Yuk Bijak Mengkonsumsi dan Memelihara Ketersediaan Air Tanah

mawar

Krisis air tanah mengancam di berbagai daerah di Indonesia. Apalagi di Jakarta yang padat oleh pemukiman dan pelaku usaha/industri. Jika tak segera teratasi, maka Jakarta akan kekeringan, permukaan tanah pun akan menurun dengan cepat dan terkena intrusi air laut.

Ancaman krisis air ini telah terjadi di Bali dikarenakan meningkat pesatnya usaha di sektor pariwisata. Jakarta mirip kondisinya dengan Bali dimana sebagian wilayahnya masuk daerah pesisir. Kepadatannya bahkan lebih tinggi daripada Bali, baik kepadatan penduduk maupun banyaknya pelaku usaha dan industri yang berada di Jakarta. Oleh karena agar tidak terjadi krisis air yang parah seperti di Bali, dimana cadangan air tanah telah berada pada posisi kurang 20%, maka Jakarta harus segera berbenah.

Konsumsi air tanah sejatinya untuk memenuhi kebutuhan pokok dan tidak dikomersialisasi atau dieksploitasi secara berlebihan. Namun, dengan banyaknya pelaku usaha di Jakarta mulai dari berbagai penginapan, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga industri maka air tanah ini terus tersedot dan cadangannya semakin menurun. Pemukiman pun terus bertambah seiring dengan jumlah penduduk Jakarta yang kian meningkat.

Melihat pertumbuhan jumlah pelaku usaha dan jumlah penduduk Jakarta, tak heran apabila dari tahun 2011 ke 2014 terjadi lonjakan kebutuhan air tanah dari 7.209.189 meter kubik menjadi 8849.788 meter kubik seperti yang dilansir beritajakarta.com. Dari konsumsi air tanah tersebut, hanya 60 persen yang memiliki ijin penggunaan air tanah, selebihnya ilegal.

Konsumsi air tanah yang berlebihan tersebut telah menghasilkan output yang memprihatinkan. Beberapa kawasan di Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah. Yang mencolok adalah kawasan di Jakarta Utara yang laju penurunannya berkisar 7,5-14 cm/tahun berdasarkan data yang dipublikasikan di website airtanah. Selain penurunan permukaan tanah, ancaman lainnya yaitu intrusi air laut karena konsumsi air tanah berlebihan akan membuka pori-pori tanah. Air tanah yang terkena intrusi air laut akan menjadi air payau dan tidak layak dikonsumsi sebagai air minum.

Selain permasalahan cadangan air tanah yang terus menurun, kualitas air tanah juga semakin diragukan. Menurut Badan Pengendalikan Lingkungan Hidup (BPLH), air tanah di berbagai tempat di Jakarta sudah tidak layak minum. Bahkan, juga tidak layak untuk perikanan dan pertanian. Hal ini disebabkan kandungan coliform dan fecal coli yang telah melampaui ambang batas. Bakteri ni berasal dari limbah rumah tangga dimana bercampur ke air tanah karena jarak pembuangan limbah dan sumur yang sangat berdekatan di hunian yang padat penduduk.

Sumur Bor untuk Mengkonsumsi Air Tanah (sumber: sumurborpakeko.wordpress.com)

Sumur Bor untuk Mengkonsumsi Air Tanah (sumber: sumurborpakeko.wordpress.com)

Permasalahan air juga diperburuk dengan kondisi sungai di Jakarta yang memprihatinkan karena banyaknya rumah tangga yang mengalirkan limbah ke sungai, termasuk membuang sampah di sungai. Air sungai menjadi berbau busuk dan berwarna kehitaman.

Ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Dinas Tata Air, BPLHD dan PAM seperti Aetra untuk mengawasi penggunaan air tanah dan menyediakan kebutuhan air bersih bagi warga Jakarta. Pengelolaan air tanah ini memerlukan bantuan segenap warga Jakarta. Di antaranya mengkonsumsi air tanah secara efisien dan tidak melakukan eksploitasi untuk motif ekonomi.

Saya bersama pasangan berupaya menggunakan air tanah secara bijak. Saat ini kualitas air tanah di Jakarta Timur yang berbatasan dengan Depok memang masih bagus. Namun, saya ragu dalam beberapa tahun ke depan, kualitas air masih seperti saat ini. Apalagi dengan semakin banyaknya pemukiman, pusat perbelanjaan, dan apartemen yang dibangun di sekeliling kami.

Untuk itu saya dan warga di sekeliling kami sepakat untuk menghemat konsumsi air tanah. Setiap rumah juga diwajibkan untuk memiliki tanaman minimal lima buah serta memiliki biopori di halaman untuk menurunkan run off air hujan dan menambah cadangan air tanah. Sebagian besar rumah di lingkungan sekeliling juga memiliki tandon air di loteng untuk menampung air hujan. Di beberapa tempat di Jakarta Timur juga dibuat sumur resapan untuk menampung air hujan serta mencegah banjir.

Selain itu, para Ibu-ibu termasuk saya mulai terbiasa memanfaatkan air cucian beras, sayuran, serta bekas rebusan sayur untuk digunakan menyiram tanaman. Tanaman akan lebih subur karena air tersebut kaya nutrisi dan tentunya menghemat konsumsi air. Selain itu, setiap sebulan sekali dilakukan kerja bakti untuk membersihkan saluran air dan membenahi tanaman-tanaman yang ada di pinggir jalan sehingga tumbuh subur dan rapi juga membantu menjaga kualitas air tanah.

Namun, dengan melihat jumlah pertumbuhan penduduk Jakarta yang kian berkembang pesat, mau tak mau warga akan berganti dari mengkonsumsi air tanah menjadi pengguna air permukaan seperti waduk dan sungai karena dikuatirkan permukaan air tanah di DKI semakin menurun apabila terus mengandalkan air tanah. Para penghuni Jakarta, terutama para pelaku usaha di Jakarta juga diupayakan menggunakan air bersih perpipaan.

Waduk Jatiluhur (sumber: intisari-online.com)

Waduk Jatiluhur (sumber: intisari-online.com)

Agar air permukaan layak dikonsumsi, untuk itu BPLHD harus terus mengawasi agar tidak terjadi pencemaran air oleh industri dan warga pun dilarang keras untuk membuang sampah di sungai. Sungai harus dibersihkan agar bersih, sedap dipandang, dan kembali menjadi fungsinya seperti semula yakni menampung air hujan, menyediakan kebutuhan manusia dan tempat hidup flora fauna air tawar. Daur ulang air ini harus dimulai sejak sekarang dan menjadi tantangan bagi Aetra yang telah sukses dengan pengolahan air Jakarta yang terimbas lumpur.

11228900_1079391142072061_6030263663933239695_n

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 14, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: