Tari Topeng Malangan yang Kaya Nilai Luhur

topeng malangan

Kesenian khas suatu daerah di Indonesia bisa punah jika tidak ada generasi yang melestarikannya. Di tengah arus globalisasi dimana budaya asing mudah berasimilasi, Sanggar Asmoro Bangun berjuang keras melestarikan tari Topeng Malangan. Meski dana operasional disokong secara mandiri, Sanggar tetap konsisten memberikan kursus Topeng Malangan dan seni karawitan gratis ke generasi muda sekelilingnya juga mengadakan pentas setiap 36 hari sekali.

Setelah berkunjung ke Museum Topeng yang terletak di Batu, Malang, saya teringat-ingat oleh koleksi topeng di museum tersebut yang mencapai ribuan. Rupanya tari topeng adalah tari tradisional yang ada di berbagai pelosok nusantara. Salah satunya yang terkenal adalah tari Topeng Malangan. Bahkan tari Topeng ini disebut tari tradisional khas Malang karena erat kaitannya dengan sejarah daerah Malang.

topeng di museum

Konon tari Topeng Malangan sudah eksis sejak abad ke-8 Masehi pada masa Raja Gajayana bertahta. Raja Gajayana sendiri adalah raja kerajaan tertua di Malang, yaitu Kanjuruhan. Pada masa itu tari digunakan untuk upacara agama dan bersifat spiritual. Pengenaan topeng pada penari menjadi sebuah medium untuk berkomunikasi dengan arwah leluhur. Meskipun agama Hindu dan Buddha telah masuk ke Indonesia, tapi budaya untuk menghormati leluhur masih lestari hingga masa kini.

Setelah beberapa kali terjadi pergantian kekuasaan dan bergulir ke Kerajaan Singosari, tari Topeng ini masih hidup di masyarakat. Dan sejak Raja Kertanegara berkuasa, tari topeng ini dikenal dengan nama Topeng Malangan. Tarian ini kemudian semakin populer pada masa Kerajaan Majapahit. Topeng Malangan bukan sekedar tari untuk ritual religi, namun juga untuk kesenian pertunjukan.

Setelah kehadiran Islam, tari Topeng mulai terpinggirkan ke sudut-sudut Malang. Tarian ini nyaris punah seandainya tidak ada sosok seperti mbah Karimun (alm) dan seniman tari Topeng Malangan lainnya yang berkomitmen dan penuh kegigihan untuk melestarikannya. Dan upaya para seniman topeng tersebut berhasil, Malang pun identik dengan Topeng Malangan.

Kesan mistis di dalam tari topeng sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah tarian indah yang dibawakan beberapa penari yang mengisahkan Panji Asmarabangun, salah satu cerita rakyat yang populer di Jawa Timur. Panji Asmoro Bangun dan Dewi Galuh Candra Kirana/ Sekartaji adalah cerita rakyat yang bernuansa perjuangan dan romansa antara dua kerajaan, Jenggala dan Panjalu, ibarat tokoh Romeo dan Juliet.

Tentang Panji, cerita ini adalah cerita favorit saya saat masih kanak-kanak, dimana Dewi Candra Kirana ibarat Srikandi, yang menyamar sebagai pria untuk perjuangannya.

Cerita Panji penuh dengan kisah-kisah keluhuran yang cocok diteladani oleh generasi muda. Ada nilai kegigihan, kesetiaan, dan pantang menyerah di dalamnya. Di kisah ini ada pesan bahwa keburukan pastinya kalah oleh nilai-nilai kebajikan. Juga ada pesan penyatuan antar dua kerajaan yang dilanda konflik perang saudara.

Bentuk dan raut wajah pada topeng yang dikenakan penari berbeda-beda menunjukkan karakter atau tokoh yang diperankan oleh penari. Ada yang melotot dan nampak marah, ada yang bertaring dan berwajah beringas seperti buto (raksasa), ada juga yang wajah dan sinar matanya lembut. Hal ini mencerminkan karakter manusia, ada yang baik, ada yang sombong, ada juga yang luhur budinya. Di luar itu ada topeng berkarakter abdi/pelayan dan hewan. Total ada 76 karakter.

Oleh karena nilai-nilai luhur dan juga gerakan tarian yang indah maka mbah Karimun was-was tari tradisional ini bakal punah tergerus oleh jaman. Ada dua kemungkinan tarian tradisional ini semakin terpinggirkan. Yang pertama karena kalah pamor dengan budaya asing yang nampak wah dan modern. Yang berikutnya karena tarian ini jarang dipertunjukan dan tidak diperkenalkan ke generasi muda seperti pepatah tak kenal maka tak sayang.

Lewat kerja keras dan kesabarannya Karimun berupa menghidupkan kesenian tradisional ini. Secara konsisten ia dan sesama seniman yang peduli menggelar pertunjukan secara rutin. Ia juga melatih anak-anak di sekelilingnya untuk belajar menari juga memainkan gamelan dan menyanyi ala seni karawitan. Dengan sukarela ia melatih para anak-anak tersebut.

Untuk waktu pementasannya sendiri ada alasan mengapa diadakan 36 hari sekali yakni setiap Senin Legi. Pada hari tersebut, terutama saat bulan Sura, ada budaya barikan, yang bermakna berdoa bersama-sama dan dilanjutkan makan bersama dengan saling tukar makanan. Pertunjukan Topen Malangan sendiri menggunakan bahasa Jawa kuno yaitu bahasa Kawi, sehingga tarian ini juga menjaga kelestarian bahasa nenek moyang suku Jawa.

Hingga di ujung usianya, mbah Karimun tetap berjuang agar Topeng Malangan lestari. Pemerintah pun terketuk dan menganugerahkannya sebagai maestro seni Indonesia.

Perjuangan Karimun diteruskan oleh cucu dan muridnya, Handoyo dan Saini, mirip dengan kisah Karimun yang mewarisi dari ayah dan kakeknya. Sanggar yang diberi nama Sanggar atau Padepokan Asmoro Bangun tetap eksis berdiri di Desa Karang Pandan, Pakisaji, meskipun dana operasional diupayakan secara mandiri. Pengabdian yang tulus terhadap seni tradisional yang menggerakkan semangat penerus mbah Karimun untuk tetap menyebarluaskan kecintaan masyarakat terhadap kesenian tradisional.

Selain memberikan kursus gratis dan menggelar pentas tari topeng secara rutin, Handoyo dan Saini juga memiliki ketrampilan untuk membuat topeng. Topeng-topeng tersebut dipahatnya dari kayu sengon, kayu petai, jati, dan sebagainya, yang masih menggunakan peralatan sederhana. Topeng-topeng ini ada yang dikenakan sebagai atribut menari, ada juga yang dibuat untuk hiasan rumah, atribut interior restoran dan hotel, gantungan kunci, dan sebagainya. Para generasi muda seperti murid SMK pun dipersilakan untuk belajar membuat kerajinan topeng.

sanggar

Topeng Malangan dan nilai luhur di dalamnya adalah salah satu mahakarya Indonesia. Para pelestari budaya ini juga mewarisi nilai-nilai luhur dan jiwa nenek moyang Indonesia seperti pengabdian, kesabaran, dan gotong-royong dalam menyebarkan tarian ini ke generasi muda.

Nah, jika ke Malang jangan lupa untuk membeli suvenir topeng, berkunjung ke Museum Topeng, dan juga menonton pertunjukan tari Topeng Malangan.

Referensi:
Halomalang.com/serba-serbi/sanggar-asmoro-bangun-pertahankan-warisan-budaya-topeng-malangan
Lirikmalang.com/2015/01/12/asmoro-bangun-tetap-pertahankan-topeng-malangna-sebagai-warisan-budaya
Bangunasmoro.blogspot.com
Topengmalangofmalang.blogspot.com

Gambar tari dan sanggar diambil dari:jv.wikipedia.org dan travelatmalang.blogspot.com

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 2, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: