Puasa Jangan Lapar Mata

burger ari (2)

Kalau puasa jangan lapar mata. Semuanya serba ingin dan semuanya ingin dibeli. Nanti sampai di rumah, malah tidak termakan. Sayang bukan?! Nasihat ini mungkin pernah Anda dengar atau baca, tapi rasanya memang susah dijalani. Saat puasa, semuanya nampak nikmat dan menggiurkan.

Dulu waktu kecil, beberapa saat sebelum berbuka, saya sudah menyiapkan makanan. Ada nasi beserta lauknya sudah tersaji dalam piring. Es buah dalam mangkuk. Masih ada sirup juga. Dan semuanya dilahap setelah bedug ditabuh.

Anehnya dulu itu meski gembul tetap baik-baik saja. Masih rajin untuk tarawih meski di masjid dekat rumah, sholat tarawih plus witirnya ada 23 rakaat. Setelah itu setiba di rumah, masih nyari sesuatu yang segar. Hahaha gembul atau rakus ya?

Tapi setelah dewasa dan ngekos di Surabaya. Saya mulai menahan mata. Dan ini dibantu dengan kondisi duit yang pas-pasan. Alhasil kalau tidak masak sendiri, ya beli makanan di warung yang murmer. Kalau ada duit lebih beli nasi goreng merah yang harum dan nikmat. Bahkan saking iritnya, biasanya nasi goreng hanya dimakan separuh untuk dimakan selebihnya pas sahur.

Ada trik lain saat masih mahasiswa agar hemat. Rajin mengunjungi buka puasa bersama. Lumayan untuk menambah energi karena makanannya jauh lebih baik dibandingkan memasak atau membeli. Dan tentunya menghemat uang saku dari ibu.

Pengalaman berpuasa paling menguras tenaga saat bertugas mencari berita. Sahur jarang-jarang karena pulang kerja sudah malam. Jikalau sempat paling hanya minum segelas air dan setelah subuh dilanjut tidur sejenak. Setelah itu berkeliling kota dengan cuaca panas.

Jika sudah ada undangan acara maka hal itu cukup melegakan. Tapi jika tidak ada harus berpikir keras mencari bahan dengan berkeliling ke sana kemari.

Paling tidak enak saat meliput makanan. Duh benar-benar menggoda dan rasanya ingin sekali menyantapnya. Apalagi jika ada pencari berita lainnya yang sedang berhalangan dan menyantapnya dengan lahap. Saya hanya bisa tertawa sedih dan segera berlalu.

Di kantor pun hanya tersedia takjil dan biasanya baru bisa makan lengkap setelah mengetik laporan. Belum lagi jika masih ada berita yang dikejar malam itu. Rasanya aneh berkeliling kota dimana sebagian warga sibuk beribadah malam. Tapi masa-masa itu sungguh berkesan.

Ya, masa-masa berat itu merupakan kenangan. Dan menjadi pengingat jika puasa tak sekedar menahan lapar. Ada banyak sekeliling yang kerap berpuasa karena terpaksa tak ada makanan. Jika mengingat hal tersebut saya merasa bersalah jika lagi-lagi lapar mata atau menyisakan makanan.

Selamat berpuasa rekan-rekan!

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 22, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: