Pria yang Pandai Bercakap dengan Satwa

Animal Kingdom
Mimpi itu masih melekat erat di benakku. Tentang sebuah hutan, ada monyet nakal, dan kemudian bertemu pria yang bisa bercakap-cakap dengan binatang.

Aku mendesah. Pasti gara-gara buku yang kubaca atau film yang baru kutonton. Yang kuingat, sebelum tidur aku sempat menonton film Apocalypto yang sering sekali diputar di televisi swasta. Di layar ponselku juga belum kututup halaman tentang kebakaran hutan di Jambi. Hemmm pasti gara-gara itu, ujarku dalam hati sambil bersungut-sungut.

Berita tentang kebakaran hutan di Jambi, Riau, juga di Kalimantan menguatirkanku sekaligus membuatku kesal bukan buatan. Alangkah teganya pembalak hutan tersebut membakar hutan yang menjadi tempat hunian flora, fauna, manusia rimba, juga masyarakat di sekelilingnya. Tega..tega..tega…

Eh rupanya racauanku keluar dari mulutku dan cukup keras. Ayah yang masih menyelesaikan sarapannya mendelik kepadaku. Ibuku yang menuangkan air ke gelas ayah juga ikutan sewot. “Ada apa sih Mita, pagi-pagi sudah rewel?”

Hari ini sarapan keduaku bersama orang tua setelah empat bulan sebelumnya aku mati-matian menuntaskan modul pratikum dan tugas-tugas kuliahku di kampusku yang berjarak ratusan kilometer dari rumahku. Ya liburan semester ganjil ini lumayan panjang, hampir sebulan penuh. Setiap hari saat kalut menyelesaikan laporan dan makalah, aku membayangkan liburan ini. Tapi bukannya berlibur aku masih terjebak di sini, di rumah keluargaku. Tidak ada tanda-tanda orang tuaku bakal mengajakku berlibur atau setidaknya memberiku uang saku untuk kugunakan berjalan-jalan.

Hemmm apakah aku salah strategi dalam liburan kali ini ya, pikirku. Liburan semester lalu aku manfaatkan untuk jelajah Kepulauan Seribu. Rasanya asyik dan seru mengenal biota laut di Kepulauan Seribu. Ada beragam jenis ikan dan biota laut yang hanya aku kenal lewat buku, lab, atau kebun binatang dan akuarium air laut. Rasanya luar biasa melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri. Hewan laut tak kalah mempesonanya dengan hewan darat dan hewan penguasa angkasa.

Di beberapa pulau yang tak berpenghuni, aku juga berkenalan dengan berbagai jenis burung lewat teropongku. Pamanku membelikanku kado teropong setelah mengetahui kebiasaanku memperhatikan burung-burung dan aneka binatang. “Mita, Kau cocok jadi dokter hewan,” saran pamanku. Ya sayangnya nasibku sedikit meleset dari harapan banyak orang. Aku malah masuk jurusan biologi. Entahlah, apakah aku teledor memilih jurusan saat itu, tapi setidaknya aku masih bisa berdekatan dengan dunia hewan, plus dunia flora yang tak kalah spektakularnya dengan bidang ilmu lainnya. Aku akan menjadi pakar tanaman dan hewan, aku berjanji ke diriku sendiri.

Rasanya tak pantas menyalahkan orang tuaku sebagai penyebab kegagalanku berlibur. Ada banyak buku-buku tentang wisata alam juga dunia flora dan fauna yang belum pernah kubaca. Beberapa di antaranya sudah menguning dan ada pula yang mulai lapuk. Wah buku langka nih dan pastinya mahal, aku mengusapnya dan kemudian mengambil kain lap untuk membersihkan buku dari debu.

Buku-buku bersampul tebal itu banyak menampilkan gambar-gambar satwa. Aku mulai larut dan membayangkan diriku menari dengan berpegangan tangan membentuk lingkaran bersama zebra yang jahil, monyet yang cerdik, kucing hutan yang tangkas, penguin yang lugu, dan aneka satwa lainnya.

Hingga berjam-jam kemudian aku masih asyik membaca buku koleksi ayah dan tak menyadari ayahku telah tiba. Ayah menepuk bahuku dan aku terkejut dan hampir melompat. “Duh ayah bikin kaget saja,” aku pura-pura marah.

Ayah melihatku dan menatap buku yang telah berantakan di sisiku.
“Kamu benar-benar anak ayah juga teman flora dan fauna ya?” Ayah memencet hidungku main-main.
Ia raih sebuah buku wisata Jawa Timur yang pernah kulihat tapi belum pernah kubaca.
Ia menunjuk beberapa judul di daftar isi.
“Coba main ke Coban Randa, di situ sekarang ada banyak monyet. Kalau yang modern coba main ke Museum Satwa. Di Jatim Park juga ada tuh akuarium raksasa. Kalau benar-benar niat travelling, ya udah sekalian ke Cagar Alam Baluran dan Alas Purwo,”
Aku terpaku mendengar penuturan ayah.
“Ayah serius?”
Ayah mengangguk.
“Daripada Kamu bengong dan uring-uringan, Ayah kasih uang saku untuk berlibur. Tapi hati-hati dan ingat rumah,”
Horee…..aku melompat dan memeluk ayahku. “Ayah memang hebat,” aku memujinya.

Keesokan pagi aku telah berdandan praktis dan menunggu kedatangan sepupuku yang juga sedang menikmati liburan kuliah. Dibandingkan diriku yang suka mengenakan celana kargo dan kaus serta ransel, sepupuku ini feminin dan suka berkhayal. Ia mengenakan celana panjang tapi dilengkapinya dengan blus renda-renda dan topi lebar.

Kami berdua mengendari motor dari rumahku menuju Batu. Tujuan pertama kami adalah Coban Randa. Air terjun ini kami tempuh satu jam dan suasana pagi membuat hawa begitu sejuk. Rasanya senang sekali menghirup udara yang demikian sejuk, berbeda dengan udara pengap Jakarta. Air terjunnya juga deras dan cantik membuat moodku berubah baik. Tapi aku menunggu sesuatu. Kehadiran monyet berekor panjang. Dimana monyet itu?

Dinda yang sudah selesai bermain air di sungai dan air terjun menanyaiku mengapa aku bengong dan tidak ikut berkecipak air. Aku menggeleng dan menunjuk kameraku seolah-olah berkata akulah fotografer pribadimu.

di coban rondo ada monyet

Dinda mulai nampak bosan, aku pun juga capai menunggu. Kami pun beranjak dari air terjun menuju lokasi parkir. Eh baru berjalan beberapa meter, ada sesuatu dari pepohonan di bukit. Aku mengambil teropongku. Wow ada monyet asyik berayun.

Pengunjung menunjuk-nunjuk. Mereka nampak antusias dan tertawa melihat ulah monyet. Tapi setelah monyet berayun-ayun dan semakin mendekat, mereka pun histeris dan bubar.

Rupanya jam makan siang dan monyet itu lapar. Alhasil monyet tersebut memburu makanan pengunjung. Ada beberapa pengunjung yang berteriak, ada pula yang menangis. Aku melirik sepupuku ia sangat pucat. Aku menawarkan diri untuk menuntunnya. Ia mengangguk lemah. Jangan-jangan ia phobia monyet.

Kami berjalan perlahan dan berupaya tak menarik perhatian. Eh rupanya ada satu monyet besar yang tertarik dengan topi lebar Dinda dan kemudian meloncat ke arah kami. Dinda sangat pias dan histeris. Ia sangat ketakutan. Aku mengusir monyet itu. Tapi monyet besar lainnya muncul dan berhasil merebut topi lebar Dinda. Dinda terisak.

Aku menghibur sepupuku. Ia nampak lunglai dan sedih. Aku mencari ranting pohon yang panjang untuk menakut-nakuti monyet dan mengambil topi lebar sepupuku. Ketika monyet besar tersebut menampakkan seringai dan giginya aku mundur.

Dari belakangku ada seorang pria berambut panjang muncul. Ia memintaku mundur. Dan ia mendekati monyet yang nampak ganas tersebut. Ia mengeluarkan bebunyian aneh. Lalu monyet besar tersebut nampak tenang, bahkan mendekatinya. Mereka menggunakan bahasa yang aneh dan lama kelamaan monyet dan pria tersebut nampak akrab. Si pria lalu mengambil topi lebar dari tangan monyet besar tersebut dan menyerahkannya kepadaku.

Ia tersenyum dan kemudian membantuku dan sepupuku beranjak dari monyet-monyet yang mungkin sudah membentuk pasukan ini.

Sepupuku masih pias. Kami pun mencari makanan dan si pria tersebut rupanya pandai bercerita. Ia bercerita tentang macam-macam satwa liar di Jawa Timur dan niatnya bersama rekan-rekannya untuk menjelajah Banyuwangi. Mendengar nama Banyuwangi disebut, aku tersentak. Alas Purwo dan Baluran sudah lama membuatku penasaran. Aku ingin berkenalan dan menjelajah suasana Afrika ala Jawa.

Ia lagi-lagi tersenyum dan menyodorkan kartu nama. Lalu ia bangkit dan melambaikan tangan. “Ikut saja jika mau,”
Sepupumu juga boleh ikut, aku akan menjaganya, tambahnya.

Dinda menggeleng. Aku tak ingin ikut Mita. Aku takut dengan monyet. Ada banteng juga. Tidak Mita, Kau saja yang pergi.

Ya, minggu berikutnya aku pergi bersama Dias, pria misterius tersebut, bersama kelima temannya. Mereka mahasiswa elektro Universitas Brawijaya dan semuanya mudah akrab. Kami menggunakan kereta dan kemudian menyewa jeep untuk menjelajah Alas Purwo dan Baluran. Rasanya perjalanan ini bak mimpi. Aku bertemu dengan satwa liar khas Jawa Timur dan suasananya memang begitu khas, seperti tidak berada di Jawa.

Aku memperhatikan baik-baik Dias. Dia masih misterius dan kadang-kadang ia terlihat bercakap-cakap dengan hewan yang ditemuinya. Ia sangat pandai berteman dengan mereka. Hei, bukankah ia seperti pria dalam mimpiku. Pria yang pandai berdongeng pada binatang. Aku menatapnya sekali lagi dan tertawa lega.

 

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 27, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: