Kucing Piatu

kucing piatu

Meong..meong. Suara rengekan kucing itu membuat saya kasihan sekaligus jengkel. Siapa kucing itu dan dimana keberadaannya?

Dari gelap ke terang..rengekan kucing itu tak terhenti meski makin melemah. Saya makin jengkel karene merasa kena polusi suara namun juga penasaran.

Kedua kucing kampung yang tinggal di teras kami, Nori dan Nero juga ingin tahu siapa anak kucing bersuara nyaring. Setelah mata saya tajamkan saya menemukan sumber suaranya. Seekor anak kucing di atas dinding halaman tetangga. Wah bukannya orangnya ada..apa mereka tidak keberisikan ya mendengar suara anak kucing itu. Saya pura-pura tak tahu. Tidak enak mencampuri wilayah tetangga.

Tangisan kucing itu tak kunjung berhenti meski makin lemah. Saya jadi merasa makin kasihan. Apa kucing itu tak bisa turun? Kemana induk kucingnya?

Sudah tiga hari kucing itu mengeong memelas. Membuat saya cemas. Tapi rupanya nasib kucing itu tak terlalu naas. Entah bagaimana ceritanya kucing itu muncul di tembok halaman rumah.

Wujudnya masih anak kucing yang memelas. Kulit dan rambutnya hitam tak terurus. Usianya mungkin baru dua bulan. Suaranya begitu nyaring membahana. Ketika melihat piring makan Nori ia melompat turun tergesa-gesa.

Meski lemah ia berhasil melompat turun. Plop..kakinya mendarat di rumput halaman. Ia ragu untuk mendekat makanan sisa Nori. Ia malah meminum dengan rakus air di wadah air. Kasihan ia kehausan.

Nero menyambut anak kucing itu dengan mengendusnya. Anak kucing itu malah menghambur ke Nori, mungkin mengira itu induknya. Nori pun diam saja, tak menyambut juga tak mengelak. Akhirnya anak kucing itu makan sisa Nori dan Nero dengan rakus. Suara makannya begitu berisik.

kucing iatu2

Ya itulah awal kehadiran Momo kucing yatim piatu yang menjadi anggota ketiga kucing kampung yang tinggal di teras rumah. Ia prioritas ketiga setelah Nero dan Nori. Jatahnya adalah makanan sisa mereka.

Kini tubuhnya tak sekurus dulu. Ia sangat lincah dan rambut hitamnya nampak mengkilap. Ia juga tak lagi suka meong-meong berisik. Ia juga suka mengikut Nori sehingga orang mengira ia salah satu anaknya.

Setelah Momo rupanya ada lagi anak kucing yang tersesat dan akhirnya menetap di teras. Sudah hampir empat bulan tapi belum saya beri nama. Kucing ini paling rakus bak ikan suckermouth sehingga prioritas terakhir. Dua kucing piatu dan dua kucing prioritas. Semoga tak makin bertambah.

tidur bareng

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 7, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: