250 juta penduduk Indonesia baru 195 juta penduduk yang merasakan manfaat dari listrik yang dikelola PLN.

Menurut Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa dalam Diskusi Publik: Kondisi dan Tantangan Kelistrikan Indonesia di Masa Depan, masih ada 55 juta penduduk Indonesia yang belum menikmati listrik atau sekitar 22% dari total penduduk Indonesia saat ini. Mereka yang belum menikmati listrik umumnya tinggal di daerah pinggiran, namun ada pula yang lokasinya tak jauh dari kota, seperti warga Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat juga warga Kampung Bhayangkara di Garut. Jika saudara-saudara mereka sudah dapat belajar dengan lampu listrik, mereka tak beruntung dan tinggal dalam cahaya remang-remang lilin atau lampu minyak.

Ada berbagai alasan mengapa listrik di nusantara belum merata. Pembangkit tenaga listrik di seluruh nusantara baru bisa menyediakan 80% dari total kebutuhan listrik dan kebutuhan tersebut naik 7-8% tiap tahunnya. Bahkan menurut peneliti McKinsey Global Institute, Ir. Novias Nurendra, M.Sc, pada tahun 2030 diperkirakan kebutuhan listrik mencapai 90 Gigawatt (GW)

Untuk memenuhi kebutuhan listrik tersebut tentu diperlukan tambahan pembangkit listrik. Saat ini pembangkit listrik yang ada di indonesia sebagian besar menggunakan tenaga uap (43,91%), 26,79% tenaga gas dan uap, dan selebihnya menggunakan tenaga air (10,68%), tenaga gas (9,04%), tenaga diesel (7,90%) dan panas bumi (1,67%). Namun karena pasokan gas yang kurang maka bahan energi untuk menghasilkan listrik lebih banyak diperoleh dari batubara dan bahan bakar minyak yang terus naik. Alhasil hal ini memberikan beban biaya yang besar karena harga bahan bakar minyak terus naik. Sementara itu, pasokan gas sering terhambat.

Menurut Direktur PLN Nur Pamudji seperti yang dilansir Media Katadata, dana yang diperlukan PLN untuk membangun pembangkit listrik beserta jaringan distribusinya yang menghasilkan 34 ribu megawatt (MW) sebesar Rp 905 triliun. Suatu angka yang fantastis. Anggaran pembangunan ini masih sulit dipenuhi dari APBN, mengingat biaya operasional sehari-hari juga tidak sedikit.

Selama ini selain dari pemerintah, PLN mendapatkan dana dari beban listrik yang dibayar oleh pelanggan. Angka itu beberapa waktu dirasa tidak cukup sehingga PLN memutuskan untuk menerapkan kenaikan tarif secara berkala. Kenaikan tarif listrik ini sebenarnya cukup memberatkan warga, namun PLN terpaksa melakukannya karena suntikan dana dari pemerintah belum cukup untuk membiayai operasional sehari-hari, apalagi untuk keperluan riset dan pembangunan ke depan. Inilah yang menjadi dilema PLN, harapan untuk memenuhi kebutuhan listrik dan meratakan fasilitas listrik bagi rakyat sulit dicapai tanpa dukungan infrastruktur dan modal yang besar.

Dukungan infrastruktur ini termasuk lahan untuk pembangunan pembangkit listrik. Direktur PLN mengaku masih kesulitan dengan ketersediaan lahan untuk pembangkit listrik sehingga ia berharap ada lahan milik BUMN yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan tersebut.

Dukungan Listrik Mandiri dan Riset Tenaga Alternatif

Meski masih banyak masyarakat yang tak mampu menjangkau listrik, ada banyak pihak yang melakukan uji coba dan berhasil untuk menghasilkan listrik secara mandiri. Ada juga mereka yang konsisten melakukan riset untuk menghasilkan listrik dan sumber energi alternatif.

Desa listrik mandiri ini umumnya adalah desa-desa yang belum tersentuh listrik. Ada yang menyebutnya desa lumbung energi listrik ramah lingkungan yang merupakan bagian dari program Desa Mandiri Energi. Program ini sukses dilakukan di Desa Ciptagelar, Sukabumi; Desa Patanyamang di Maros, Sulawesi Selatan, Desa Mengkang di Sulut, dan masih banyak lainnya. Mereka menggunakan sumber energi yang tersedia di desa mereka, mulai dari air dari sungai beraliran deras, sisa sekam, kotoran hewan (biogas), dan sebagainya.

Keberhasilan desa mandiri energi ini tak lepas dari riset-riset. Riset tentang pembangkit listrik dari sumber energi alternatif, bisa dilihat pada Desa Rantau Sakti Kecamatan Tambusai Utara, Rokan Hulu Propinsi Riau yang sukses mengembangkan pembangkit listrik tenaga limbah sawit cair. Pembangkit listrik tersebut mampu menghasilkan 1 Megawatt untuk kebutuhan listrik 1.050 keluarga. Pembangkit listrik ini merupakan proyek percontohan untuk pembangkit listrik tenaga biogas yang dibiayai oleh Kementerian ESDM. Diharapkan dengan kesuksesan pembangkit listrik di desa ini akan diikuti oleh desa-desa lain sehingga biaya operasionalnya jauh lebih murah dan bersih. Ada juga energi mikrohidro seperti yang diterapkan di Desa Patanyamang, Maros yang berhasil menghidupkan listrik bagi

Mengingat PLN masih kesulitan untuk membangun pembangkit listrik, kesuksesan program desa listrik mandiri ini bisa ditularkan ke tempat-tempat lain dengan dukungan penuh dari PLN. PLN merupakan BUMN yang telah berpengalaman di dunia perlistrikan sehingga dengan adanya dukungan dari PLN, riset tentang pembangkit listrik dari energi alternatif akan lebih cepat dan mudah dilakukan.

Program desa listrik mandiri akan membantu PLN memenuhi kebutuhan listrik bagi 55 juta warga yang belum menikmati fasilitas listrik. Biaya untuk mendukung program desa listrik mandiri tentunya akan lebih murah karena menggunakan energi yang tersedia melimpah di tiap daerah.

Ayo PLN, dukung desa listrik mandiri dan riset tentang sumber energi alternatif untuk pemerataan listrik bagi seluruh rakyat di pertiwi.

Sumber:

artikel ini diikutkan dalam lomba blog  ‘Ideku Untuk PLN’

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 17, 2014.

2 Tanggapan to “Listrik Bagi Seluruh Masyarakat”

  1. Wiiih mantap Puspa postingannya. Semoga sukses ya Pus. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: