Menyiapkan Rumah yang Nyaman untuk Menjaga Eksistensi Badak

Badak-Jawa

Iklim Indonesia yang tropis dan kondisi geografisnya yang kaya akan hutan belantara membuat negeri ini dikarunia keragaman plasma nutfah. Ada berbagai satwa yang langka yang berumah di Indonesia. Di antaranya adalah badak, dimana Indonesia memiliki kedua-duanya, badak Jawa dan badak Sumatera. Yang memprihatinkan, kedua badak, terutama populasi badak Jawa atau badak bercula satu semakin menyusut.

Pada 5 Juni 2012, badak mulai mendapat perhatian penuh dari Pemerintah melalui pencanangan awal tahun badak dan Indonesia ditetapkan sebagai garda terdepan dalam konservasi badak. Langkah pemerintah ini sebenarnya terlambat karena populasi badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus sondaicus) yang telah berada pada tahap kritis.

Ada dua hal utama yang menyebabkan populasi badak cepat menyusut. Yang pertama adalah perburuan cula badak besar-besaran sebelum pelarangan menggunakan cula badak sebagai obat di Tiongkok sejak tahun 1993. Faktor berikutnya, hutan sebagai rumah badak yang luasannya semakin menyusut oleh karena kebutuhan manusia akan pemukiman, pertanian, dan perkebunan.

Saat ini rumah badak Jawa hanya tersisa Taman Nasional Ujung Kulon. Keberadaan Ujung Kulon yang berdekatan dengan pulau Sumatera dan anak gunung Krakatau juga turut mengancam eksistensi mereka. Anak Gunung Krakatau merupakan gunung berapi aktif, sedangkan pulau Sumatera sudah belasan tahun ini kondisinya memprihatinkan dengan mengirimkan asap kebakaran hutan setiap tahunnya ke daerah di sekelilingnya. Kondisi alam Sumatera yang makin mengenaskan ini juga menjadi ancaman bagi badak Sumatera atau badak bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis) di Suaka Rhino Sumatera Way Kambas, meskipun populasinya masih belum kategori hewan langka.

Kebutuhan untuk rumah tambahan bagi badak Jawa maupun badak Sumatera sangatlah mendesak. Hal ini menjadi perhatian komunitas pecinta badak Indonesia dan WWF yang sungguh-sungguh memikirkan kelangsungan badak sebagai hewan yang dilindungi. Permasalahan konservasi badak di Indonesia juga menjadi bahasan dalam peringatan hari badak internasional (World Rhino Day) yang diperingati setiap 22 September.

Selain memikirkan cara untuk konservasi badak secara modern seperti yang dilakukan Malaysia di Borneo Rhino Sanctuary pada badak Sumatera dengan teknologi fertilisasi in vitro, Pemerintah perlu menyiapkan rumah bagi badak Jawa maupun badak Sumatera. Karakteristik untuk rumah kedua badak itu bisa dilihat dari rumah yang ada sekarang, dimana persyaratan untuk badak bercula satu lebih kompleks dibandingkan badak Sumatera.

Badak Sumatera (sumber gambar: mongabay.co.id)

Badak Sumatera (sumber gambar: mongabay.co.id)

Kedua badak tersebut selama ini tinggal menyebar di Asia dan Afrika, seperti di India, Nepal, daratan sungai Mekong, Tiongkok, dan nusantara. Jika demikian mencari rumah bagi para badak tidak harus di Sumatera dan Jawa, namun bisa dipikirkan juga untuk menyiapkan rumah di hutan-hutan Sulawesi, dan pulau Irian yang relatif lebih banyak dan tidak terganggu oleh gangguan asap dibandingkan yang ada di Sumatera dan Kalimantan.

Menurut data SK Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi oleh Kementerian Kehutanan saat ini keberadaan hutan di Indonesia terluas berada di pulau Irian, yakni berkisar 40,5 juta ha. Posisi kedua adalah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur sebesar 15,3 dan 14,6 juta ha. Namun, asap juga sering terjadi di pulau Kalimantan sehingga kawasan ini perlu diwaspadai. Pulau Sulawesi memang hutannya tidak terlalu luas, yakni berkisar 8 juta ha, namun lokasinya relatif lebih aman dari perusakan lingkungan dibandingkan Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Meski demikian bukan berarti Pemerintah permisif terhadap pelaku pembakaran asap, pembalakan liar, dan juga perusak lingkungan. Jika Pemerintah berniat sungguh-sungguh untuk melakukan konservasi dan menyediakan rumah bagi eksistensi badak, maka Pemerintah harus menindak tegas pelaku kriminal tersebut.

Sementara itu, untuk badak Jawa, salah satu kriterianya adalah kawasan yang bebas hewan lainnya seperti banteng karena mereka sering berkompetisi untuk masalah ruang dan sumber makanan. Oleh karena itu, agar populasi badak tidak semakin terdesak, banteng bisa digabungkan ke suaka margasatwa dan taman nasional di Jawa Timur.

Badak Jawa biasa hidup di padang rumput basah, daerah yang berkubang untuk mendapatkan mineral garam-garaman, dan hutan hujan dataran rendah yang pepohonannya tidak terlalu lebat. Ada beberapa lokasi yang cocok seperti di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat seperti Lombok bagian timur yang sejuk.

Dua daerah yang diusulkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam dan WWF adalah Taman Nasional Halimun di Gunung Salak dan Suaka Margasatwa Cikepuh Kecamata Ciemas, Sukabumi. Jika pemerintah berkomitmen untuk menjaga kelangsungan hidup badak maka pemerintah harus segera menyiapkan rumah kedua bagi para badak bercula satu maupun badak bercula dua serta menjaga hutan agar tetap mampu menyediakan pasokan tanaman pakan dan rumah yang nyaman bagi para badak.

Referensi:
Blog.cifor.org
http://www.mongabay.co.id
http://www.satwa.net
Gambar atas: satwa.net

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 18, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: