Era Media Sosial dan Banjir Informasi

Arus informasi

Hei apa sih perubahan paling terasa setelah hadirnya era media sosial? Lebih terhubungkah? Lebih mudah terkenal dan eksis? Atau makin banjir informasi? Ada berbagai kemudahan namun juga hal yang patut diwaspadai dengan hadirnya jagat medsos. Tapi kali ini saya ingin berfokus pada banjir informasi era medsos.

Topik ini mungkin kurang menarik dibandingkan dengan topik tentang fenomena orang-orang terdekat kita yang malah jauh dan yang jauh malah nampak dekat sejak adanya smartphone dan beragam media sosial. Atau juga teman atau saudara kita yang jadi lebih genit dan sedikit-sedikit selfie untuk update statusnya di medsos.

Yang pertama sudah pertama saya bahas bagaimana medsos bisa
mengancam hubungan suami istri jika tidak dijembatani komunikasi yang baik. Tentang sejauh mana narsis yang sehat dan yang harus mulai dibatasi belum saya bahas, mungkin nanti akan saya buat artikelnya.

Yup fokus dulu dengan banjir informasi!

Mengapa disebut banjir informasi? Apakah kondisi tersebut baik atau
malah buruk? Dan jika buruk apa yang harus dilakukan?

Saya masih ingat beberapa bulan silam di blog keroyokan yang paling rajin saya singgahi, ada anggota yang mempermasalahkan maraknya tulisan sampah. Hingga ia mulai enggan untuk berenang-renang di lautan sampah dan memilih menyingkir sementara di kawasan blog yang lebih bersih.

Lontaran anggota tersebut mendapat kecaman dari berbagai pihak. Kesal banget, sudah capek-capek menulis dibilang kualitas tulisan seperti sampah. Akan tetapi ada juga yang merendah dan menyebut artikelnya masih berkualitas sampah dan berdalih masih belajar.

Saya setuju dan tidak setuju dengan pernyataan anggota tersebut. Memang sejak jamannya citizen journalist yang bermunculan di Indonesia sejak adanya weblog pada tahun 2002 dan bermunculan blog keroyokan tahun 2008, semua orang merasa bebas berpendapat melalui media, baik melalui media digital seperti blog pribadi maupun blog keroyokan, melalui  video yang disebarkan via youtube, instagram, vmeo atau dikirim ke stasiun televisi, atau sekedar berkomentar atau memutakhirkan status di facebok,twitter, dan sebagainya. Ya, orang bisa mengeluarkan opini apa saja dan berbagai berita atau info. Setiap orang seolah-olah menjadi wartawan bagi dirinya dan
sekelilingnya dengan gaya ciri khas dia.

Yang kemudian kita lihat ada ratusan ribu jumlah blog pribadi di Indonesia, belum yang masuk blog keroyokan. Jumlah netizen di Indonesia menurut hasil penelitian APJII- Puskakom UI yang dirilis Maret 2015 mencapai 88,1 juta di Indonesia. Bisa dibayangkan seberapa ramainya jagat media sosial sudah seperti negara tersendiri saja. Jika setiap orang membagikan dua informasi saja tiap hari maka sudah ada 166 jutaan informasi perharinya. Benar-benar sedemikian derasnya arus informasi dari Indonesia saja.

Ini berbanding terbalik dengan kondisi 90-an dimana sumber informasi hanya dari televisi, radio, dan media cetak yang jumlahnya terbatas dan masih diawasi. Setelah era reformasi, ada lebih banyak media cetak dan semakin membludak sejak tahun 2002 dengan adanya pengaturan siaran televisi dan radio.

Setelah internet makin mudah diakses maka masyarakat Indonesia semakin melek informasi. Setelah adanya media sosial dan gadget yang mudah terkoneksi internet dan medsos maka mulailah era derasnya informasi. Uniknya saat ini malah situs berita mulai jarang dikunjungi seperti yang dikemukakan Danny Oey,pendiri Kaskus, saat bincang-bincang teknologi digital dan peluncuran Maybank Apps September silam, dimana netizen saat ini lebih suka mencari dan membagikan berita melalui forum diskusi dan medsos daripada datang langsung ke situs berita tersebut. Informasi juga lebih mudah disebar dan diketahui melalui medsos dibandingkan di televisi atau koran meskipun datanya belum tentu akurat. Ya jaman instan dimana kecepatan lebih utama daripada akurasi informasi/berita.

Banjir umumnya tidak hanya mengalirkan air tapi juga memindahkan sampah. Setelah banjir surut biasanya yang tersisa adalah tumpukan sampah. Demikian pula halnya dengan banjir informasi. Ada sampah-sampah yang ikut dalam aliran air tersebut. Ada yang menyebutnya tulisan sampah, artikel hoax, atau sekedar karangan bebas dimana fiksi dibuat seperti riil.

Penyebutan tulisan sampah dan artikel hoax atau mengada-ada sebaiknya dijadikan renungan. Sebenarnya mengapa ada artikel yang disebut sampah dan mana yang masuk tulisan sampah?

Blog walaupun blog keroyokan umumnya berupa opini, kesan-kesan dan pengalaman. Memang saat ini ada beberapa blogger yang diundang menghadiri suatu even dan memberitakan kegiatan tersebut dengan gaya tulisan yang biasanya berbeda dengan gaya wartawan pada umumnya.

Saat membaca blog pribadi atau keroyokan kita harus dapat memilah-milah mana opini dan mana yang bersifat nyata atau juga bisa disebut berita. Jika isi artikel tersebut adalah berita maka blogger tersebut ada di lokasi berita saat peristiwa tersebut. Ia akan menuturkan rangkaian peristiwa itu dengan standar jurnalistik dari apa peristiwa tersebut (what), siapa (who), kapan (when), dimana (where), mengapa (why) dan bagaimana (how). Azrul Ananda di sebuah pelatihan jurnalistik menambahkan unsur what’s next atau apa selanjutnya untuk berita yang bersifat kontinyu,misal kecelakaan pesawat atau berita tentang skandal freeport.

Mungkin ada unsur yang terlewat ketika blogger memberitakan suatu kegiatan atau peristiwa. Ini kadang bisa dimaklumi karena tidak semua blogger memahami kaidah penulisan jurnalistik dengan baik. Tapi yang paling penting saat ia menulis berita tersebut tidak mengada-ada, tidak bohong, dan jelas masa posisi berita yang obyektif dan mana yang masuk opini dia karena biasanya blogger menambahkan unsur opini dalam artikel yang seharusnya masuk berita.

Mengapa unsur kejujuran itu penting? Oleh karena berita bisa mempengaruhi opini pembaca akan suatu peristiwa. Di sebuah blog keroyokan pernah terjadi penulis artikel yang menyebutkan kasus kematian karena ibunya sedang sibuk menggunakan gadget. Ada juga kasus di twitter dimana penguggahnya mengumumkan penderitaan seseorang dan memerlukan sumbangan.

Apa yang terjadi? Setelah ditelusuri berita atau pengumuman tersebut hoax atau mengada-ada. Padahal berita tersebut sudah dibagikan dan dibaca sekian banyak orang. Hal ini juga tidak hanya terjadi di blog, melainkan pernah juga dilakukan oleh wartawan profesional di dalam dan luar negeri. Padahal wartawan tersebut seharusnya bertanggung jawab atas apa yang diberitakan. Hal mengada-ada tersebut jelar melanggar kode etik.

Di media sosial ada banyak berita hoax yang menjalar secara viral. Jika berita hoax itu mencemarkan suatu produk, institusi, atau nama baik seseorang tentu akan berdampak buruk pada produk/institusi/orang tersebut. Bagaimana jika perusahaan tersebut menjadi bangkrut? Bagaimana jika orang yang difitnah tersebut bunuh diri karena malu dan tak bisa membela diri?

Itulah contoh berita yang masuk tulisan sampah. Tulisan mengada-ada seakan-akan sesuatu peristiwa yang nyata. Saat ini ada banyak tulisan sampah terutama di medsos yang mungkin dibagikan kawan, tetangga, saudara melalui facebook, twitter, forum diskusi, atau whatsapp. Menurut saya Anda perlu menyaring informasi tersebut dan melakukan pengecekan ulang dari sumber berita dan berita lainnya yang membahas topik yang sama.

Opini juga bisa disebut tulisan sampah. Menurut hemat saya opini yang sebaiknya dihindari adalah opini yang dibuat seolah-olah berita. Padahal ternyata informasinya hanya dicomot dari berbagai situs berita dan kemudian diolah sedemikian rupa sesuai pandangan dia. Begitu juga dengan artikel yang mengambil referensi dari berita hoax dan gambar yang mengecohkan dengan tujuan mempengaruhi opini seseorang.

Opini menyesatkan ini umumnya digunakan untuk provokasi bertalian dengan isyu SARA. Entahlah saat ini sepertinya masyarakat yang melek medsos semakin mudah terpancing isyu SARA, padahal opini tersebut bisa jadi bukan berasal dari berita yang benar. Akibatnya bisa menyeramkan jika dibiarkan sedemikian rupa. Bisa benar-benar berkelahi di dunia nyata gara-gara pertentangan pendapat di medsos.

Sebenarnya saya kurang suka dengan istilah tulisan sampah karena semua tulisan tentu memerlukan usaha dan kesannya kurang menghargai tulisan para pemula. Namun untuk kasus-kasus tertentu saya setuju dengan tulisan sampah karena berita/opini yang hoax dan bersifat provokasi itu tidak baik dan bisa berdampak signifikan bagi suatu masyarakat dan negara. Lebih enak kan jika bangsa damai daripada terpecah belah.

Itulah yang saya rasakan selama satu dekade ini terhadap perkembangan teknologi dalam hal ini gadget yang makin mudah terkoneksi internet dan fenomena media sosial terhadap derasnya aliran informasi. Saya pernah terpancing emosi ketika membaca artikel yang ternyata mengada-ada. Sehingga saya sadar jika tulisan provokatif yang mengada-ada itu ternyata sangat berpengaruh pada emosi dan pandangan seseorang. Oleh karenanya saya berupa cek dan ricek terhadap berita besar atau opini seseorang karena tulisan sampah bisa membusukkan emosi dan pikiran seseorang.

Gambar cover dari sini

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 6, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: